Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase D SMP/MTs (Kelas VII, VIII, dan IX): Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, dan Strategi Pembelajaran Mendalam
A. Pendahuluan
1. Pendidikan ABS-SBK dan Jati Diri Generasi Minangkabau
Pendidikan Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) merupakan salah satu upaya penting untuk mewariskan nilai-nilai adat, budaya, dan kearifan lokal Minangkabau kepada generasi muda.
Falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah menegaskan hubungan antara adat Minangkabau dan ajaran Islam. Hubungan tersebut tercermin dalam ungkapan Syara' mangato, adat mamakai.
Pendidikan ABS-SBK tidak cukup dilaksanakan melalui kegiatan menghafal istilah adat, mengenal tokoh, atau menyebutkan nama tradisi. Pembelajaran perlu membantu peserta didik memahami makna, menjelaskan alasan, mengambil pelajaran, serta mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut semakin penting ketika peserta didik memasuki jenjang SMP/MTs. Pada masa ini, mereka mulai membangun identitas diri, memperluas pergaulan, mengembangkan pemikiran kritis, dan menghadapi pengaruh perubahan sosial serta perkembangan teknologi.
Karena itu, pembelajaran ABS-SBK perlu menjadi sarana penguatan jati diri yang terbuka terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai luhur Minangkabau.
2. Landasan Kurikulum
Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK di Kabupaten Tanah Datar berpedoman pada Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal.
Dalam lampiran peraturan tersebut, Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran ABS-SBK disusun berdasarkan empat elemen utama:
Sejarah Minangkabau.
Pemahaman Nilai Adat.
Aturan Masyarakat Minangkabau.
Adat Salingka Nagari.
Keempat elemen tersebut saling berkaitan dan menjadi dasar pengembangan pembelajaran pada setiap fase.
Pada jenjang SMP/MTs, peserta didik berada pada Fase D yang mencakup kelas VII, VIII, dan IX.
Apabila ABS-SBK dilaksanakan sebagai mata pelajaran tersendiri, alokasi pembelajaran pada jenjang SMP/MTs adalah 2 jam pelajaran setiap minggu sesuai ketentuan peraturan.
3. Karakteristik Peserta Didik Fase D
Peserta didik Fase D mulai mampu memahami konsep yang lebih kompleks, menganalisis hubungan sebab-akibat, membandingkan pandangan, dan memberikan alasan terhadap suatu pendapat.
Kemampuan tersebut perlu dimanfaatkan dalam pembelajaran ABS-SBK.
Sebagai contoh, ketika mempelajari sistem kekerabatan matrilineal, peserta didik tidak hanya menyebutkan pengertiannya, tetapi juga menganalisis manfaat dan tanggung jawab anggota keluarga.
Ketika mempelajari kelarasan, peserta didik tidak cukup menghafal nama-namanya, tetapi perlu memahami prinsip kepemimpinan, musyawarah, dan pengambilan keputusan.
Ketika mempelajari tambo, peserta didik perlu dilatih membedakan tradisi lisan, cerita asal-usul, dan keterangan sejarah yang didukung bukti.
Dengan demikian, pembelajaran ABS-SBK menjadi kegiatan yang mendorong pemahaman, penalaran, dan pembentukan karakter.
4. Arah Pembelajaran Fase D
Pembelajaran ABS-SBK Fase D diarahkan agar peserta didik mampu:
Memahami ranji keturunan dan tradisi tambo Minangkabau.
Menjelaskan keberagaman dan batas wilayah Minangkabau.
Mengenal serta mengapresiasi Rumah Gadang dan Rangkiang.
Memahami tata cara Batagak Rumah.
Menjelaskan makna alam dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Memahami nilai-nilai ABS-SBK dan Adat Nan Ampek.
Mengenal unsur kepemimpinan adat.
Memahami sistem kekerabatan dan kelarasan.
Mengenal aturan adat, termasuk Undang-Undang Nan Duo Puluah.
Mengapresiasi seni, sastra, pasambahan, ukiran, randai, karawitan, gamat, tari, dan silek tradisional.
5. Pendekatan Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran mendalam dilaksanakan berdasarkan tiga prinsip utama:
Berkesadaran, yaitu peserta didik memahami tujuan pembelajaran, mengetahui manfaat materi, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.
Bermakna, yaitu peserta didik mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata serta kehidupan keluarga dan masyarakat.
Menggembirakan, yaitu pembelajaran dilaksanakan dalam suasana aman, menantang, menyenangkan, dan menghargai keberagaman kemampuan peserta didik.
Ketiga prinsip tersebut diwujudkan melalui pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
B. Capaian Pembelajaran (CP) Muatan Lokal ABS-SBK Fase D
1. Pengertian Capaian Pembelajaran
Capaian Pembelajaran merupakan kompetensi yang diharapkan dimiliki peserta didik pada akhir suatu fase.
CP menjadi dasar bagi guru dalam mengembangkan tujuan pembelajaran, alur pembelajaran, kegiatan, bahan ajar, dan asesmen.
Capaian Pembelajaran Fase D tercantum dalam Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.
Berikut disajikan ruang lingkup CP berdasarkan empat elemen, disertai penjelasan untuk membantu penerapannya di sekolah.
2. Elemen Sejarah Minangkabau
Materi resmi:
Keberagaman wilayah Minangkabau seperti koto, taratak, nagari, Rumah Gadang, dan ranji keturunan.
Ruang lingkup CP:
Peserta didik diharapkan mampu memahami keberadaan dan keberagaman wilayah Minangkabau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, menjelaskan makna alam, menghargai batas wilayah, dan menjelaskan batas-batas wilayah Minangkabau.
Peserta didik juga diharapkan memahami ranji keturunan dan mampu membuat ranji, memahami tata cara Batagak Rumah, mendeskripsikan Rangkiang, serta mengenal dan mengapresiasi Rumah Gadang.
Selain itu, peserta didik diharapkan menunjukkan tanggung jawab dan kepedulian terhadap keberadaan Tambo Alam Minangkabau.
Penjelasan:
Elemen ini tidak hanya membahas sejarah sebagai peristiwa masa lalu, tetapi juga hubungan masyarakat Minangkabau dengan wilayah, alam, permukiman, bangunan tradisional, dan sistem keturunan.
Materi ranji membantu peserta didik memahami hubungan keluarga dalam sistem matrilineal.
