Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI (Kelas III dan IV): Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, dan Strategi Pembelajaran Mendalam

 

A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan proses penting dalam membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, berbudaya, dan memiliki jati diri. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir dan keterampilan peserta didik, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai tersebut berakar pada falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), yang menempatkan ajaran Islam sebagai landasan nilai dalam pelaksanaan adat Minangkabau.

Falsafah ini mengandung pesan bahwa pengetahuan, sikap, dan perilaku manusia hendaknya berjalan seiring dengan tuntunan agama, ketentuan adat, dan tanggung jawab sosial.

Dalam konteks pendidikan dasar, pewarisan nilai-nilai tersebut perlu dilakukan secara terencana, bertahap, dan sesuai dengan perkembangan peserta didik.

1. Karakteristik Peserta Didik Fase B

Fase B mencakup peserta didik kelas III dan IV SD/MI.

Pada fase ini, peserta didik mulai memiliki kemampuan yang lebih berkembang dalam mengamati, membandingkan, mengelompokkan, menjelaskan, dan menghubungkan berbagai informasi dengan pengalaman sehari-hari.

Jika pada Fase A peserta didik lebih banyak diperkenalkan pada lingkungan budaya dan tata krama sederhana, maka pada Fase B mereka mulai diarahkan untuk memahami hubungan antara keluarga, masyarakat, aturan adat, dan kehidupan budaya Minangkabau.

Peserta didik tidak cukup hanya mengetahui nama suatu adat atau tradisi, tetapi juga mulai belajar memahami tujuan, manfaat, dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itu, pembelajaran ABS-SBK pada Fase B perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya, berdiskusi, melakukan pengamatan, mempraktikkan kegiatan, serta menyampaikan hasil pemahamannya.

2. Landasan Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar telah menetapkan Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal.

Peraturan ini menjadi salah satu landasan penyelenggaraan pembelajaran muatan lokal di satuan pendidikan dalam wilayah kewenangan Kabupaten Tanah Datar.

Melalui peraturan tersebut, pembelajaran ABS-SBK diarahkan agar peserta didik memperoleh pengetahuan, pemahaman, keterampilan, serta pengalaman belajar yang berkaitan dengan nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.

Kurikulum ini mencakup empat elemen utama:

  1. Sejarah Minangkabau.

  2. Pemahaman Nilai Adat.

  3. Aturan Masyarakat Minangkabau.

  4. Adat Salingka Nagari.

Keempat elemen tersebut menjadi dasar pengembangan Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran pada setiap fase.

Apabila ABS-SBK dilaksanakan sebagai mata pelajaran tersendiri pada jenjang SD/MI, alokasi pembelajarannya adalah 2 jam pelajaran setiap minggu, sebagaimana diatur dalam Pasal 11.

Pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan ketentuan kurikulum, kesiapan satuan pendidikan, dan kebutuhan peserta didik.

3. Ruang Lingkup Pembelajaran ABS-SBK Fase B

Berdasarkan Capaian Pembelajaran Fase B dalam Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, pembelajaran mencakup beberapa kelompok materi.

a. Sejarah Minangkabau

Peserta didik mulai mengenal ranji keturunan sederhana, asal-usul nama Minangkabau, asal mula keturunan orang Minang, serta wilayah alam Minangkabau, khususnya wilayah darek dan rantau.

Pembelajaran dapat dikembangkan melalui cerita, gambar, bagan keluarga, dan pengenalan wilayah.

b. Pemahaman Nilai Adat

Peserta didik diperkenalkan pada Adat Nan Ampek, Kato Nan Ampek, dan sistem kelarasan dalam masyarakat Minangkabau.

Materi ini membantu anak mengenal bahwa kehidupan masyarakat memiliki nilai, aturan, dan tata cara yang menjadi pedoman dalam berinteraksi.

c. Aturan Masyarakat Minangkabau

Pembelajaran diarahkan pada pengenalan aturan dan nilai perilaku, seperti kejujuran, kedisiplinan, kesantunan, kepedulian, serta tanggung jawab.

Peserta didik juga mulai mengenal panggilan kekerabatan dalam keluarga Minangkabau.

d. Adat Salingka Nagari

Peserta didik diperkenalkan pada upacara adat, seni musik tradisional, seni rupa, dan sastra tradisional Minangkabau.

Pembelajaran dapat dikembangkan dengan memperhatikan kekhasan budaya yang terdapat di lingkungan nagari masing-masing.

Dengan demikian, materi ABS-SBK Fase B tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan sejarah dan adat, tetapi juga mencakup keterampilan, sikap, dan pengalaman berkebudayaan.

4. Pentingnya Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran ABS-SBK Fase B perlu dilaksanakan melalui pendekatan pembelajaran mendalam yang mengutamakan tiga prinsip, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Pembelajaran Berkesadaran

Peserta didik memahami tujuan kegiatan belajar serta menyadari pentingnya materi yang dipelajari bagi kehidupan dirinya.

Sebagai contoh, ketika mempelajari ranji keturunan, anak tidak hanya menyebutkan hubungan keluarga, tetapi juga memahami pentingnya mengenal dan menghormati anggota keluarga.

Pembelajaran Bermakna

Materi pembelajaran dihubungkan dengan pengalaman nyata peserta didik.

Sebagai contoh, ketika mempelajari Kato Nan Ampek, anak diajak membandingkan cara berbicara kepada teman sebaya, orang tua, guru, dan anggota keluarga lainnya.

Pembelajaran Menggembirakan

Guru menciptakan suasana belajar yang aman, menarik, menantang, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi.

Pembelajaran dapat dilakukan melalui permainan peran, cerita bergambar, pengamatan lingkungan, kegiatan seni, dan proyek sederhana.

Ketiga prinsip tersebut diharapkan membantu peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Peran Guru dalam Pembelajaran ABS-SBK Fase B

Guru memiliki peranan penting dalam membantu peserta didik memahami nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.

Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing, fasilitator, dan teladan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru perlu:

  1. Memahami CP dan TP yang tercantum dalam dokumen resmi.

  2. Menyesuaikan materi dengan kemampuan peserta didik.

  3. Mengembangkan kegiatan belajar yang konkret dan kontekstual.

  4. Menggunakan lingkungan keluarga dan nagari sebagai sumber belajar.

  5. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengamati, bertanya, berdiskusi, dan berkarya.

  6. Menunjukkan keteladanan dalam sikap, perkataan, dan perilaku.

  7. Melaksanakan asesmen yang membantu perkembangan belajar peserta didik.

Keteladanan guru menjadi sangat penting karena pendidikan adat tidak cukup dilakukan melalui penjelasan lisan.

Nilai kesantunan, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain perlu diperlihatkan melalui perilaku nyata.

6. Tujuan Penulisan Artikel

Artikel ini disusun sebagai bahan informasi dan referensi bagi guru, kepala sekolah, pengawas, kelompok kerja guru, serta pemerhati pendidikan muatan lokal Minangkabau.

Pembahasan difokuskan pada pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase B untuk kelas III dan IV SD/MI berdasarkan Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

Secara khusus, artikel ini bertujuan untuk:

  1. Menjelaskan Capaian Pembelajaran ABS-SBK Fase B.

  2. Menguraikan Tujuan Pembelajaran kelas III dan IV.

  3. Memberikan contoh strategi pembelajaran mendalam.

  4. Menyajikan contoh kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

  5. Memberikan contoh asesmen dan pengembangan perangkat ajar.

  6. Mendorong pembelajaran yang menghargai kekhasan adat salingka nagari.

Dengan pembahasan tersebut, diharapkan guru memiliki gambaran yang lebih jelas dalam mengembangkan pembelajaran ABS-SBK yang terarah dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

7. Harapan Pengembangan Pembelajaran

Pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK Fase B diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun karakter dan memperkuat jati diri peserta didik sebagai generasi Minangkabau.

Pengenalan sejarah, nilai adat, aturan masyarakat, serta tradisi nagari hendaknya tidak berhenti pada kegiatan menghafal.

Peserta didik perlu memperoleh kesempatan untuk memahami makna, menemukan manfaat, dan membiasakan nilai-nilai yang dipelajari.

Melalui kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, pembelajaran ABS-SBK diharapkan dapat menjadi sarana pewarisan budaya yang berkelanjutan.

“Pendidikan adat yang baik bukan hanya mengajarkan anak mengenal asal-usul dan tradisinya, tetapi juga membimbingnya memahami nilai, menghormati sesama, serta menjaga jati diri di tengah perubahan zaman.”

B. Capaian Pembelajaran (CP) Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI

1. Pengertian Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi yang diharapkan dimiliki peserta didik pada akhir suatu fase pembelajaran.

Dalam Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), CP menjadi pedoman bagi guru untuk merancang pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik terhadap adat dan budaya Minangkabau.

Fase B mencakup kelas III dan IV SD/MI.

Capaian Pembelajaran Fase B tercantum dalam Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal.

CP Fase B terdiri atas empat elemen utama, yaitu:

  1. Sejarah Minangkabau.

  2. Pemahaman Nilai Adat.

  3. Aturan Masyarakat Minangkabau.

  4. Adat Salingka Nagari.

Berikut rumusan CP berdasarkan dokumen tersebut, disertai penjelasan dan contoh pengembangan pembelajaran.

2. Elemen Sejarah Minangkabau

Materi dalam dokumen resmi:

Wilayah Minangkabau, Wilayah Darek dan Wilayah Rantau.

Rumusan Capaian Pembelajaran:

“Murid mengenal ranji keturunan sederhana di Minangkabau, Murid mengenal asal usul nama Minangkabau, Murid mengetahui asal mula keturunan orang Minang dan Murid menjelaskan wilayah alam Minangkabau dalam hal ini wilayah darek dan rantau.”

Penjelasan:

Pada elemen ini, peserta didik diperkenalkan pada asal-usul, hubungan keturunan, dan wilayah kehidupan masyarakat Minangkabau.

Pembelajaran ranji keturunan membantu anak mengenali hubungan keluarga dan memahami bahwa masyarakat Minangkabau memiliki sistem kekerabatan yang khas.

Pengenalan asal-usul nama Minangkabau dapat dilaksanakan melalui cerita tradisional dan sumber sejarah yang sesuai dengan usia peserta didik.

Guru perlu membedakan cerita rakyat atau tambo dengan keterangan sejarah yang didukung bukti.

Sementara itu, pengenalan wilayah darek dan rantau membantu peserta didik memahami bahwa masyarakat Minangkabau hidup dan berkembang di berbagai wilayah.

Contoh pengembangan kegiatan pembelajaran:

  • Menggambar bagan keluarga sederhana.

  • Mendengarkan cerita asal-usul nama Minangkabau.

  • Mengamati peta wilayah Minangkabau.

  • Mengelompokkan contoh wilayah darek dan rantau berdasarkan sumber yang digunakan.

  • Menceritakan hubungan antara keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

Nilai yang dapat dikembangkan:

Menghargai keluarga, rasa ingin tahu, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya Minangkabau.

3. Elemen Pemahaman Nilai Adat

Materi dalam dokumen resmi:

Kato Nan Ampek, Kelarasan dan Adat Nan Ampek.

Rumusan Capaian Pembelajaran:

“Murid mengenal adat nan sabana adat, Murid mengenal adat nan taradat, Murid mengenal adat nan di adatkan, Murid mengenal adat istiadat, Murid mengenal kato nan ampek dalam adat Minangkabau (kato mandaki, kato malereng, kato mandata dan kato manurun) dan Murid memahami sistem kelarasan di Minangkabau.”

Penjelasan:

Elemen Pemahaman Nilai Adat mengajak peserta didik mengenal nilai dan ketentuan yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Minangkabau.

Salah satu materi pokoknya adalah Adat Nan Ampek, yang terdiri atas:

a. Adat Nan Sabana Adat

Peserta didik mulai diperkenalkan pada pengertian adat yang berkaitan dengan ketentuan dasar dan prinsip kehidupan.

b. Adat Nan Diadatkan

Peserta didik mengenal ketentuan adat yang ditetapkan dan disepakati dalam kehidupan masyarakat adat.

c. Adat Nan Taradat

Peserta didik mengenal kebiasaan atau ketentuan yang berkembang dan berlaku dalam lingkungan masyarakat tertentu.

d. Adat Istiadat

Peserta didik mengenal kebiasaan, tata cara, dan tradisi yang hidup dalam masyarakat.

Penjelasan keempat jenis adat perlu disampaikan dengan contoh sederhana yang sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik.

Selain Adat Nan Ampek, peserta didik juga mempelajari Kato Nan Ampek, yaitu:

  • Kato Mandaki.

  • Kato Manurun.

  • Kato Mandata.

  • Kato Malereng.

Melalui pembelajaran ini, anak diajak memahami bahwa cara berkomunikasi perlu memperhatikan hubungan dengan lawan bicara dan situasi percakapan.

Materi berikutnya adalah sistem kelarasan di Minangkabau.

Guru dapat memperkenalkan kelarasan sebagai bagian dari sistem adat dan kepemimpinan masyarakat Minangkabau melalui cerita, gambar, serta penjelasan yang sederhana.

Contoh pengembangan kegiatan pembelajaran:

  • Membuat kartu konsep Adat Nan Ampek.

  • Mengelompokkan contoh kebiasaan masyarakat berdasarkan materi yang dipelajari.

  • Bermain peran menggunakan Kato Nan Ampek.

  • Membandingkan cara berbicara kepada guru, orang tua, dan teman.

  • Mengamati bagan sederhana tentang sistem kelarasan.

Nilai yang dapat dikembangkan:

Kesantunan, penghormatan terhadap orang lain, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap aturan adat.

4. Elemen Aturan Masyarakat Minangkabau

Materi dalam dokumen resmi:

Undang Nan Salapan dan Sumbang.

Rumusan Capaian Pembelajaran:

“Murid menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga, dan negara, Murid mengenal panggilan kekerabatan di Minangkabau.”

Penjelasan:

Elemen ini berkaitan dengan pembentukan perilaku dan pengenalan aturan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Peserta didik diajak memahami bahwa setiap orang perlu menjaga sikap dan perilaku ketika berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan lingkungan masyarakat.

Nilai-nilai yang ditekankan mencakup kejujuran, kedisiplinan, kesantunan, kepercayaan diri, kepedulian, dan tanggung jawab.

Materi Sumbang dapat diperkenalkan melalui contoh perilaku yang patut dan tidak patut dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, pengenalan Undang Nan Salapan dapat dilakukan secara bertahap melalui pembahasan nilai aturan, ketertiban, dan tanggung jawab.

Guru juga memperkenalkan panggilan kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau.

Panggilan tersebut dapat dipelajari melalui hubungan keluarga yang dikenal peserta didik, seperti mamak, kamanakan, mandeh, apak, inyiak, dan panggilan lainnya sesuai lingkungan keluarga serta adat salingka nagari.

Contoh pengembangan kegiatan pembelajaran:

  • Mengamati gambar perilaku santun dan kurang santun.

  • Mendiskusikan contoh kejujuran di sekolah.

  • Bermain peran tentang tanggung jawab dan kepedulian.

  • Membuat kartu panggilan kekerabatan.

  • Menceritakan pengalaman membantu anggota keluarga.

  • Mengidentifikasi contoh perilaku yang perlu dihindari berdasarkan nilai Sumbang.

Nilai yang dapat dikembangkan:

Jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab.

5. Elemen Adat Salingka Nagari

Materi dalam dokumen resmi:

Turun Mandi, Sunat Rasul dan Alat Musik Tradisional.

Rumusan Capaian Pembelajaran:

“Murid mendeskripsikan upacara adat seperti upacara kelahiran, turun mandi di Minangkabau, Murid mengenal seni musik tradisional Minangkabau, Murid mampu memainkan salah satu alat musik tradisional Minangkabau, Murid membuat karya seni rupa tradisional Minangkabau; dan Murid mengenal seni sastra tradisional Minangkabau.”

Penjelasan:

Elemen Adat Salingka Nagari memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal berbagai tradisi dan kesenian yang hidup dalam masyarakat Minangkabau.

Melalui materi upacara adat, peserta didik dapat mempelajari tradisi yang berkaitan dengan kelahiran dan kehidupan keluarga.

Guru perlu menjelaskan bahwa pelaksanaan tradisi dapat berbeda antara satu nagari dan nagari lainnya.

Pada materi seni musik tradisional, peserta didik diperkenalkan pada alat musik yang dikenal dalam masyarakat Minangkabau, misalnya talempong, saluang, atau alat musik lain yang sesuai dengan tradisi setempat.

Pembelajaran dapat dilakukan melalui pengamatan gambar, mendengarkan bunyi alat musik, atau praktik sederhana apabila sarana tersedia.

Pada materi seni rupa tradisional, peserta didik dapat mengenal bentuk dan motif seni yang terdapat pada benda atau bangunan tradisional.

Sementara itu, seni sastra tradisional dapat diperkenalkan melalui pantun, ungkapan, dan karya sastra lisan yang sesuai dengan usia peserta didik.

Contoh pengembangan kegiatan pembelajaran:

  • Mendengarkan cerita tentang tradisi turun mandi.

  • Mengamati gambar alat musik tradisional.

  • Mendengarkan dan membedakan bunyi beberapa alat musik.

  • Mencoba memainkan alat musik tradisional dengan pendampingan.

  • Menggambar motif sederhana yang terinspirasi dari seni rupa Minangkabau.

  • Mendengarkan dan membacakan pantun tradisional.

Nilai yang dapat dikembangkan:

Kreativitas, kerja sama, penghargaan terhadap budaya, dan kepedulian terhadap warisan tradisi.

6. Hubungan Antarelemennya

Keempat elemen Capaian Pembelajaran ABS-SBK Fase B saling berkaitan dan dapat dikembangkan secara terpadu.

Sebagai contoh, ketika peserta didik mempelajari ranji keturunan pada elemen Sejarah Minangkabau, guru dapat menghubungkannya dengan panggilan kekerabatan pada elemen Aturan Masyarakat Minangkabau.

Ketika peserta didik mempelajari Kato Nan Ampek, guru dapat menghubungkannya dengan perilaku santun dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pula ketika mempelajari seni dan tradisi nagari, peserta didik dapat diajak memahami nilai kebersamaan, kerja sama, serta penghormatan terhadap warisan budaya.

Pengintegrasian tersebut merupakan contoh strategi pembelajaran yang dapat dikembangkan guru tanpa mengubah rumusan CP resmi.

7. Implikasi Capaian Pembelajaran terhadap Kegiatan Belajar

Capaian Pembelajaran Fase B menuntut kegiatan belajar yang lebih berkembang dibandingkan Fase A.

Peserta didik mulai diarahkan untuk tidak hanya mengenal suatu objek atau istilah, tetapi juga menjelaskan, membandingkan, mempraktikkan, dan menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari.

Oleh karena itu, guru dapat mengembangkan pembelajaran melalui:

  1. Pengamatan gambar, benda, dan lingkungan.

  2. Cerita sejarah dan budaya yang sesuai usia.

  3. Diskusi kelompok sederhana.

  4. Permainan peran.

  5. Kegiatan seni dan keterampilan.

  6. Proyek kecil berbasis keluarga atau nagari.

  7. Refleksi terhadap pengalaman belajar.

Kegiatan tersebut perlu disesuaikan dengan Tujuan Pembelajaran kelas III dan IV yang tercantum dalam Lampiran II.

8. Penegasan tentang CP dan Tujuan Pembelajaran

Capaian Pembelajaran Fase B merupakan kompetensi yang diharapkan dicapai pada akhir fase, sedangkan Tujuan Pembelajaran memberikan arah yang lebih terperinci bagi pelaksanaan pembelajaran.

Oleh karena itu, guru perlu memahami kedua dokumen tersebut sebelum menyusun Alur Tujuan Pembelajaran, modul ajar, LKPD, dan instrumen asesmen.

Rumusan CP resmi tidak boleh dicampuradukkan dengan contoh kegiatan, indikator tambahan, atau penjelasan yang dikembangkan oleh guru.

Contoh-contoh dalam artikel ini merupakan rekomendasi pedagogis yang dapat disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan.

9. Penutup

Capaian Pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK Fase B memberikan arah bagi guru untuk mengembangkan pendidikan adat dan budaya Minangkabau pada kelas III dan IV SD/MI.

Melalui empat elemen utama, peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman yang semakin berkembang tentang sejarah, nilai adat, aturan masyarakat, serta tradisi dan kesenian Minangkabau.

Pembelajaran perlu dilaksanakan melalui pengalaman yang konkret, bermakna, dan menggembirakan agar nilai-nilai yang dipelajari dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

“Mengenal adat adalah langkah awal, memahami nilainya merupakan proses belajar, dan membiasakan kebaikannya menjadi tujuan pendidikan yang sesungguhnya.”