Materi tambo memperkenalkan tradisi penuturan asal-usul masyarakat Minangkabau. Guru perlu membedakan isi tambo sebagai warisan budaya dengan informasi sejarah yang telah diverifikasi.
Materi wilayah Minangkabau membantu peserta didik mengenal keragaman daerah, baik darek maupun rantau, tanpa menyederhanakan batas budaya menjadi batas administratif modern.
Materi Rumah Gadang dan Rangkiang memberikan pemahaman tentang arsitektur tradisional, fungsi bangunan, serta nilai kebersamaan dan pengelolaan kehidupan keluarga.
Contoh pengembangan kegiatan:
Membuat ranji keluarga rekaan.
Mengkaji cerita tambo.
Membuat peta wilayah budaya Minangkabau.
Mengamati bagian Rumah Gadang.
Membandingkan fungsi beberapa jenis Rangkiang berdasarkan sumber adat.
Menyusun laporan pengamatan Batagak Rumah.
Membuat poster pelestarian bangunan tradisional.
3. Elemen Pemahaman Nilai Adat
Materi resmi:
Kepemimpinan, Urang Ampek Jinih, Adat Salingka Nagari, dan ABS-SBK.
Ruang lingkup CP:
Peserta didik diharapkan mampu menjelaskan perilaku menghargai, jujur, dan disiplin dalam pelaksanaan Adat Nan Sabana Adat, Adat Nan Taradat, Adat Nan Diadatkan, dan Adat Istiadat.
Peserta didik juga diharapkan menerima, menanggapi, dan menghargai keragaman serta keunikan ABS-SBK sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selain itu, peserta didik mempelajari fungsi niniak mamak, cadiak pandai, bundo kanduang, alim ulama, dan parik paga, serta menunjukkan tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, dan sikap menghargai dalam kehidupan beradat.
Penjelasan:
Pembelajaran diarahkan pada pemahaman hubungan antara nilai adat, kepemimpinan, dan perilaku sehari-hari.
Peserta didik perlu memahami bahwa kepemimpinan adat bukan hanya berkaitan dengan kedudukan, melainkan juga amanah, tanggung jawab, keteladanan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pembahasan unsur kepemimpinan hendaknya disesuaikan dengan istilah dan kedudukan yang berlaku menurut sumber adat setempat.
Contoh pengembangan kegiatan:
Membuat peta konsep Adat Nan Ampek.
Menganalisis contoh perilaku jujur dan tidak jujur.
Mengidentifikasi peranan unsur kepemimpinan.
Melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat.
Mendiskusikan persoalan kepemimpinan melalui studi kasus.
Menyusun kode etik sederhana bagi pengurus kelas.
4. Elemen Aturan Masyarakat Minangkabau
Materi resmi:
Sistem kekerabatan dan kelarasan.
Ruang lingkup CP:
Peserta didik diharapkan mengenal sistem kekerabatan Minangkabau, menjelaskan manfaat kekerabatan yang khas, dan memahami unsur kepemimpinan.
Peserta didik juga diharapkan menghargai perilaku jujur, disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, dan toleran dalam kehidupan kekerabatan serta kepemimpinan adat.
Selain itu, peserta didik mempelajari sistem kelarasan di Minangkabau dan mengembangkan sikap tanggung jawab terhadap perbedaan yang terdapat di dalamnya.
Penjelasan:
Sistem kekerabatan Minangkabau merupakan salah satu ciri penting kehidupan masyarakat.
Pembelajaran perlu menjelaskan hubungan antara garis keturunan matrilineal, kedudukan mamak dan kamanakan, tanggung jawab keluarga, serta musyawarah kaum.
Sementara itu, pembelajaran kelarasan diarahkan pada pengenalan sistem kepemimpinan dan tata pengambilan keputusan dalam tradisi adat.
Guru perlu menjelaskan perbedaan antara prinsip adat dan pelaksanaan pemerintahan modern.
Contoh pengembangan kegiatan:
Menyusun bagan kekerabatan.
Mengkaji kasus musyawarah kaum.
Membandingkan prinsip kepemimpinan kelarasan.
Bermain peran sebagai peserta musyawarah.
Menyusun kesepakatan kelas berdasarkan prinsip musyawarah.
Membuat refleksi tentang tanggung jawab seorang pemimpin.
5. Elemen Adat Salingka Nagari
Materi resmi:
Permainan Anak Nagari, Seni Pertunjukan, Pasambahan, Peribahasa, Silat, dan Ukiran.
Ruang lingkup CP:
Peserta didik diharapkan mengenal motif dan makna ukiran Rumah Gadang, mendeskripsikan karawitan dan randai, mengenal seni gamat, serta mendeskripsikan pencak silat sebagai bagian dari tradisi masyarakat Minangkabau.
Peserta didik juga diharapkan mampu mengklasifikasikan aneka tari rakyat, mengenali jenis karya sastra Minangkabau, memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta menunjukkan sikap peduli dan santun dalam penyampaian pidato adat dan alua pasambahan.
Penjelasan:
Elemen ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal kekayaan ekspresi budaya masyarakat Minangkabau.
Pembelajaran dapat dilaksanakan melalui pengamatan, kajian makna, latihan keterampilan sederhana, serta apresiasi pertunjukan.
Pada materi silek, guru perlu mengutamakan keselamatan dan menekankan nilai pengendalian diri, kedisiplinan, penghormatan, serta tanggung jawab.
Pada materi pasambahan, peserta didik dilatih memahami struktur, tujuan, dan kesantunan bahasa adat.
Contoh pengembangan kegiatan:
Mengidentifikasi motif ukiran.
Membuat katalog seni tradisional.
Mengamati pertunjukan randai.
Menganalisis pantun dan peribahasa.
Mempraktikkan pembukaan pasambahan sederhana.
Menyusun laporan pengamatan seni gamat.
Mengelompokkan tari rakyat berdasarkan ciri pertunjukannya.
6. Hubungan Keempat Elemen
Keempat elemen CP Fase D saling berkaitan.
Sebagai contoh, pembelajaran Rumah Gadang dapat dihubungkan dengan sistem kekerabatan, peranan kaum, kepemimpinan adat, motif ukiran, serta nilai kebersamaan.
Pembelajaran kelarasan dapat dihubungkan dengan nilai musyawarah, tanggung jawab, dan sikap menghargai perbedaan.
Pembelajaran pasambahan dapat dihubungkan dengan keterampilan berbicara santun, penghormatan kepada orang lain, serta pemahaman aturan adat.