C. Tujuan Pembelajaran (TP) Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI

1. Pengertian dan Fungsi Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan kemampuan yang diharapkan dicapai peserta didik melalui kegiatan pembelajaran.

Dalam Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), TP menjadi pedoman bagi guru dalam menentukan materi, kegiatan belajar, media, serta asesmen.

Fase B mencakup kelas III dan IV SD/MI. Tujuan Pembelajaran pada kedua kelas tersebut merupakan bagian dari upaya mencapai Capaian Pembelajaran Fase B.

Berdasarkan Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, TP Fase B dikelompokkan ke dalam empat elemen:

  1. Sejarah Minangkabau.

  2. Pemahaman Nilai Adat.

  3. Aturan Masyarakat Minangkabau.

  4. Adat Salingka Nagari.

Berikut rumusan TP resmi beserta penjelasan dan contoh pengembangannya.


2. Tujuan Pembelajaran Kelas III SD/MI

A. Elemen Sejarah Minangkabau

Rumusan TP resmi:

  1. Murid mengenal ranji keturunan sederhana di Minangkabau.

  2. Murid mengenal dan menyebutkan asal usul nama Minangkabau.

Penjelasan:

Pada kelas III, peserta didik mulai diperkenalkan pada ranji keturunan sederhana dalam masyarakat Minangkabau.

Ranji merupakan bagan atau susunan yang menggambarkan hubungan keturunan. Melalui pembelajaran ini, anak dapat mengenal hubungan keluarga dan mulai memahami kekhasan sistem kekerabatan Minangkabau.

Peserta didik juga diperkenalkan pada asal-usul nama Minangkabau melalui cerita dan sumber belajar yang sesuai dengan usianya.

Guru perlu membedakan cerita tradisional, tambo, dan informasi sejarah yang didukung bukti.

Contoh kegiatan pembelajaran:

  • Mengamati contoh ranji keturunan sederhana.

  • Membuat bagan hubungan keluarga dengan bimbingan guru.

  • Mendengarkan cerita asal-usul nama Minangkabau.

  • Menceritakan kembali isi cerita menggunakan bahasa sendiri.

  • Mendiskusikan pentingnya mengenal dan menghormati keluarga.

Contoh asesmen:

Guru mengamati kemampuan peserta didik membaca bagan hubungan keluarga sederhana dan menyampaikan kembali informasi tentang asal-usul nama Minangkabau.

B. Elemen Pemahaman Nilai Adat

Rumusan TP resmi:

  1. Murid mengenal adat nan sabana adat.

  2. Murid mengenal adat nan taradat.

  3. Murid mengenal adat nan diadatkan.

  4. Murid mengenal adat istiadat.

Penjelasan:

Pada elemen ini, peserta didik mulai mengenal Adat Nan Ampek sebagai salah satu pengelompokan adat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Guru perlu menjelaskan setiap jenis adat secara sederhana dan bertahap.

Adat Nan Sabana Adat diperkenalkan sebagai ketentuan dasar yang berkaitan dengan prinsip kehidupan.

Adat Nan Taradat diperkenalkan sebagai ketentuan atau kebiasaan yang berkembang dan berlaku dalam lingkungan masyarakat tertentu.

Adat Nan Diadatkan diperkenalkan sebagai ketentuan adat yang ditetapkan dan disepakati dalam kehidupan masyarakat adat.

Adat Istiadat diperkenalkan melalui berbagai kebiasaan dan tradisi yang hidup dalam masyarakat.

Pada kelas III, pembelajaran lebih diarahkan pada pengenalan istilah, pemahaman sederhana, dan contoh yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Contoh kegiatan pembelajaran:

  • Mengamati peta konsep Adat Nan Ampek.

  • Membuat kartu nama keempat jenis adat.

  • Mendengarkan cerita yang menggambarkan kehidupan masyarakat.

  • Mendiskusikan contoh kebiasaan adat di lingkungan nagari.

  • Membuat poster sederhana tentang Adat Nan Ampek.

Contoh asesmen:

Peserta didik menyebutkan keempat jenis adat dan menjelaskan secara sederhana salah satu contoh yang telah dipelajari.

C. Elemen Aturan Masyarakat Minangkabau

Rumusan TP resmi:

  1. Murid menunjukkan perilaku disiplin, jujur, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga, dan negara.

  2. Murid mengenal panggilan kekerabatan di Minangkabau.

  3. Memahami sifat-sifat yang harus dimiliki orang Minang suka menolong.

Penjelasan:

Tujuan Pembelajaran pada elemen ini mengarahkan peserta didik untuk memahami dan mempraktikkan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta didik tidak hanya diminta mengetahui arti jujur, disiplin, santun, peduli, dan bertanggung jawab, tetapi juga diberikan kesempatan mempraktikkannya melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Pengenalan panggilan kekerabatan membantu anak memahami hubungan antarangggota keluarga Minangkabau.

Guru dapat memperkenalkan panggilan seperti mamak, kamanakan, mandeh, apak, inyiak, dan panggilan lain yang sesuai dengan lingkungan keluarga serta adat salingka nagari.

Sikap suka menolong dikembangkan melalui pembiasaan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan.

Contoh kegiatan pembelajaran:

  • Bermain peran tentang kejujuran dan tanggung jawab.

  • Mengamati gambar perilaku baik dan kurang baik.

  • Membuat kartu panggilan kekerabatan.

  • Mendengarkan cerita tentang hubungan mamak dan kamanakan.

  • Melaksanakan kegiatan saling membantu dalam kelompok.

  • Menceritakan pengalaman menolong anggota keluarga atau teman.

Contoh asesmen:

Guru menggunakan observasi perilaku, percakapan, dan permainan peran untuk mengetahui perkembangan peserta didik.

Penilaian dilakukan berdasarkan perilaku yang dapat diamati, bukan dengan memberikan cap atau penilaian terhadap kepribadian anak.

D. Elemen Adat Salingka Nagari

Rumusan TP resmi:

  1. Murid mendeskripsikan upacara adat seperti upacara kelahiran, turun mandi di Minangkabau.

  2. Murid mengenal seni musik tradisional Minangkabau.

  3. Murid mampu memainkan salah satu alat musik tradisional Minangkabau.

Penjelasan:

Pada elemen ini, peserta didik mulai mengenal tradisi dan seni musik yang hidup dalam masyarakat Minangkabau.

Materi upacara adat dapat diperkenalkan melalui cerita, gambar, atau penjelasan narasumber tentang tradisi kelahiran dan turun mandi.

Guru perlu memperhatikan bahwa bentuk pelaksanaan tradisi dapat berbeda antara satu nagari dan nagari lainnya.

Pada materi seni musik tradisional, peserta didik dapat mengenal berbagai alat musik Minangkabau, seperti talempong, saluang, dan alat musik lain yang dikenal di lingkungan setempat.

Kegiatan memainkan alat musik perlu disesuaikan dengan ketersediaan sarana dan kemampuan peserta didik.

Contoh kegiatan pembelajaran:

  • Mengamati gambar tradisi turun mandi.

  • Mendengarkan cerita tentang tradisi kelahiran.

  • Mengenali bentuk dan nama alat musik tradisional.

  • Mendengarkan contoh bunyi alat musik.

  • Mencoba memainkan pola bunyi sederhana.

  • Menampilkan permainan musik sederhana secara berkelompok.

Contoh asesmen:

Peserta didik menjelaskan secara sederhana tradisi yang dipelajari, mengenali alat musik tradisional, serta menunjukkan keterampilan memainkan salah satu alat musik sesuai kemampuan dan fasilitas yang tersedia.

3. Tujuan Pembelajaran Kelas IV SD/MI

A. Elemen Sejarah Minangkabau

Rumusan TP resmi:

  1. Murid mengetahui asal mula keturunan orang Minang.

  2. Murid menjelaskan wilayah alam Minangkabau dalam hal ini wilayah darek dan rantau.

Penjelasan:

Pada kelas IV, pembelajaran Sejarah Minangkabau dikembangkan melalui pengenalan asal mula keturunan orang Minang serta wilayah alam Minangkabau.

Guru dapat memperkenalkan berbagai cerita tradisional dan informasi sejarah secara proporsional, dengan menjelaskan perbedaan antara kisah dalam tambo dan hasil kajian sejarah.

Pengenalan wilayah darek dan rantau membantu peserta didik memahami perkembangan wilayah kehidupan masyarakat Minangkabau.

Contoh kegiatan pembelajaran:

  • Mendengarkan cerita tentang asal mula keturunan orang Minang.

  • Mengidentifikasi informasi dari cerita dan sumber sejarah.

  • Mengamati peta wilayah Minangkabau.

  • Mengenali contoh wilayah darek dan rantau.

  • Membuat peta sederhana berdasarkan sumber yang dipelajari.

  • Menjelaskan hasil pengamatan secara berkelompok.

Contoh asesmen:

Peserta didik menjelaskan informasi yang telah dipelajari tentang asal mula keturunan orang Minang dan menunjukkan contoh wilayah darek serta rantau pada peta.

B. Elemen Pemahaman Nilai Adat

Rumusan TP resmi:

  1. Murid mengenal kato nan ampek dalam adat Minangkabau seperti Kato Mandaki, Kato Malereng, Kato Mandata, dan Kato Manurun.

  2. Murid memahami sistem kelarasan di Minangkabau.

Penjelasan:

Pada kelas IV, peserta didik mempelajari Kato Nan Ampek sebagai pedoman penggunaan bahasa dan tata krama dalam berkomunikasi.

Kato Mandaki digunakan dalam konteks berbicara kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

Kato Manurun digunakan dalam konteks berbicara kepada orang yang lebih muda.

Kato Mandata digunakan dalam konteks berbicara dengan orang yang sederajat atau sebaya.

Kato Malereng berkaitan dengan cara menyampaikan maksud secara tidak langsung atau menggunakan ungkapan tertentu, sesuai hubungan dan situasi percakapan.

Guru perlu menggunakan contoh percakapan yang tepat serta memperhatikan kebiasaan bahasa dalam lingkungan masyarakat setempat.

Selain itu, peserta didik diperkenalkan pada sistem kelarasan di Minangkabau.

Pembelajaran dapat dimulai dengan pengenalan Koto Piliang dan Bodi Caniago sebagai dua kelarasan yang dikenal luas dalam tradisi Minangkabau, kemudian dikembangkan sesuai materi dan sumber yang digunakan sekolah.

Contoh kegiatan pembelajaran:

  • Mengamati contoh percakapan Kato Nan Ampek.