Pendekatan terpadu membantu peserta didik memahami bahwa adat Minangkabau merupakan sistem nilai yang saling berhubungan.
C. Tujuan Pembelajaran (TP) Muatan Lokal ABS-SBK Fase D
1. Kedudukan Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran merupakan rumusan kemampuan yang dikembangkan berdasarkan Capaian Pembelajaran.
Dalam Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, tujuan pembelajaran Fase D mencakup materi sejarah untuk kelas VII, VIII, dan IX, serta tujuan pada elemen-elemen lainnya.
Penyajian berikut mempertahankan pembagian yang tampak dalam dokumen rujukan. Pengelompokan kegiatan per kelas di luar rumusan resmi merupakan contoh pengembangan guru.
2. Tujuan Pembelajaran Sejarah Minangkabau Kelas VII
Rumusan TP resmi:
Murid memahami ranji dan mampu membuat ranji keturunan di Minangkabau.
Murid menjelaskan perilaku tanggung jawab dan peduli terhadap keberadan tambo alam Minangkabau.
Arah pembelajaran:
Peserta didik memahami pengertian ranji, hubungan kekerabatan, serta prinsip dasar penyusunan bagan keturunan.
Peserta didik juga mempelajari tambo sebagai salah satu warisan budaya Minangkabau yang perlu dipelihara dan dikaji secara bertanggung jawab.
Contoh kegiatan: membuat ranji keluarga rekaan dan menyusun laporan singkat tentang pentingnya pelestarian tambo.
3. Tujuan Pembelajaran Sejarah Minangkabau Kelas VIII
Rumusan TP resmi:
Murid menjelaskan batas-batas Wilayah Minangkabau.
Murid mengenal, memahami, dan mengapresiasi Rumah Gadang dan Rangkiang Minangkabau.
Murid memahami tata cara batagak rumah di Minangkabau.
Arah pembelajaran:
Peserta didik mempelajari wilayah budaya Minangkabau, bentuk dan fungsi Rumah Gadang serta Rangkiang, dan tahapan umum Batagak Rumah.
Contoh kegiatan: membuat peta wilayah, model sederhana Rumah Gadang, dan bagan tata cara Batagak Rumah berdasarkan sumber yang digunakan.
4. Tujuan Pembelajaran Sejarah Minangkabau Kelas IX
Rumusan TP resmi:
Murid menjelaskan makna alam bagi orang Minangkabau.
Murid memahami keberadaan dan keberagaman Wilayah Minangkabau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Arah pembelajaran:
Peserta didik memahami ungkapan Alam takambang jadi guru dan menghubungkannya dengan pengamatan alam, pengalaman hidup, serta pembentukan nilai.
Peserta didik juga mengembangkan sikap menghargai keragaman lingkungan dan masyarakat.
Contoh kegiatan: melakukan pengamatan lingkungan dan menulis refleksi tentang pelajaran yang dapat diambil dari alam.
5. Tujuan Pembelajaran Elemen Pemahaman Nilai Adat
Rumusan TP dalam dokumen:
Murid menerima, menanggapi dan menghargai keragaman dan keunikan ABS-SBK sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Murid menjelaskan manfaat kekerabatan adat khas syarak, basandi syarak, basandi kitabullah sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Murid menjelaskan sikap yang menghargai, jujur, disiplin, melalui aktivitas di dalam pelaksanaan adat nan sabana adat, adat nan taradat, adat nan di adatkan, dan adat istiadat.
Arah pembelajaran:
Peserta didik memahami hubungan antara nilai ABS-SBK, Adat Nan Ampek, dan pembentukan perilaku.
Pembelajaran dapat dikembangkan melalui studi kasus tentang kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan penghormatan kepada orang lain.
6. Tujuan Pembelajaran Elemen Aturan Masyarakat Minangkabau
Rumusan TP dalam dokumen:
Murid memahami undang-undang nan duo puluah di Minangkabau.
Murid menjelaskan manfaat kekerabatan yang khas bagi kehidupan masyarakat di Minangkabau.
Arah pembelajaran:
Peserta didik mempelajari Undang-Undang Nan Duo Puluah sebagai bagian dari aturan adat dan memahami manfaat sistem kekerabatan dalam kehidupan masyarakat.
Guru dapat menggunakan contoh persoalan sosial yang sesuai usia, kemudian mengajak peserta didik menganalisis nilai tanggung jawab, keadilan, dan musyawarah.
7. Tujuan Pembelajaran Elemen Adat Salingka Nagari
Rumusan TP dalam dokumen:
Murid memahami dan menghayati perilaku peduli dan santun dalam menyampaikan pidato adat dan alua pasambahan.
Murid mengenal contoh motif dan makna dari motif ukiran rumah gadang di Minangkabau.
Murid mendeskripsikan randai tradisional Minangkabau.
Murid mendeskripsikan seni gamat sebagai permainan anak nagari di Minangkabau.
Murid mengenali jenis-jenis karya sastra Minangkabau.
Murid mengenal nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra Minangkabau.
Murid mendeskripsikan Karawitan di Minangkabau.
Murid mendeskripsikan pencak silat sebagai permainan anak nagari Minangkabau.
Murid mengklasifikasikan aneka tari-tarian rakyat sebagai permainan nagari.
Arah pembelajaran:
Peserta didik diarahkan untuk memahami, mengapresiasi, dan menjelaskan berbagai bentuk kesenian tradisional.
Kegiatan pembelajaran dapat mencakup pengamatan pertunjukan, analisis karya sastra, latihan berbicara santun, serta proyek dokumentasi budaya.
8. Contoh Pemetaan Materi Pembelajaran
Tabel berikut merupakan contoh pengembangan distribusi materi oleh guru, bukan pembagian resmi seluruh TP menurut kelas.
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Elemen | Kelas VII | Kelas VIII | Kelas IX |
|---|---|---|---|
| Sejarah Minangkabau | Ranji dan tambo | Wilayah, Rumah Gadang, Rangkiang, Batagak Rumah | Makna alam dan keragaman wilayah |
| Pemahaman Nilai Adat | Pengenalan ABS-SBK dan Adat Nan Ampek | Perilaku beradat dan unsur kepemimpinan | Analisis penerapan nilai adat |
| Aturan Masyarakat | Dasar sistem kekerabatan | Kelarasan dan kepemimpinan | Undang-Undang Nan Duo Puluah dan studi kasus |
| Adat Salingka Nagari | Ukiran, sastra, dan peribahasa | Randai, gamat, karawitan, dan tari | Pasambahan, silek, dan proyek pelestarian |
Pemetaan tersebut dapat disesuaikan dalam ATP sekolah dengan tetap memastikan seluruh tujuan pembelajaran tercakup.
D. Strategi Pembelajaran Mendalam ABS-SBK Fase D
1. Strategi Umum
Pembelajaran mendalam Fase D sebaiknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyelidiki, membandingkan, menganalisis, menghasilkan karya, dan melakukan refleksi.
Guru dapat memanfaatkan strategi:
Pembelajaran berbasis inkuiri.
Pembelajaran berbasis masalah.
Pembelajaran berbasis proyek.
Diskusi dan debat terarah.
Studi kasus kehidupan masyarakat.
Wawancara narasumber.
Observasi lingkungan.
Pembelajaran kolaboratif.
Presentasi dan pameran karya.
Pemilihan strategi perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kondisi sekolah.
2. Strategi Kelas VII — Menelusuri Ranji Keturunan
Elemen: Sejarah Minangkabau.
Tujuan: Memahami dan membuat ranji keturunan.
Pertanyaan pemantik: Mengapa masyarakat Minangkabau perlu memahami hubungan kekerabatannya?
Kegiatan memahami:
Guru memperkenalkan pengertian ranji dan memperlihatkan bagan keluarga rekaan.
Peserta didik mengidentifikasi hubungan antartokoh dan prinsip garis keturunan melalui ibu.
Kegiatan mengaplikasi:
Kelompok menyusun ranji dari data keluarga rekaan.
Setiap kelompok menjelaskan hubungan kekerabatan yang terdapat dalam bagan.
Kegiatan merefleksi:
Peserta didik menuliskan manfaat memahami hubungan keluarga serta pentingnya menghormati seluruh anggota keluarga.
Asesmen: ketepatan bagan, penjelasan, dan kerja sama.
3. Strategi Kelas VII — Membaca Tambo secara Kritis
Elemen: Sejarah Minangkabau.
Tujuan: Menunjukkan tanggung jawab dan kepedulian terhadap tambo.
Pertanyaan pemantik: Apakah semua cerita asal-usul dalam tambo dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah?
Kegiatan memahami:
Peserta didik membaca kutipan tambo yang dipilih guru.
Guru menjelaskan kedudukan tambo sebagai tradisi penuturan dan warisan budaya.
Kegiatan mengaplikasi:
Kelompok mengidentifikasi tokoh, tempat, pesan, dan bagian cerita yang memerlukan pemeriksaan sumber.
Peserta didik menyusun kartu informasi.
Kegiatan merefleksi:
Peserta didik menyimpulkan pentingnya menghargai tradisi sekaligus bersikap kritis terhadap informasi.
Asesmen: hasil analisis bacaan dan refleksi.
4. Strategi Kelas VIII — Menelusuri Wilayah Minangkabau
Elemen: Sejarah Minangkabau.
Tujuan: Menjelaskan batas-batas wilayah Minangkabau.
Kegiatan:
Mengamati peta wilayah Sumatera Barat dan daerah yang memiliki hubungan sejarah serta budaya Minangkabau.
Membaca sumber tentang wilayah darek dan rantau.
Mengidentifikasi perbedaan wilayah budaya dan wilayah administrasi.
Membuat peta konsep.
Menyampaikan hasil pengamatan.
Merefleksikan pentingnya menghargai keberagaman daerah.
Asesmen: peta konsep dan penjelasan lisan.
5. Strategi Kelas VIII — Mengkaji Rumah Gadang dan Rangkiang
Elemen: Sejarah Minangkabau.
Tujuan: Mengenal, memahami, dan mengapresiasi Rumah Gadang serta Rangkiang.
Kegiatan:
Mengamati foto atau bangunan Rumah Gadang.
Mengidentifikasi bagian bangunan.
Membahas fungsi ruang dan hubungannya dengan kehidupan keluarga.
Mengamati jenis dan fungsi Rangkiang berdasarkan referensi.
Menyusun poster atau model sederhana.
Menjelaskan nilai yang terkandung dalam arsitektur tradisional.
Asesmen: laporan pengamatan dan produk kelompok.
6. Strategi Kelas IX — Alam Takambang Jadi Guru
Elemen: Sejarah Minangkabau.
Tujuan: Menjelaskan makna alam bagi orang Minangkabau.
Kegiatan:
Guru memperkenalkan ungkapan Alam takambang jadi guru.
Peserta didik mengamati fenomena alam atau lingkungan sekitar.
Kelompok mendiskusikan pelajaran yang dapat diperoleh.
Peserta didik menulis esai pendek.
Kelompok menyampaikan hasil.
Guru menghubungkan hasil pengamatan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Asesmen: esai dan refleksi.
7. Strategi Lintas Kelas — Musyawarah dan Kepemimpinan Adat
Elemen: Pemahaman Nilai Adat dan Aturan Masyarakat Minangkabau.
Kegiatan:
Guru menyampaikan studi kasus tentang persoalan bersama.
Peserta didik mengidentifikasi pihak yang terlibat.
Kelompok membahas prinsip musyawarah.
Peserta didik bermain peran.
Kelompok menyusun keputusan beserta alasannya.
Guru memberikan penguatan tentang tanggung jawab pemimpin.
Asesmen: argumentasi, kesantunan, dan partisipasi.
8. Strategi Lintas Kelas — Mengapresiasi Seni Tradisional
Elemen: Adat Salingka Nagari.
Kegiatan:
Mengamati dokumentasi seni tradisional.
Mengidentifikasi unsur pertunjukan.
Membaca informasi sejarah dan fungsi sosialnya.
Membuat katalog atau ulasan.
Mempresentasikan hasil.
Menuliskan refleksi tentang pentingnya pelestarian.
Asesmen: katalog, presentasi, dan refleksi.