  • Bermain peran berbicara kepada orang tua, guru, dan teman.

  • Memilih ungkapan yang sesuai dengan situasi.

  • Membuat kartu contoh Kato Nan Ampek.

  • Mengamati bagan sederhana tentang kelarasan.

  • Mendiskusikan pentingnya menghormati perbedaan dalam kehidupan masyarakat.

Contoh asesmen:

Guru menilai kemampuan peserta didik mengenali dan mempraktikkan Kato Nan Ampek serta menjelaskan secara sederhana sistem kelarasan yang telah dipelajari.

C. Elemen Aturan Masyarakat Minangkabau

Rumusan TP resmi:

  1. Memahami sumbang duo baleh.

  2. Murid mengenal undang nan salapan.

  3. Murid mengenal undang-undang nan duo baleh.

Penjelasan:

Pada elemen ini, peserta didik mulai mempelajari aturan dan nilai perilaku yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.

Sumbang Duo Baleh diperkenalkan sebagai pedoman untuk mengenali perilaku yang dipandang tidak patut menurut norma kesantunan adat Minangkabau.

Guru dapat memulai pembelajaran melalui contoh yang dekat dengan kehidupan peserta didik, seperti tata krama duduk, berbicara, makan, berpakaian, bertanya, dan menjawab pertanyaan.

Pembelajaran hendaknya mengutamakan pemahaman alasan suatu perilaku dianggap patut atau tidak patut, bukan sekadar menghafal larangan.

Selanjutnya, peserta didik diperkenalkan pada Undang Nan Salapan dan Undang-Undang Nan Duo Baleh sesuai cakupan materi yang dikembangkan sekolah.

Karena materi tersebut berkaitan dengan ketentuan adat, guru perlu menggunakan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan serta menyampaikan istilah dan contoh secara tepat.

Contoh kegiatan pembelajaran:

  • Mengamati ilustrasi perilaku santun dan tidak santun.

  • Mendiskusikan contoh Sumbang Duo Baleh.

  • Bermain peran memperbaiki perilaku yang kurang patut.

  • Membuat kartu istilah aturan adat.

  • Mendengarkan cerita yang menggambarkan pentingnya aturan.

  • Menyusun kesimpulan tentang manfaat menaati aturan dalam kehidupan bersama.

Contoh asesmen:

Peserta didik mengidentifikasi contoh perilaku yang berkaitan dengan Sumbang Duo Baleh dan menjelaskan secara sederhana pentingnya aturan adat.

D. Elemen Adat Salingka Nagari

Rumusan TP resmi:

  1. Murid membuat karya seni rupa tradisional Minangkabau.

  2. Murid mengenal seni sastra tradisional Minangkabau.

Penjelasan:

Pada kelas IV, peserta didik diberikan kesempatan mengenal dan menghasilkan karya sederhana yang terinspirasi dari seni rupa tradisional Minangkabau.

Guru dapat memperkenalkan motif ukiran, bentuk hiasan tradisional, dan karya seni yang dikenal di lingkungan nagari.

Peserta didik juga diperkenalkan pada seni sastra tradisional Minangkabau, seperti pantun dan bentuk sastra lisan lainnya yang sesuai dengan usia mereka.

Pembelajaran diarahkan untuk menumbuhkan apresiasi, kreativitas, dan kecintaan terhadap warisan budaya.

Contoh kegiatan pembelajaran:

  • Mengamati gambar motif seni rupa tradisional.

  • Menggambar atau mewarnai motif sederhana.

  • Membuat karya hiasan dari bahan yang aman.

  • Mendengarkan pantun Minangkabau.

  • Membaca pantun secara berkelompok.

  • Menceritakan pesan yang terkandung dalam karya sastra.

Contoh asesmen:

Guru mengamati proses berkarya, kemampuan peserta didik menjelaskan hasil karya, serta pemahaman mereka terhadap seni sastra yang dipelajari.

4. Perbedaan Fokus Pembelajaran Kelas III dan IV

Walaupun berada dalam fase yang sama, kelas III dan IV memiliki fokus pembelajaran yang berbeda.

AspekKelas IIIKelas IV
Sejarah MinangkabauRanji sederhana dan asal-usul nama MinangkabauAsal mula keturunan orang Minang serta wilayah darek dan rantau
Pemahaman Nilai AdatAdat Nan AmpekKato Nan Ampek dan kelarasan
Aturan MasyarakatPerilaku baik, panggilan kekerabatan, dan suka menolongSumbang Duo Baleh, Undang Nan Salapan, dan Undang-Undang Nan Duo Baleh
Adat Salingka NagariTradisi kelahiran dan musik tradisionalSeni rupa dan sastra tradisional

Perbedaan tersebut membantu guru menentukan kedalaman materi, kegiatan, serta asesmen yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.

5. Mengembangkan TP melalui Pembelajaran Mendalam

Pelaksanaan Tujuan Pembelajaran ABS-SBK Fase B perlu memperhatikan tiga prinsip pembelajaran mendalam.

a. Berkesadaran

Guru membantu peserta didik memahami apa yang dipelajari dan mengapa materi tersebut penting.

Contohnya, ketika mempelajari ranji keturunan, peserta didik diajak memahami pentingnya mengenal hubungan keluarga dan menghormati anggota keluarga.

b. Bermakna

Pembelajaran dihubungkan dengan pengalaman nyata.

Contohnya, ketika mempelajari Kato Nan Ampek, peserta didik mempraktikkan cara berbicara yang sesuai dengan situasi sehari-hari.

c. Menggembirakan

Guru memberikan kesempatan belajar melalui permainan, pengamatan, karya seni, dan kegiatan kelompok.

Contohnya, ketika mempelajari alat musik tradisional, peserta didik diajak mencoba pola bunyi sederhana secara bersama-sama.

6. Peran Guru dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran

Guru perlu memastikan bahwa setiap kegiatan yang dirancang berkaitan langsung dengan Tujuan Pembelajaran.

Apabila TP menuntut peserta didik mengenal suatu konsep, guru dapat menggunakan gambar, cerita, dan tanya jawab.

Apabila TP menuntut kemampuan menjelaskan, guru perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguraikan pemahamannya.

Apabila TP menuntut keterampilan membuat karya atau memainkan alat musik, pembelajaran perlu memberikan pengalaman praktik.

Dengan demikian, kegiatan dan asesmen tidak hanya menarik, tetapi juga sesuai dengan kemampuan yang diharapkan.

7. Catatan Penting tentang Rumusan TP

Rumusan Tujuan Pembelajaran yang dicantumkan pada setiap elemen dalam bagian ini mengikuti Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

Beberapa rumusan dalam dokumen menggunakan bentuk kalimat yang berbeda, termasuk rumusan yang diawali kata “Memahami”.

Perbedaan redaksi tersebut dipertahankan agar pembaca dapat mengenali rumusan sebagaimana tercantum dalam dokumen.

Sementara itu, uraian materi, contoh kegiatan, dan contoh asesmen merupakan pengembangan pedagogis yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi sekolah.

8. Penutup

Tujuan Pembelajaran ABS-SBK Fase B memberikan arah yang lebih terperinci bagi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran pada kelas III dan IV SD/MI.

Melalui TP yang telah ditetapkan, peserta didik diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang membantu mereka mengenal sejarah, memahami nilai adat, menerapkan perilaku baik, serta menghargai tradisi dan kesenian Minangkabau.

Pembelajaran hendaknya tidak berhenti pada pengenalan istilah dan hafalan, tetapi dilanjutkan dengan kegiatan pengamatan, diskusi, praktik, karya, dan refleksi.

“Tujuan pembelajaran bukan hanya agar anak mengetahui adat Minangkabau, tetapi juga agar pengetahuan tersebut tumbuh menjadi pemahaman, kesadaran, dan perilaku yang baik.”

D. Strategi Pembelajaran Mendalam Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI

1. Hakikat Pembelajaran Mendalam dalam Muatan Lokal ABS-SBK

Pembelajaran Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) pada Fase B perlu dirancang untuk mengembangkan pemahaman peserta didik terhadap sejarah, nilai adat, aturan masyarakat, serta tradisi dan kesenian Minangkabau.

Pada kelas III dan IV SD/MI, peserta didik mulai memiliki kemampuan untuk mengamati, membandingkan, mengelompokkan, menjelaskan, dan menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, pembelajaran ABS-SBK tidak sebaiknya hanya dilaksanakan melalui ceramah dan hafalan istilah adat.

Guru perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan makna, mencoba menerapkan nilai, serta merefleksikan pengalaman belajar.

Pendekatan pembelajaran mendalam dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut melalui tiga prinsip utama.

a. Berkesadaran

Peserta didik memahami tujuan pembelajaran dan menyadari manfaat materi yang dipelajari bagi dirinya.

Sebagai contoh, ketika mempelajari ranji keturunan, anak tidak hanya mengetahui hubungan keluarga, tetapi juga menyadari pentingnya mengenal dan menghormati anggota keluarga.

b. Bermakna

Materi pembelajaran dihubungkan dengan pengalaman nyata peserta didik.

Sebagai contoh, ketika mempelajari Kato Nan Ampek, peserta didik mempraktikkan cara berbicara kepada orang tua, guru, teman sebaya, dan anggota keluarga lainnya.

c. Menggembirakan

Pembelajaran dilaksanakan dalam suasana aman, menarik, menantang, dan memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berpartisipasi.

Guru dapat menggunakan cerita, permainan peran, gambar, musik, karya seni, dan kegiatan kelompok.

Ketiga prinsip tersebut saling melengkapi dalam membangun pengalaman belajar yang utuh.

2. Strategi Pembelajaran Mendalam Kelas III SD/MI

Strategi pembelajaran kelas III dikembangkan berdasarkan Tujuan Pembelajaran resmi yang mencakup ranji keturunan, asal-usul nama Minangkabau, Adat Nan Ampek, perilaku baik, panggilan kekerabatan, sikap suka menolong, tradisi kelahiran, dan musik tradisional.

Strategi 1 — Mengenal Ranji Keturunan melalui Bagan Keluarga

Elemen: Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal ranji keturunan sederhana di Minangkabau.

Strategi: Pengamatan, bercerita, dan membuat bagan sederhana.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperlihatkan contoh bagan hubungan keluarga sederhana.