E. Contoh Aktivitas dan Lembar Kerja Peserta Didik
1. Contoh Aktivitas Kelas VII
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Materi | Aktivitas | Produk |
|---|---|---|
| Ranji keturunan | Menyusun bagan keluarga rekaan | Ranji |
| Tambo | Mengidentifikasi isi dan nilai cerita | Kartu informasi |
| ABS-SBK | Menganalisis perilaku sehari-hari | Laporan diskusi |
| Adat Nan Ampek | Membuat peta konsep | Peta konsep |
| Sastra tradisional | Menafsirkan pantun dan peribahasa | Ulasan singkat |
2. Contoh Aktivitas Kelas VIII
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Materi | Aktivitas | Produk |
|---|---|---|
| Wilayah Minangkabau | Mengamati dan membandingkan peta | Peta konsep |
| Rumah Gadang | Mengidentifikasi bagian dan fungsi | Poster |
| Rangkiang | Membandingkan fungsi bangunan | Tabel |
| Batagak Rumah | Mengamati dokumentasi adat | Bagan kegiatan |
| Randai dan karawitan | Mengulas pertunjukan | Laporan apresiasi |
3. Contoh Aktivitas Kelas IX
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Materi | Aktivitas | Produk |
|---|---|---|
| Alam takambang jadi guru | Mengamati lingkungan | Esai reflektif |
| Keberagaman wilayah | Diskusi dan analisis sumber | Infografik |
| Undang-Undang Nan Duo Puluah | Studi kasus | Laporan analisis |
| Pasambahan | Mengkaji struktur dan kesantunan | Praktik sederhana |
| Seni tradisional | Proyek dokumentasi budaya | Portofolio |
4. LKPD Kelas VII — Membuat Ranji Keturunan
Tujuan: Peserta didik memahami ranji dan mampu menyusun bagan kekerabatan.
Petunjuk:
Guru menyediakan cerita keluarga rekaan yang terdiri atas beberapa generasi.
Peserta didik membaca cerita, kemudian mengerjakan tugas berikut:
Identifikasi tokoh dalam cerita.
Tentukan hubungan antartokoh.
Susun ranji keturunan.
Tandai hubungan menurut garis ibu.
Jelaskan manfaat memahami ranji keturunan.
Refleksi: Mengapa hubungan kekerabatan perlu dijaga dengan baik?
5. LKPD Kelas VIII — Rumah Gadang dan Rangkiang
Tujuan: Peserta didik memahami fungsi Rumah Gadang dan Rangkiang.
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Pertanyaan | Jawaban |
|---|---|
| Apa fungsi Rumah Gadang? | ... |
| Apa yang dimaksud dengan Rangkiang? | ... |
| Apa hubungan bangunan tradisional dengan kehidupan keluarga? | ... |
| Nilai apa yang dapat dipelajari? | ... |
| Bagaimana cara melestarikannya? | ... |
Tugas: Buatlah poster tentang salah satu bangunan tradisional Minangkabau.
6. LKPD Kelas IX — Alam Takambang Jadi Guru
Tujuan: Peserta didik menjelaskan makna alam sebagai sumber pembelajaran.
Petunjuk:
Amatilah salah satu fenomena alam atau lingkungan sekitar.
Jawablah pertanyaan berikut:
Fenomena apa yang kamu amati?
Bagaimana proses atau keadaan yang terlihat?
Pelajaran apa yang dapat diambil?
Bagaimana pelajaran tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan?
Apa hubungan kegiatan ini dengan ungkapan Alam takambang jadi guru?
Tugas akhir: Tulis esai reflektif sebanyak tiga sampai lima paragraf.
7. LKPD Lintas Kelas — Mengenal Nilai Pasambahan
Tujuan: Peserta didik memahami kesantunan dalam penyampaian pasambahan.
Petunjuk:
Amati contoh pasambahan yang dipilih guru.
Identifikasi tujuan, pihak yang berbicara, pilihan kata, serta nilai kesantunan yang terkandung di dalamnya.
Kemudian tulislah kesimpulan tentang pentingnya berbicara dengan hormat dalam kehidupan bermasyarakat.
F. Asesmen Pembelajaran ABS-SBK Fase D
1. Prinsip Asesmen
Asesmen dilaksanakan untuk memperoleh informasi tentang perkembangan belajar peserta didik.
Dalam pembelajaran ABS-SBK, asesmen perlu mengukur pengetahuan, keterampilan, kemampuan bernalar, dan perilaku yang dapat diamati.
Asesmen tidak sebaiknya hanya menuntut peserta didik menghafal istilah adat.
2. Asesmen Awal
Guru dapat menggunakan pertanyaan pemantik untuk mengetahui kesiapan peserta didik.
Contoh kelas VII:
Apa yang dimaksud dengan ranji?
Apa yang kamu ketahui tentang tambo?
Mengapa hubungan keluarga perlu dijaga?
Contoh kelas VIII:
Apa fungsi Rumah Gadang?
Apa yang kamu ketahui tentang Rangkiang?
Apa perbedaan wilayah budaya dengan wilayah administrasi?
Contoh kelas IX:
Apa makna ungkapan Alam takambang jadi guru?
Mengapa masyarakat perlu memiliki aturan?
Apa manfaat melestarikan seni tradisional?
3. Asesmen Formatif
Asesmen formatif dapat dilakukan melalui pengamatan diskusi, pemeriksaan LKPD, umpan balik proyek, kuis singkat, dan refleksi.
Guru menggunakan hasil asesmen untuk memperbaiki proses pembelajaran.
4. Asesmen Sumatif
Asesmen sumatif dapat berupa:
Tes tertulis.
Presentasi.
Proyek.
Portofolio.
Laporan observasi.
Analisis studi kasus.
Penampilan keterampilan sederhana.
Pemilihan bentuk asesmen perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
5. Contoh Rubrik Proyek
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Aspek | 4 — Sangat Baik | 3 — Baik | 2 — Cukup | 1 — Perlu Bimbingan |
|---|---|---|---|---|
| Ketepatan informasi | Akurat dan lengkap | Akurat, sedikit kekurangan | Sebagian tepat | Banyak kekeliruan |
| Kedalaman pemahaman | Menjelaskan makna dan alasan | Menjelaskan makna | Penjelasan terbatas | Belum memahami |
| Penyajian | Runtut dan menarik | Runtut | Kurang runtut | Belum terstruktur |
| Kerja sama | Aktif dan menghargai anggota | Bekerja sama baik | Kadang memerlukan arahan | Sering memerlukan bantuan |
6. Contoh Rubrik Diskusi dan Musyawarah
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Indikator | 4 | 3 | 2 | 1 |
|---|---|---|---|---|
| Argumentasi | Pendapat jelas dan beralasan | Pendapat jelas | Alasan terbatas | Belum mampu menjelaskan |
| Kesantunan | Selalu santun | Umumnya santun | Kadang perlu diingatkan | Memerlukan pendampingan |
| Menghargai pendapat | Selalu mendengarkan | Umumnya mendengarkan | Kadang memotong | Sering memotong |
| Tanggung jawab | Menyelesaikan tugas dengan baik | Tugas selesai | Tugas sebagian selesai | Memerlukan bantuan |
7. Refleksi Peserta Didik
Peserta didik dapat melengkapi pernyataan berikut:
Pengetahuan baru yang saya peroleh adalah ....