  2. Peserta didik mengamati hubungan antartokoh dalam bagan.

  3. Guru memperkenalkan pengertian ranji keturunan.

  4. Peserta didik menyusun bagan keluarga berdasarkan tokoh rekaan atau keluarga sendiri apabila bersedia.

  5. Anak menjelaskan hubungan antartokoh yang terdapat dalam bagannya.

  6. Guru mengajak peserta didik merefleksikan pentingnya mengenal dan menghormati keluarga.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik memahami bahwa hubungan kekerabatan merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Asesmen:

Kemampuan membaca dan menjelaskan bagan hubungan keluarga sederhana.

Guru perlu menjaga privasi peserta didik. Anak tidak diwajibkan mengungkapkan informasi keluarga yang bersifat pribadi.

Strategi 2 — Menelusuri Asal-Usul Nama Minangkabau melalui Cerita

Elemen: Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal dan menyebutkan asal usul nama Minangkabau.

Strategi: Bercerita, bertanya, dan menceritakan kembali.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru menyampaikan cerita tradisional mengenai asal-usul nama Minangkabau.

  2. Peserta didik mendengarkan cerita.

  3. Guru mengajukan pertanyaan tentang tokoh, peristiwa, dan isi cerita.

  4. Peserta didik menceritakan kembali bagian yang diingat.

  5. Guru menjelaskan secara sederhana perbedaan antara cerita tradisional dan informasi sejarah yang didukung bukti.

  6. Peserta didik menyampaikan hal baru yang dipelajari.

Pembelajaran bermakna:

Anak mengenal salah satu cerita yang hidup dalam tradisi Minangkabau sekaligus mulai belajar memahami pentingnya sumber informasi.

Asesmen:

Kemampuan menyebutkan asal-usul nama Minangkabau berdasarkan cerita yang dipelajari.

Strategi 3 — Memahami Adat Nan Ampek melalui Kartu Konsep

Elemen: Pemahaman Nilai Adat

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal adat nan sabana adat, adat nan taradat, adat nan diadatkan, dan adat istiadat.

Strategi: Pengelompokan kartu, diskusi, dan peta konsep.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperkenalkan empat jenis adat melalui peta konsep.

  2. Peserta didik membaca atau mendengarkan penjelasan sederhana.

  3. Guru membagikan kartu istilah Adat Nan Ampek.

  4. Peserta didik memasangkan istilah dengan penjelasan yang sesuai.

  5. Guru membimbing diskusi tentang contoh penerapannya.

  6. Peserta didik menyusun peta konsep sederhana.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik mulai memahami bahwa kehidupan masyarakat Minangkabau memiliki ketentuan dan kebiasaan adat yang perlu dipelajari secara tepat.

Asesmen:

Kemampuan mengenali dan membedakan keempat jenis adat berdasarkan contoh yang telah dipelajari.

Strategi 4 — Belajar Kejujuran dan Tanggung Jawab melalui Permainan Peran

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid menunjukkan perilaku disiplin, jujur, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung jawab.

Strategi: Bermain peran dan refleksi perilaku.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru menyampaikan cerita tentang situasi sehari-hari di sekolah.

  2. Peserta didik mengidentifikasi pilihan perilaku dalam cerita.

  3. Anak bermain peran secara berkelompok.

  4. Setiap kelompok memperagakan penyelesaian masalah dengan perilaku yang baik.

  5. Guru membimbing diskusi mengenai akibat dari setiap pilihan perilaku.

  6. Peserta didik menyampaikan tindakan baik yang ingin dibiasakan.

Contoh situasi:

Seorang peserta didik menemukan pensil milik temannya yang tertinggal di kelas.

Guru bertanya:

“Apa yang sebaiknya dilakukan?”

“Mengapa kita harus mengembalikannya?”

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik belajar bahwa kejujuran dan tanggung jawab perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.

Asesmen:

Observasi permainan peran dan perilaku selama kegiatan.

Strategi 5 — Mengenal Panggilan Kekerabatan melalui Kartu Keluarga

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal panggilan kekerabatan di Minangkabau.

Strategi: Kartu tokoh, cerita keluarga, dan percakapan.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperlihatkan gambar keluarga rekaan.

  2. Peserta didik mengamati hubungan antartokoh.

  3. Guru memperkenalkan panggilan kekerabatan Minangkabau.

  4. Peserta didik memasangkan kartu tokoh dengan panggilan yang sesuai.

  5. Anak mempraktikkan percakapan sederhana menggunakan panggilan kekerabatan.

  6. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya menghormati anggota keluarga.

Pembelajaran bermakna:

Anak memahami bahwa panggilan kekerabatan menunjukkan hubungan dan tata krama dalam keluarga Minangkabau.

Asesmen:

Kemampuan menggunakan panggilan kekerabatan sesuai hubungan keluarga yang dicontohkan.

Strategi 6 — Membiasakan Suka Menolong melalui Proyek Kebaikan

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Memahami sifat-sifat yang harus dimiliki orang Minang suka menolong.

Strategi: Proyek sederhana dan refleksi.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru membacakan cerita tentang perilaku suka menolong.

  2. Peserta didik mendiskusikan manfaat membantu orang lain.

  3. Anak memilih satu kegiatan menolong yang aman dan sesuai kemampuan.

  4. Peserta didik melaksanakan kegiatan tersebut di sekolah.

  5. Anak menceritakan pengalaman yang diperolehnya.

  6. Guru memberikan penguatan bahwa menolong hendaknya dilakukan dengan ikhlas.

Contoh kegiatan:

Membantu merapikan alat belajar bersama, menolong teman yang kesulitan memahami tugas, atau membantu menjaga kebersihan kelas.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik memahami bahwa kepedulian perlu diwujudkan melalui perbuatan.

Asesmen:

Observasi kegiatan dan refleksi sederhana.

Strategi 7 — Mengenal Tradisi Turun Mandi melalui Cerita Bergambar

Elemen: Adat Salingka Nagari

Tujuan Pembelajaran: Murid mendeskripsikan upacara adat seperti upacara kelahiran, turun mandi di Minangkabau.

Strategi: Cerita bergambar dan diskusi budaya.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperlihatkan gambar atau ilustrasi tradisi turun mandi.

  2. Peserta didik mengamati gambar.

  3. Guru menjelaskan tradisi secara sederhana.

  4. Anak menyebutkan kegiatan yang terlihat.

  5. Guru mengajak peserta didik mengenali nilai kebersamaan dan kepedulian keluarga.

  6. Peserta didik menceritakan kembali tradisi yang dipelajari.

Guru perlu menjelaskan bahwa pelaksanaan tradisi dapat berbeda menurut adat salingka nagari.

Pembelajaran bermakna:

Anak mengenal tradisi yang berkaitan dengan kehidupan keluarga dan masyarakat.

Asesmen:

Kemampuan mendeskripsikan tradisi secara sederhana.

Strategi 8 — Mengenal dan Memainkan Musik Tradisional

Elemen: Adat Salingka Nagari

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal seni musik tradisional Minangkabau dan mampu memainkan salah satu alat musik tradisional Minangkabau.

Strategi: Demonstrasi, pengamatan bunyi, dan praktik.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperkenalkan beberapa alat musik tradisional Minangkabau.

  2. Peserta didik mengamati bentuk dan mendengarkan bunyinya.

  3. Guru memperagakan cara memainkan salah satu alat musik yang tersedia.

  4. Peserta didik mencoba memainkan pola bunyi sederhana.

  5. Anak berlatih secara berkelompok.

  6. Kelompok menampilkan hasil latihan.

  7. Guru mengajak peserta didik merefleksikan pengalaman bermusik.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik mengenal seni musik sebagai bagian dari warisan budaya Minangkabau.

Asesmen:

Kemampuan mengenali alat musik dan mencoba memainkannya sesuai tahap perkembangan.

3. Strategi Pembelajaran Mendalam Kelas IV SD/MI

Pada kelas IV, kegiatan pembelajaran dikembangkan untuk membantu peserta didik memahami asal mula keturunan orang Minang, wilayah darek dan rantau, Kato Nan Ampek, kelarasan, Sumbang Duo Baleh, aturan adat, serta seni rupa dan sastra tradisional.

Strategi 1 — Mengenal Asal Mula Keturunan Orang Minang melalui Penelusuran Sumber

Elemen: Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengetahui asal mula keturunan orang Minang.

Strategi: Membaca sumber sederhana, bercerita, dan diskusi.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru menyediakan bacaan sederhana mengenai asal mula keturunan orang Minang.

  2. Peserta didik membaca atau mendengarkan penjelasan guru.

  3. Anak mengidentifikasi informasi penting.

  4. Guru menjelaskan perbedaan antara cerita dalam tambo dan kajian sejarah.

  5. Peserta didik membuat ringkasan bergambar.

  6. Guru mengajak anak menyampaikan hasil pemahamannya.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik belajar mengenal asal-usul masyarakat Minangkabau sekaligus memahami pentingnya menggunakan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Asesmen:

Kemampuan menjelaskan informasi yang telah dipelajari.

Strategi 2 — Mengenal Wilayah Darek dan Rantau melalui Peta

Elemen: Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid menjelaskan wilayah alam Minangkabau dalam hal ini wilayah darek dan rantau.

Strategi: Pengamatan peta dan diskusi kelompok.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperlihatkan peta wilayah Minangkabau.

  2. Peserta didik mengamati wilayah yang ditunjukkan.

  3. Guru menjelaskan pengertian darek dan rantau secara sederhana.

  4. Anak mengidentifikasi contoh wilayah berdasarkan sumber belajar.

  5. Peserta didik memberi tanda pada peta sederhana.

  6. Kelompok menjelaskan hasil pengamatannya.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik memahami bahwa wilayah kehidupan masyarakat Minangkabau memiliki perkembangan sejarah dan budaya.

Asesmen:

Kemampuan menunjukkan dan menjelaskan contoh wilayah darek dan rantau.

Strategi 3 — Mempraktikkan Kato Nan Ampek melalui Drama Pendek

Elemen: Pemahaman Nilai Adat

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal Kato Nan Ampek.

Strategi: Drama pendek dan analisis situasi percakapan.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperkenalkan Kato Mandaki, Kato Manurun, Kato Mandata, dan Kato Malereng.

  2. Peserta didik mendengarkan contoh percakapan.

  3. Guru membagikan kartu situasi.

  4. Peserta didik menyusun percakapan sederhana.

  5. Kelompok memperagakan percakapan.

  6. Guru membimbing diskusi tentang kesesuaian pilihan kata dan sikap.

Contoh situasi:

Seorang anak meminta izin kepada gurunya.

Dua teman sebaya berdiskusi tentang permainan.

Seorang kakak memberikan nasihat kepada adiknya.

Seseorang menyampaikan maksud secara halus kepada kerabat dalam situasi yang sesuai.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik memahami bahwa bahasa mencerminkan penghormatan dan kepantasan dalam berkomunikasi.

Asesmen:

Kemampuan mengenali situasi dan menggunakan ungkapan yang sesuai.

Strategi 4 — Mengenal Kelarasan melalui Bagan Perbandingan

Elemen: Pemahaman Nilai Adat

Tujuan Pembelajaran: Murid memahami sistem kelarasan di Minangkabau.

Strategi: Pengamatan bagan dan diskusi.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperkenalkan pengertian kelarasan secara sederhana.

  2. Peserta didik mengamati bagan pengenalan Koto Piliang dan Bodi Caniago.

  3. Guru menjelaskan ciri umum berdasarkan sumber yang digunakan.

  4. Peserta didik mendiskusikan persamaan dan perbedaannya.

  5. Kelompok membuat bagan perbandingan sederhana.

  6. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya menghargai keragaman dalam masyarakat adat.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik mulai memahami bahwa masyarakat Minangkabau mengenal sistem adat dan kepemimpinan yang memiliki kekhasan.

Asesmen:

Kemampuan menjelaskan pengertian kelarasan dan menyebutkan contoh yang dipelajari.

Strategi 5 — Memahami Sumbang Duo Baleh melalui Studi Kasus

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Memahami Sumbang Duo Baleh.

Strategi: Pengamatan ilustrasi, studi kasus, dan permainan peran.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperkenalkan pengertian Sumbang Duo Baleh.

  2. Peserta didik mengamati ilustrasi perilaku sehari-hari.

  3. Guru mengajak anak mengidentifikasi perilaku yang patut dan kurang patut.

  4. Peserta didik mendiskusikan alasan suatu perilaku perlu diperbaiki.

  5. Kelompok memperagakan contoh perilaku yang santun.

  6. Guru menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan di sekolah dan rumah.

Contoh kasus:

Seorang anak memotong pembicaraan guru ketika guru sedang menjelaskan.

Pertanyaan diskusi:

“Apa yang kurang tepat dari perilaku tersebut?”

“Bagaimana cara menyampaikan pertanyaan dengan santun?”

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik memahami bahwa tata krama bertujuan menjaga kehormatan, kenyamanan, dan hubungan baik antarmanusia.

Asesmen:

Kemampuan mengidentifikasi perilaku dan memberikan contoh perbaikannya.

Strategi 6 — Mengenal Undang Nan Salapan dan Undang-Undang Nan Duo Baleh melalui Kartu Aturan

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal Undang Nan Salapan dan Undang-Undang Nan Duo Baleh.

Strategi: Pengamatan kartu konsep, membaca, dan diskusi.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperkenalkan istilah Undang Nan Salapan dan Undang-Undang Nan Duo Baleh.

  2. Peserta didik mengamati kartu istilah dan penjelasan yang disiapkan guru.

  3. Guru menjelaskan materi menggunakan sumber adat yang dapat dipertanggungjawabkan.

  4. Peserta didik mendiskusikan manfaat aturan dalam kehidupan masyarakat.

  5. Kelompok menyusun ringkasan sederhana.

  6. Guru mengajak anak merefleksikan pentingnya menaati aturan.

Materi disampaikan secara bertahap dan sesuai usia. Guru tidak perlu memberikan pembahasan hukum adat yang terlalu rumit kepada peserta didik kelas IV.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik memahami bahwa aturan adat memiliki fungsi dalam menjaga ketertiban kehidupan bersama.

Asesmen:

Kemampuan mengenali istilah aturan adat dan menjelaskan manfaat adanya aturan.

Strategi 7 — Berkarya Seni Rupa Tradisional Minangkabau

Elemen: Adat Salingka Nagari

Tujuan Pembelajaran: Murid membuat karya seni rupa tradisional Minangkabau.

Strategi: Pengamatan karya, demonstrasi, dan praktik kreatif.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru memperlihatkan contoh karya seni rupa tradisional Minangkabau.

  2. Peserta didik mengamati bentuk dan motif.

  3. Guru menjelaskan secara sederhana ciri karya yang dipelajari.

  4. Anak memilih motif atau bentuk yang akan dibuat.

  5. Peserta didik membuat karya menggunakan bahan yang aman.

  6. Anak memamerkan dan menceritakan hasil karyanya.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik mengenal keindahan dan kekhasan seni rupa tradisional Minangkabau.

Asesmen:

Proses berkarya, kesesuaian karya dengan tugas, dan kemampuan menjelaskan hasil karya.

Strategi 8 — Mengenal Sastra Tradisional melalui Pantun dan Cerita

Elemen: Adat Salingka Nagari

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal seni sastra tradisional Minangkabau.

Strategi: Mendengarkan, membaca, dan mengapresiasi karya sastra.

Langkah pembelajaran:

  1. Guru membacakan pantun atau karya sastra tradisional sederhana.

  2. Peserta didik mendengarkan dengan saksama.

  3. Guru mengajak anak mengenali isi dan pesan karya.

  4. Peserta didik berlatih membaca pantun.

  5. Anak mencoba melengkapi pantun sederhana dengan bimbingan.

  6. Peserta didik menyampaikan pesan yang dipahami.

Pembelajaran bermakna:

Peserta didik mengenal sastra tradisional sebagai sarana menyampaikan pesan, nasihat, dan nilai kehidupan.

Asesmen:

Kemampuan mengenali bentuk karya sastra dan menyampaikan pesan sederhana yang terkandung di dalamnya.

4. Mengintegrasikan Nilai ABS-SBK dalam Budaya Sekolah

Pembelajaran ABS-SBK hendaknya tidak berhenti pada kegiatan di ruang kelas.

Guru dapat menghubungkan materi dengan pembiasaan perilaku di lingkungan sekolah.

Contohnya:

  • Membiasakan berbicara santun kepada guru dan teman.

  • Menunjukkan kejujuran dalam mengerjakan tugas.

  • Membantu teman yang memerlukan pertolongan.

  • Menjaga ketertiban dalam kegiatan kelompok.

  • Menghormati perbedaan kebiasaan keluarga dan nagari.

  • Menghargai karya dan pendapat orang lain.

Pembiasaan tersebut perlu dilaksanakan melalui keteladanan dan penguatan positif.

5. Memanfaatkan Lingkungan Nagari sebagai Sumber Belajar

Lingkungan nagari merupakan sumber belajar yang kaya untuk pembelajaran ABS-SBK.

Guru dapat memanfaatkan cerita masyarakat, bangunan tradisional, permainan, alat musik, seni rupa, dan sastra lisan yang masih dikenal di lingkungan setempat.

Apabila memungkinkan, guru dapat menghadirkan narasumber yang memahami adat atau kesenian Minangkabau.

Namun, pemanfaatan lingkungan nagari perlu mempertimbangkan keamanan, ketersediaan sarana, dan kesesuaian kegiatan dengan usia peserta didik.

Guru juga perlu memperhatikan bahwa praktik adat dapat berbeda antara satu nagari dan nagari lainnya.

Perbedaan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk belajar menghargai keragaman adat salingka nagari.

6. Strategi Diferensiasi Pembelajaran

Setiap peserta didik memiliki kemampuan, pengalaman, dan kebutuhan belajar yang berbeda.

Guru perlu memberikan kesempatan kepada semua anak untuk memahami materi dan menunjukkan hasil belajarnya.

Contohnya:

Peserta didik yang memerlukan pendampingan

Diberikan gambar yang lebih jelas, contoh tambahan, pertanyaan sederhana, atau bantuan saat melakukan kegiatan.

Peserta didik yang telah memahami materi

Diberikan kesempatan membandingkan contoh, menyusun penjelasan, atau mengembangkan karya yang lebih beragam.

Peserta didik dengan kebutuhan belajar tertentu

Diberikan alternatif cara berpartisipasi, seperti menjawab secara lisan, menunjuk gambar, menggunakan alat bantu, atau bekerja dengan pendampingan.

Penyesuaian dilakukan tanpa membedakan penghargaan terhadap martabat setiap peserta didik.

7. Strategi Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam

Asesmen perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Guru dapat menggunakan beberapa teknik, antara lain:

  1. Observasi.

  2. Tanya jawab.

  3. Unjuk kerja.

  4. Hasil karya.

  5. Diskusi kelompok.

  6. Catatan anekdot.

  7. Refleksi sederhana.

Sebagai contoh, pada pembelajaran Kato Nan Ampek, guru dapat mengamati kemampuan peserta didik memilih ungkapan yang sesuai dengan situasi percakapan.

Pada pembelajaran musik tradisional, guru dapat mengamati keterampilan mencoba memainkan alat musik.

Pada pembelajaran Sumbang Duo Baleh, guru dapat menilai kemampuan peserta didik mengenali perilaku yang perlu diperbaiki dan menjelaskan alasannya.

Asesmen hendaknya memberikan informasi untuk memperbaiki pembelajaran, bukan sekadar menghasilkan angka.

8. Refleksi Peserta Didik

Pada akhir kegiatan, guru dapat mengajak peserta didik melakukan refleksi melalui pertanyaan sederhana.

Contohnya:

  1. Apa hal baru yang kamu pelajari hari ini?

  2. Bagian mana yang paling menarik?

  3. Mengapa materi ini penting bagi kehidupanmu?

  4. Perilaku baik apa yang dapat kamu praktikkan?

  5. Apa yang masih ingin kamu ketahui?

Peserta didik dapat menjawab secara lisan, tertulis singkat, atau melalui gambar.

9. Refleksi Guru

Guru juga perlu melakukan refleksi setelah melaksanakan pembelajaran.

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan adalah:

  1. Apakah kegiatan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran?

  2. Apakah peserta didik memahami materi yang dipelajari?

  3. Apakah semua anak memperoleh kesempatan berpartisipasi?

  4. Apakah kegiatan belajar berlangsung dengan berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?

  5. Apakah media yang digunakan membantu pemahaman?

  6. Apakah asesmen memberikan informasi yang diperlukan?

  7. Apa yang perlu diperbaiki pada pembelajaran berikutnya?

Hasil refleksi menjadi dasar untuk menyempurnakan strategi pembelajaran.

10. Penutup

Strategi Pembelajaran Mendalam Muatan Lokal ABS-SBK Fase B perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, mempraktikkan, dan merefleksikan nilai-nilai adat serta budaya Minangkabau.