Nilai adat yang paling bermakna bagi saya adalah ....
Hal yang masih perlu saya pelajari adalah ....
Sikap yang ingin saya perbaiki adalah ....
Bentuk kontribusi saya untuk melestarikan budaya adalah ....
8. Tindak Lanjut
Peserta didik yang belum mencapai tujuan diberikan bimbingan dan kegiatan penguatan.
Peserta didik yang sudah mencapai tujuan dapat diberikan pengayaan melalui kajian sumber tambahan, proyek budaya, atau presentasi.
Asesmen digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan membantu perkembangan setiap peserta didik.
G. Contoh Perencanaan Pembelajaran Mingguan
1. Prinsip Perencanaan
Perencanaan pembelajaran disusun berdasarkan CP, TP, karakteristik peserta didik, dan alokasi waktu.
Tabel berikut merupakan contoh rancangan 12 minggu awal, bukan keseluruhan ATP atau program tahunan.
Pemetaan materi selain sejarah merupakan contoh pengembangan guru yang perlu disesuaikan dengan perangkat resmi sekolah.
2. Contoh Rencana Kelas VII
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Minggu | Materi | Kegiatan | Asesmen |
|---|---|---|---|
| 1 | Pengenalan ABS-SBK Fase D | Diskusi dan asesmen awal | Tanya jawab |
| 2 | Pengertian ranji | Mengamati bagan | LKPD |
| 3 | Ranji keturunan | Menyusun bagan | Proyek |
| 4 | Pengenalan tambo | Membaca sumber | Catatan |
| 5 | Nilai dalam tambo | Diskusi kritis | Presentasi |
| 6 | Falsafah ABS-SBK | Studi kasus | LKPD |
| 7 | Adat Nan Ampek | Peta konsep | Produk |
| 8 | Sistem kekerabatan | Analisis cerita | Diskusi |
| 9 | Kepemimpinan adat | Mengidentifikasi peranan | Bagan |
| 10 | Pantun dan peribahasa | Mengkaji makna | Ulasan |
| 11 | Motif ukiran | Mengamati karya | Katalog |
| 12 | Penguatan materi | Pameran karya | Portofolio |
3. Contoh Rencana Kelas VIII
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Minggu | Materi | Kegiatan | Asesmen |
|---|---|---|---|
| 1 | Pengenalan materi | Asesmen awal | Tanya jawab |
| 2 | Wilayah Minangkabau | Pengamatan peta | LKPD |
| 3 | Darek dan rantau | Diskusi sumber | Peta konsep |
| 4 | Rumah Gadang | Mengamati arsitektur | Laporan |
| 5 | Rangkiang | Tabel perbandingan | LKPD |
| 6 | Batagak Rumah | Mengkaji dokumentasi | Bagan |
| 7 | Nilai kepemimpinan | Studi kasus | Diskusi |
| 8 | Sistem kelarasan | Membandingkan konsep | Tabel |
| 9 | Randai | Mengamati pertunjukan | Ulasan |
| 10 | Karawitan | Mengidentifikasi unsur musik | LKPD |
| 11 | Tari tradisional | Klasifikasi tari | Katalog |
| 12 | Penguatan | Presentasi kelompok | Portofolio |
4. Contoh Rencana Kelas IX
Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom pada layar HP.
| Minggu | Materi | Kegiatan | Asesmen |
|---|---|---|---|
| 1 | Pengenalan materi | Asesmen awal | Tanya jawab |
| 2 | Alam takambang jadi guru | Diskusi ungkapan | Refleksi |
| 3 | Alam sebagai sumber belajar | Observasi | Laporan |
| 4 | Keragaman wilayah | Analisis sumber | Infografik |
| 5 | Nilai ABS-SBK | Studi kasus | LKPD |
| 6 | Tanggung jawab pemimpin | Diskusi | Presentasi |
| 7 | Undang-Undang Nan Duo Puluah | Kajian materi | Peta konsep |
| 8 | Aturan dan kehidupan masyarakat | Analisis kasus | Laporan |
| 9 | Pidato adat | Pengamatan | LKPD |
| 10 | Alua pasambahan | Latihan sederhana | Praktik |
| 11 | Silek dan seni tradisional | Kajian nilai | Ulasan |
| 12 | Proyek pelestarian | Pameran karya | Portofolio |
5. Pengembangan ATP
Guru perlu mengembangkan rancangan mingguan tersebut menjadi ATP yang mencakup seluruh TP.
ATP hendaknya mempertimbangkan kesinambungan antarkelas, ketersediaan sumber belajar, dan kondisi masyarakat nagari.
Perencanaan perlu memberikan ruang untuk penguatan, asesmen, refleksi, dan tindak lanjut.
H. Contoh Modul Ajar ABS-SBK Fase D
Modul Ajar 1 — Kelas VII
Judul: Memahami dan Membuat Ranji Keturunan Minangkabau.
Satuan pendidikan: SMP/MTs.
Fase/Kelas: D/VII.
Elemen: Sejarah Minangkabau.
Alokasi waktu: 2 JP.
Tujuan Pembelajaran resmi: Murid memahami ranji dan mampu membuat ranji keturunan di Minangkabau.
1. Tujuan Kegiatan
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
Menjelaskan pengertian ranji.
Mengidentifikasi hubungan kekerabatan.
Membuat ranji berdasarkan keluarga rekaan.
Menjelaskan manfaat memahami ranji.
Menunjukkan sikap menghargai anggota kelompok.
2. Materi Pokok
Pengertian ranji.
Hubungan kekerabatan.
Prinsip matrilineal.
Penyusunan ranji.
Nilai tanggung jawab dalam keluarga.
Pengertian ranji.
Hubungan kekerabatan.
Prinsip matrilineal.
Penyusunan ranji.
Nilai tanggung jawab dalam keluarga.
3. Media
Bagan keluarga, kartu tokoh, LKPD, kertas gambar, dan sumber belajar yang sesuai.
4. Pertanyaan Pemantik
Apa manfaat mengetahui hubungan kekerabatan?
Mengapa garis keturunan ibu penting dalam sistem adat Minangkabau?
Bagaimana cara menggambarkan hubungan keluarga dalam sebuah bagan?
Apa manfaat mengetahui hubungan kekerabatan?
Mengapa garis keturunan ibu penting dalam sistem adat Minangkabau?
Bagaimana cara menggambarkan hubungan keluarga dalam sebuah bagan?
5. Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan:
Guru membuka pembelajaran, menyampaikan tujuan, dan mengajukan pertanyaan pemantik.
Memahami:
Peserta didik mengamati contoh ranji dan mengidentifikasi hubungan antartokoh.
Mengaplikasi:
Kelompok menerima data keluarga rekaan, menyusun ranji, dan menjelaskan hasilnya.
Merefleksi:
Peserta didik menyampaikan manfaat memahami hubungan kekerabatan.
Penutup:
Guru memberikan penguatan dan menyimpulkan pembelajaran.
6. Asesmen
Asesmen awal: tanya jawab.
Asesmen formatif: pengamatan proses penyusunan ranji.
Asesmen akhir: penilaian bagan dan penjelasan peserta didik.
Asesmen awal: tanya jawab.
Asesmen formatif: pengamatan proses penyusunan ranji.
Asesmen akhir: penilaian bagan dan penjelasan peserta didik.
7. Tindak Lanjut
Peserta didik yang memerlukan bimbingan diberikan contoh bagan yang lebih sederhana.
Peserta didik yang telah memahami materi dapat mengembangkan ranji rekaan dengan jumlah generasi lebih banyak.
Modul Ajar 2 — Kelas VIII
Judul: Mengenal Rumah Gadang dan Rangkiang Minangkabau.
Satuan pendidikan: SMP/MTs.
Fase/Kelas: D/VIII.
Elemen: Sejarah Minangkabau.
Alokasi waktu: 2 JP.
Tujuan Pembelajaran resmi: Murid mengenal, memahami, dan mengapresiasi Rumah Gadang dan Rangkiang Minangkabau.
1. Tujuan Kegiatan
Peserta didik diharapkan mampu:
Mengidentifikasi ciri Rumah Gadang.
Menjelaskan fungsi Rumah Gadang.
Menjelaskan pengertian Rangkiang.
Mengidentifikasi fungsi Rangkiang berdasarkan sumber yang dipelajari.
Menunjukkan penghargaan terhadap arsitektur tradisional.
2. Materi Pokok
Ciri arsitektur Rumah Gadang.
Fungsi sosial Rumah Gadang.
Pengertian dan fungsi Rangkiang.
Nilai kebersamaan dan tanggung jawab.
Pelestarian bangunan tradisional.
Ciri arsitektur Rumah Gadang.
Fungsi sosial Rumah Gadang.
Pengertian dan fungsi Rangkiang.
Nilai kebersamaan dan tanggung jawab.
Pelestarian bangunan tradisional.
3. Media
Foto Rumah Gadang, gambar Rangkiang, video pendek, LKPD, dan kertas poster.
4. Pertanyaan Pemantik
Mengapa Rumah Gadang mempunyai bentuk yang khas?
Apa hubungan Rumah Gadang dengan kehidupan keluarga?
Mengapa masyarakat dahulu membangun Rangkiang?
Mengapa Rumah Gadang mempunyai bentuk yang khas?
Apa hubungan Rumah Gadang dengan kehidupan keluarga?
Mengapa masyarakat dahulu membangun Rangkiang?
5. Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan:
Guru menyampaikan tujuan dan memperlihatkan gambar Rumah Gadang.
Memahami:
Peserta didik mengamati bagian bangunan dan membaca informasi mengenai fungsinya.
Mengaplikasi:
Kelompok menyusun poster yang menjelaskan ciri, fungsi, dan nilai yang terkandung dalam Rumah Gadang serta Rangkiang.
Merefleksi:
Peserta didik mendiskusikan pentingnya pelestarian arsitektur tradisional.
Penutup:
Guru dan peserta didik menyimpulkan hasil pembelajaran.
6. Asesmen
Lembar pengamatan.
Poster kelompok.
Presentasi.
Refleksi individu.
Lembar pengamatan.
Poster kelompok.
Presentasi.
Refleksi individu.
Modul Ajar 3 — Kelas IX
Judul: Alam Takambang Jadi Guru dalam Kehidupan Masyarakat Minangkabau.
Satuan pendidikan: SMP/MTs.
Fase/Kelas: D/IX.
Elemen: Sejarah Minangkabau.
Alokasi waktu: 2 JP.
Tujuan Pembelajaran resmi: Murid menjelaskan makna alam bagi orang Minangkabau.
1. Tujuan Kegiatan
Peserta didik diharapkan mampu:
Menjelaskan makna ungkapan Alam takambang jadi guru.
Mengidentifikasi contoh pembelajaran dari alam.
Menghubungkan pengamatan dengan nilai kehidupan.
Menyusun refleksi tertulis.
Menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.
2. Materi Pokok
Pengertian Alam takambang jadi guru.
Alam sebagai sumber pengamatan dan pembelajaran.
Nilai tanggung jawab.
Kepedulian lingkungan.
Refleksi pengalaman.
Pengertian Alam takambang jadi guru.
Alam sebagai sumber pengamatan dan pembelajaran.
Nilai tanggung jawab.
Kepedulian lingkungan.
Refleksi pengalaman.
3. Media
Lingkungan sekitar sekolah, lembar observasi, foto fenomena alam, dan bahan bacaan.
4. Pertanyaan Pemantik
Apa yang dapat kita pelajari dari alam?
Mengapa masyarakat Minangkabau menggunakan alam sebagai sumber pelajaran?
Bagaimana pengetahuan dari alam dapat diterapkan dalam kehidupan?
Apa yang dapat kita pelajari dari alam?
Mengapa masyarakat Minangkabau menggunakan alam sebagai sumber pelajaran?
Bagaimana pengetahuan dari alam dapat diterapkan dalam kehidupan?
5. Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan:
Guru menjelaskan tujuan dan mengajukan pertanyaan pemantik.
Memahami:
Peserta didik membaca penjelasan ungkapan Alam takambang jadi guru.
Mengaplikasi:
Peserta didik mengamati fenomena lingkungan yang aman dan dapat dijangkau, kemudian mencatat hasil pengamatan.