Melalui cerita, pengamatan, diskusi, permainan peran, kegiatan seni, dan pengalaman nyata, pembelajaran dapat menjadi lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Guru memiliki ruang untuk mengembangkan metode dan media sesuai dengan kondisi sekolah, kebutuhan peserta didik, serta kekhasan adat salingka nagari.

Dengan demikian, pendidikan ABS-SBK diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mengetahui istilah dan aturan adat, tetapi juga anak-anak yang mulai memahami makna dan manfaat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan.

“Adat tidak cukup diajarkan sebagai pengetahuan yang dihafalkan, tetapi perlu dihidupkan melalui keteladanan, pengalaman, dan pembiasaan yang bermakna.”

E. Contoh Kegiatan Pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK Fase B Kelas III dan IV SD/MI

1. Pengantar

Pembelajaran Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) perlu memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik agar nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.

Pada Fase B, yaitu kelas III dan IV SD/MI, guru dapat mengembangkan pembelajaran melalui kegiatan mengamati, bertanya, mencoba, berdiskusi, berkarya, dan melakukan refleksi.

Contoh-contoh berikut merupakan alternatif kegiatan pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, serta adat salingka nagari.

Setiap kegiatan dirancang berdasarkan tiga prinsip pembelajaran mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

2. Contoh Pembelajaran Kelas III: Mengenal Ranji Keturunan Minangkabau

Elemen: Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal ranji keturunan sederhana di Minangkabau.

Alokasi waktu contoh: 2 JP, disesuaikan dengan ketentuan durasi jam pelajaran SD/MI.

Media: Gambar keluarga rekaan, kartu nama anggota keluarga, kertas gambar, dan pensil warna.

A. Kegiatan Pembuka

Guru menyapa peserta didik dan mengajak mereka memperhatikan gambar sebuah keluarga.

Guru mengajukan pertanyaan pemantik:

  • Siapa saja anggota keluarga yang terlihat pada gambar?

  • Apa hubungan antara ibu dan anak?

  • Siapa yang disebut mamak dalam hubungan kekerabatan Minangkabau?

  • Mengapa kita perlu mengenal hubungan keluarga?

Guru menyampaikan bahwa pembelajaran hari ini bertujuan mengenal ranji keturunan sederhana.

B. Kegiatan Inti

Mengamati

Peserta didik mengamati contoh ranji keturunan yang telah disiapkan guru.

Memahami

Guru menjelaskan bahwa ranji merupakan bagan hubungan keturunan. Dalam masyarakat Minangkabau, garis keturunan adat mengikuti pihak ibu.

Mencoba

Peserta didik menyusun ranji sederhana menggunakan kartu tokoh keluarga rekaan.

Mengomunikasikan

Setiap kelompok menjelaskan hubungan antartokoh pada ranji yang dibuat.

Menerapkan

Guru mengajak peserta didik menghubungkan pembelajaran dengan pentingnya mengenal dan menghormati keluarga.

C. Kegiatan Penutup

Peserta didik menjawab pertanyaan refleksi:

“Apa yang kamu pelajari tentang ranji?”

“Mengapa hubungan keluarga penting untuk diketahui?”

Guru memberikan penguatan bahwa mengenal hubungan keluarga dapat membantu anak memahami kekerabatan dan menghormati anggota keluarga.

D. Asesmen

Guru mengamati kemampuan peserta didik dalam:

  1. Mengenali hubungan antartokoh keluarga.

  2. Membaca ranji sederhana.

  3. Menjelaskan hubungan keluarga menggunakan bahasa sendiri.

Produk belajar: Bagan ranji keturunan sederhana.

Catatan: Peserta didik boleh menggunakan keluarga rekaan. Guru tidak mewajibkan anak membuka informasi pribadi atau keadaan keluarganya.

3. Contoh Pembelajaran Kelas III: Mengenal Adat Nan Ampek

Elemen: Pemahaman Nilai Adat

Tujuan Pembelajaran:

  1. Murid mengenal adat nan sabana adat.

  2. Murid mengenal adat nan taradat.

  3. Murid mengenal adat nan diadatkan.

  4. Murid mengenal adat istiadat.

Alokasi waktu contoh: 2 JP untuk pengenalan awal. Pendalaman materi dapat dilakukan pada pertemuan berikutnya.

Media: Peta konsep, kartu istilah, gambar, dan lembar kerja.

A. Kegiatan Pembuka

Guru mengajukan pertanyaan:

“Mengapa dalam masyarakat ada aturan dan kebiasaan?”

“Apakah semua kebiasaan masyarakat sama?”

Guru menjelaskan bahwa masyarakat Minangkabau mengenal pengelompokan adat yang disebut Adat Nan Ampek.

B. Kegiatan Inti

Mengamati

Peserta didik memperhatikan peta konsep Adat Nan Ampek.

Memahami

Guru menjelaskan secara sederhana keempat istilah adat dengan merujuk pada bahan ajar yang sesuai.

Mencoba

Peserta didik bekerja dalam kelompok untuk memasangkan kartu istilah dengan penjelasan yang telah dipelajari.

Mendiskusikan

Setiap kelompok menyampaikan hasil pekerjaannya.

Mengembangkan Pemahaman

Guru mengajak peserta didik mengenali contoh kebiasaan masyarakat di lingkungan nagari dan menjelaskan bahwa pengelompokan suatu ketentuan adat harus didasarkan pada pemahaman yang tepat.

C. Kegiatan Penutup

Peserta didik menyebutkan kembali empat jenis adat.

Guru menanyakan:

“Apa manfaat mempelajari aturan dan kebiasaan masyarakat?”

D. Asesmen

Peserta didik dinilai berdasarkan kemampuan:

  1. Menyebutkan empat jenis adat.

  2. Memasangkan istilah dengan penjelasan yang tepat.

  3. Menyampaikan satu hal baru yang dipahami.

Produk belajar: Peta konsep Adat Nan Ampek.

4. Contoh Pembelajaran Kelas III: Mengenal Panggilan Kekerabatan

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal panggilan kekerabatan di Minangkabau.

Alokasi waktu contoh: 2 JP.

Media: Gambar keluarga, kartu tokoh, dan kartu panggilan kekerabatan.

A. Kegiatan Pembuka

Guru menunjukkan gambar sebuah keluarga Minangkabau.

Pertanyaan pemantik:

“Siapa yang disebut mamak?”

“Apa hubungan mamak dengan kamanakan?”

“Mengapa kita menggunakan panggilan yang berbeda kepada anggota keluarga?”

B. Kegiatan Inti

Mengamati

Peserta didik mengamati gambar hubungan keluarga.

Memahami

Guru menjelaskan panggilan kekerabatan sesuai hubungan keluarga, seperti mamak, kamanakan, mandeh, apak, dan inyiak.

Mencoba

Peserta didik memasangkan kartu tokoh dengan panggilan kekerabatan yang sesuai.

Bermain Peran

Anak mempraktikkan percakapan sederhana menggunakan panggilan kekerabatan.

Merefleksikan

Guru mengajak peserta didik memahami bahwa penggunaan panggilan yang tepat merupakan bagian dari tata krama keluarga.

C. Kegiatan Penutup

Peserta didik menyebutkan panggilan kekerabatan yang baru dipelajari.

Guru memberikan penguatan mengenai pentingnya menghormati anggota keluarga.

D. Asesmen

Guru mengamati kemampuan peserta didik mengenali hubungan keluarga dan menggunakan panggilan yang sesuai.

Produk belajar: Kartu hubungan kekerabatan.

5. Contoh Pembelajaran Kelas III: Mengenal Musik Tradisional Minangkabau

Elemen: Adat Salingka Nagari

Tujuan Pembelajaran:

  1. Murid mengenal seni musik tradisional Minangkabau.

  2. Murid mampu memainkan salah satu alat musik tradisional Minangkabau.

Alokasi waktu contoh: 2 JP untuk pengenalan dan latihan awal. Latihan dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Media: Alat musik tradisional yang tersedia, gambar, serta rekaman bunyi.

A. Kegiatan Pembuka

Guru memperdengarkan bunyi alat musik tradisional.

Pertanyaan pemantik:

“Pernahkah kamu mendengar bunyi seperti ini?”

“Alat musik apa yang menghasilkan bunyi tersebut?”

B. Kegiatan Inti

Mengamati

Peserta didik memperhatikan bentuk alat musik.

Memahami

Guru menjelaskan nama dan cara memainkan alat musik yang dipelajari.

Mencoba

Guru memperagakan pola bunyi sederhana.

Peserta didik mencoba memainkan alat musik secara bergiliran.

Berkolaborasi

Peserta didik berlatih menghasilkan pola bunyi sederhana secara berkelompok.

Mengapresiasi

Setiap kelompok menampilkan hasil latihan.

C. Kegiatan Penutup

Guru mengajak peserta didik menyampaikan pengalaman mencoba alat musik tradisional.

D. Asesmen

Asesmen meliputi:

  1. Kemampuan mengenali alat musik.

  2. Keberanian mencoba.

  3. Kemampuan mengikuti pola bunyi sederhana.

  4. Kerja sama dalam kelompok.

Produk belajar: Penampilan musik sederhana.

6. Contoh Pembelajaran Kelas IV: Mengenal Wilayah Darek dan Rantau

Elemen: Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid menjelaskan wilayah alam Minangkabau dalam hal ini wilayah darek dan rantau.

Alokasi waktu contoh: 2 JP.

Media: Peta, kartu nama wilayah, dan lembar kerja.

A. Kegiatan Pembuka

Guru memperlihatkan peta wilayah Minangkabau.

Pertanyaan pemantik:

“Di manakah letak daerah tempat tinggal kita?”

“Apakah orang Minangkabau hanya tinggal di satu wilayah?”

B. Kegiatan Inti

Mengamati

Peserta didik memperhatikan peta yang ditampilkan.

Memahami

Guru menjelaskan pengertian wilayah darek dan rantau menggunakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mencoba

Peserta didik mengamati kartu nama wilayah dan mencocokkannya dengan peta.

Berdiskusi

Kelompok menjelaskan hasil pengamatannya.

Mengomunikasikan

Peserta didik menyampaikan perbedaan umum wilayah darek dan rantau berdasarkan materi yang dipelajari.

C. Kegiatan Penutup

Guru mengajak peserta didik menyimpulkan pembelajaran.

Pertanyaan refleksi:

“Apa yang kamu ketahui tentang darek dan rantau?”

D. Asesmen

Peserta didik dinilai berdasarkan kemampuan mengenali, menunjukkan, dan menjelaskan contoh wilayah pada peta.