Merefleksi:
Peserta didik menulis esai tentang nilai kehidupan yang diperoleh.
Penutup:
Beberapa peserta didik menyampaikan hasil refleksi dan guru memberikan penguatan.
6. Asesmen
Ketepatan pengamatan.
Kemampuan menjelaskan makna.
Kualitas refleksi.
Partisipasi pembelajaran.
Ketepatan pengamatan.
Kemampuan menjelaskan makna.
Kualitas refleksi.
Partisipasi pembelajaran.
I. Rekomendasi Pengembangan Perangkat Ajar
1. Menjadikan CP dan TP sebagai Acuan
Guru perlu menggunakan CP dan TP yang tercantum dalam lampiran peraturan sebagai dasar pengembangan perangkat ajar.
Contoh kegiatan dan indikator operasional dapat disesuaikan, tetapi tidak boleh menghilangkan kompetensi yang telah ditetapkan.
2. Mengembangkan ATP yang Berkesinambungan
ATP perlu disusun secara sistematis dari kelas VII sampai IX.
Urutan materi hendaknya memperhatikan tingkat kesulitan, keterkaitan konsep, dan perkembangan kemampuan peserta didik.
3. Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Nagari, Rumah Gadang, peninggalan sejarah, lembaga adat, serta kegiatan budaya dapat menjadi sumber pembelajaran.
Kegiatan observasi perlu direncanakan dengan memperhatikan keamanan, izin, biaya, dan tujuan pembelajaran.
4. Mengembangkan Literasi Sejarah dan Budaya
Peserta didik perlu dilatih menggunakan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Guru perlu membantu peserta didik membedakan fakta sejarah, tradisi lisan, pendapat, dan interpretasi.
5. Mengintegrasikan Nilai ABS-SBK
Nilai ABS-SBK perlu diterapkan melalui keteladanan, pembiasaan, dan kegiatan pembelajaran.
Kejujuran, amanah, tanggung jawab, musyawarah, kesantunan, dan kepedulian perlu menjadi bagian dari budaya sekolah.
6. Melibatkan Tokoh Adat dan Praktisi Budaya
Sekolah dapat melibatkan niniak mamak, bundo kanduang, alim ulama, cadiak pandai, seniman, serta pemerhati budaya sebagai narasumber.
Keterlibatan tersebut perlu disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan peserta didik.
7. Menghargai Adat Salingka Nagari
Guru perlu menjelaskan bahwa terdapat keragaman pelaksanaan adat antarnagari.
Perbedaan tersebut hendaknya dipelajari dengan sikap saling menghormati, bukan dijadikan alasan untuk merendahkan tradisi daerah lain.
8. Mengembangkan Media Digital
Media digital dapat digunakan untuk memperlihatkan dokumentasi budaya, peta, arsitektur, seni pertunjukan, dan sumber sejarah.
Guru perlu memperhatikan hak cipta, ketepatan informasi, dan kesesuaian konten.
9. Mengembangkan Asesmen Autentik
Asesmen sebaiknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan pemahaman melalui produk, proyek, presentasi, analisis, dan refleksi.
10. Melaksanakan Evaluasi Berkelanjutan
Sekolah perlu mengevaluasi pelaksanaan kurikulum secara berkala.
Hasil evaluasi dapat digunakan untuk memperbaiki bahan ajar, strategi, media, asesmen, dan kerja sama dengan masyarakat.
J. Penutup dan Rekomendasi Implementasi
1. Penutup
Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase D mempunyai peranan penting dalam memperkuat pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan karakter peserta didik SMP/MTs.
Melalui empat elemen utama, peserta didik diperkenalkan pada sejarah, nilai adat, sistem kekerabatan, kepemimpinan, serta kekayaan seni dan budaya Minangkabau.
Pembelajaran tersebut hendaknya tidak berhenti pada kemampuan menghafal istilah atau menjawab pertanyaan.
Peserta didik perlu dibimbing untuk memahami makna, mengembangkan kemampuan berpikir, menghargai perbedaan, dan menerapkan nilai adat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Rekomendasi bagi Guru
Guru diharapkan mengembangkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Materi hendaknya dihubungkan dengan kehidupan nyata, dilaksanakan melalui kegiatan aktif, serta dilengkapi refleksi dan asesmen yang sesuai.
3. Rekomendasi bagi Kepala Sekolah
Kepala sekolah perlu mendukung pengembangan kompetensi guru, penyediaan sumber belajar, dan kerja sama dengan masyarakat.
4. Rekomendasi bagi MGMP
Musyawarah Guru Mata Pelajaran dapat menjadi wadah pengembangan ATP, modul ajar, LKPD, media, serta instrumen asesmen ABS-SBK.
Melalui kolaborasi, guru dapat saling berbagi pengalaman dan memperbaiki kualitas pembelajaran.
5. Rekomendasi bagi Keluarga dan Masyarakat
Keluarga dan masyarakat perlu mendukung pembelajaran melalui keteladanan dan keterlibatan dalam kegiatan pendidikan budaya.
Nilai-nilai adat akan lebih mudah dipahami apabila peserta didik menyaksikan penerapannya dalam kehidupan nyata.
6. Harapan Akhir
Pendidikan ABS-SBK diharapkan melahirkan generasi Minangkabau yang memahami sejarahnya, menghargai adatnya, mengembangkan akhlak yang baik, serta mampu menghadapi perubahan zaman secara bijaksana.
“Adat bukan sekadar warisan untuk dikenang, melainkan pedoman hidup untuk diamalkan. Generasi yang memahami sejarah, menjaga akhlak, dan menghargai budayanya akan mampu melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.”
Referensi
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. (2026). Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal.
Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026: Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Muatan Lokal ABS-SBK.
Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026: Tujuan Pembelajaran Mata Pelajaran Muatan Lokal ABS-SBK.
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. (2026). Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal.
Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026: Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Muatan Lokal ABS-SBK.
Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026: Tujuan Pembelajaran Mata Pelajaran Muatan Lokal ABS-SBK.
Catatan: Ruang lingkup CP disajikan dalam bentuk uraian ringkas, sedangkan rumusan TP mengikuti teks dokumen yang tersedia. Pemetaan lintas kelas, strategi pembelajaran, LKPD, rubrik, perencanaan mingguan, dan modul ajar merupakan contoh pengembangan pedagogis, bukan ketentuan baku dalam peraturan.
Komentar
Posting Komentar