Produk belajar: Peta sederhana wilayah darek dan rantau.

7. Contoh Pembelajaran Kelas IV: Mempraktikkan Kato Nan Ampek

Elemen: Pemahaman Nilai Adat

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal Kato Mandaki, Kato Malereng, Kato Mandata, dan Kato Manurun.

Alokasi waktu contoh: 2 JP.

Media: Kartu situasi, contoh dialog, dan lembar pengamatan.

A. Kegiatan Pembuka

Guru memperagakan dua contoh percakapan dengan pilihan kata dan sikap yang berbeda.

Peserta didik diminta memperhatikan perbedaannya.

Pertanyaan pemantik:

“Apakah cara berbicara kepada guru sama dengan cara berbicara kepada teman sebaya?”

“Mengapa kita perlu memilih kata yang sesuai?”

B. Kegiatan Inti

Mengamati

Peserta didik mendengarkan contoh percakapan.

Memahami

Guru menjelaskan empat jenis Kato Nan Ampek.

Mencoba

Peserta didik menerima kartu situasi percakapan.

Bermain Peran

Kelompok menyusun dan memperagakan dialog sederhana.

Menganalisis

Guru mengajak peserta didik mengidentifikasi pilihan kata, sikap, dan situasi percakapan.

Menerapkan

Peserta didik menyampaikan contoh penggunaan Kato Nan Ampek dalam kehidupan sehari-hari.

C. Kegiatan Penutup

Peserta didik menjawab pertanyaan:

“Mengapa kita harus berbicara dengan santun?”

“Bagaimana cara meminta izin kepada orang yang lebih tua?”

D. Asesmen

Asesmen dilakukan melalui observasi permainan peran dengan memperhatikan:

  1. Kesesuaian ungkapan dengan situasi.

  2. Kesantunan berbicara.

  3. Pemahaman jenis Kato Nan Ampek.

  4. Kemampuan bekerja sama.

Produk belajar: Dialog atau drama pendek.

8. Contoh Pembelajaran Kelas IV: Memahami Sumbang Duo Baleh

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Memahami Sumbang Duo Baleh.

Alokasi waktu contoh: 2 JP untuk satu atau dua contoh perilaku. Materi lengkap perlu dibagi ke beberapa pertemuan.

Media: Gambar perilaku, kartu kasus, dan lembar kerja.

A. Kegiatan Pembuka

Guru memperlihatkan dua ilustrasi perilaku ketika berbicara kepada orang lain.

Satu ilustrasi menunjukkan perilaku santun, sedangkan ilustrasi lainnya menunjukkan perilaku yang kurang patut.

Pertanyaan pemantik:

“Perilaku mana yang lebih baik?”

“Mengapa perilaku tersebut perlu dibiasakan?”

B. Kegiatan Inti

Mengamati

Peserta didik mengamati ilustrasi.

Memahami

Guru memperkenalkan pengertian Sumbang Duo Baleh sebagai pedoman mengenali perilaku yang dipandang kurang patut dalam tata krama adat Minangkabau.

Menganalisis

Peserta didik mendiskusikan contoh perilaku berdasarkan gambar.

Mencoba

Kelompok memperagakan cara memperbaiki perilaku yang kurang patut.

Merefleksikan

Guru mengajak peserta didik memahami manfaat tata krama dalam menjaga hubungan baik.

C. Kegiatan Penutup

Peserta didik menyebutkan satu perilaku santun yang akan dibiasakan.

Guru memberikan penguatan bahwa pendidikan adat bertujuan membimbing perilaku, bukan mempermalukan orang yang melakukan kesalahan.

D. Asesmen

Guru menilai kemampuan peserta didik:

  1. Mengidentifikasi perilaku yang kurang patut.

  2. Menjelaskan alasan perlunya perbaikan.

  3. Memperagakan perilaku yang lebih santun.

Produk belajar: Kartu contoh perilaku santun.

9. Contoh Pembelajaran Kelas IV: Membuat Karya Seni Rupa Tradisional

Elemen: Adat Salingka Nagari

Tujuan Pembelajaran: Murid membuat karya seni rupa tradisional Minangkabau.

Alokasi waktu contoh: 2 JP atau lebih sesuai tingkat kesulitan karya.

Media: Gambar motif tradisional, kertas, pensil, dan alat mewarnai.

A. Kegiatan Pembuka

Guru memperlihatkan gambar karya seni rupa tradisional Minangkabau.

Pertanyaan pemantik:

“Pernahkah kamu melihat motif seperti ini?”

“Di mana motif tersebut dapat ditemukan?”

B. Kegiatan Inti

Mengamati

Peserta didik memperhatikan bentuk dan pola motif.

Memahami

Guru memperkenalkan ciri motif yang dipelajari serta menjelaskan bahwa motif tradisional dapat memiliki makna tertentu.

Mencoba

Peserta didik membuat karya sederhana yang terinspirasi dari motif tradisional.

Berkreasi

Anak menyelesaikan karya menggunakan bahan yang tersedia.

Mengomunikasikan

Peserta didik memperlihatkan dan menjelaskan hasil karyanya.

C. Kegiatan Penutup

Guru mengajak peserta didik menyampaikan pengalaman berkarya dan pentingnya menghargai seni tradisional.

D. Asesmen

Guru memperhatikan:

  1. Keterlibatan dalam proses berkarya.

  2. Pemahaman terhadap motif yang dipelajari.

  3. Ketelitian dan usaha.

  4. Kemampuan menjelaskan karya.

Produk belajar: Karya seni rupa sederhana.

10. Mengintegrasikan Kegiatan Pembelajaran dengan Kehidupan Sehari-hari

Kegiatan pembelajaran ABS-SBK akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan kehidupan peserta didik.

Sebagai contoh, pembelajaran ranji keturunan dapat dihubungkan dengan panggilan kekerabatan.

Pembelajaran Kato Nan Ampek dapat dihubungkan dengan tata krama berbicara kepada guru dan anggota keluarga.

Pembelajaran Sumbang Duo Baleh dapat dihubungkan dengan pembiasaan perilaku santun di sekolah.

Pembelajaran seni musik dan seni rupa tradisional dapat dihubungkan dengan kegiatan budaya yang dikenal di lingkungan nagari.

Melalui pengintegrasian tersebut, peserta didik memperoleh kesempatan untuk melihat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan kehidupan nyata.

11. Prinsip Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Dalam melaksanakan contoh kegiatan di atas, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip.

Pertama, sesuai Tujuan Pembelajaran.

Kegiatan harus dirancang berdasarkan kemampuan yang diharapkan dicapai peserta didik.

Kedua, sesuai tahap perkembangan.

Materi dan kegiatan perlu disesuaikan dengan usia serta kemampuan peserta didik kelas III dan IV.

Ketiga, kontekstual.

Pembelajaran menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan anak dan lingkungan nagari.

Keempat, inklusif.

Setiap peserta didik memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

Kelima, mengutamakan keteladanan.

Guru menunjukkan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai adat dan kesantunan yang diajarkan.

Keenam, memberikan pengalaman langsung.

Peserta didik diberi kesempatan mengamati, mencoba, mempraktikkan, dan menghasilkan karya.

Ketujuh, disertai refleksi.

Guru membantu peserta didik menyadari manfaat materi yang telah dipelajari.

12. Penutup

Contoh kegiatan pembelajaran ABS-SBK Fase B menunjukkan bahwa pendidikan adat dan budaya Minangkabau dapat dilaksanakan melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Guru dapat memanfaatkan gambar, cerita, peta, kartu konsep, permainan peran, musik, dan karya seni untuk membantu anak memahami materi.

Contoh kegiatan tersebut bukan format baku yang harus digunakan secara seragam oleh seluruh sekolah.

Guru memiliki ruang untuk menyesuaikan pembelajaran dengan Tujuan Pembelajaran, kebutuhan peserta didik, ketersediaan sarana, serta kekhasan adat salingka nagari.

Dengan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, nilai-nilai ABS-SBK diharapkan semakin mudah dipahami dan mulai dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak akan lebih mudah memahami nilai adat ketika ia tidak hanya mendengarnya, tetapi juga melihat contohnya, mencoba melakukannya, dan merasakan manfaatnya.”

F. Asesmen Pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI

1. Pengertian dan Tujuan Asesmen

Asesmen merupakan proses mengumpulkan dan mengolah informasi untuk mengetahui kebutuhan, perkembangan, serta pencapaian hasil belajar peserta didik.

Dalam pembelajaran Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), asesmen tidak hanya diarahkan untuk mengetahui kemampuan peserta didik mengingat istilah adat dan budaya Minangkabau.

Asesmen juga perlu memperhatikan kemampuan peserta didik dalam memahami makna, menjelaskan konsep, mempraktikkan keterampilan, dan menerapkan nilai-nilai yang dipelajari.

Pada Fase B, yaitu kelas III dan IV SD/MI, asesmen dilaksanakan sesuai dengan Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran yang tercantum dalam Lampiran I dan II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

Asesmen bertujuan untuk:

  1. Mengetahui kesiapan dan kebutuhan belajar peserta didik.

  2. Memantau perkembangan pemahaman selama pembelajaran.

  3. Menilai pencapaian Tujuan Pembelajaran.

  4. Memberikan umpan balik yang membangun.

  5. Menentukan tindak lanjut pembelajaran.

  6. Membantu guru memperbaiki strategi dan kegiatan belajar.

2. Prinsip Asesmen Pembelajaran ABS-SBK

Asesmen perlu dilaksanakan berdasarkan prinsip berikut.

a. Berorientasi pada Tujuan Pembelajaran

Setiap instrumen penilaian harus sesuai dengan kemampuan yang diharapkan dicapai peserta didik.

b. Adil dan Inklusif

Asesmen memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk menunjukkan kemampuannya sesuai kebutuhan dan kondisi belajar.

c. Autentik dan Kontekstual

Asesmen menggunakan kegiatan yang dekat dengan kehidupan peserta didik, seperti percakapan, pengamatan, permainan peran, karya seni, dan praktik budaya.

d. Berkelanjutan

Asesmen dilakukan selama proses pembelajaran, bukan hanya pada akhir kegiatan.

e. Memberikan Umpan Balik

Hasil asesmen digunakan untuk membantu peserta didik mengetahui perkembangan dan hal yang perlu diperbaiki.

f. Menghargai Proses Belajar

Guru memperhatikan usaha, kemajuan, dan proses belajar, bukan hanya hasil akhir.

3. Asesmen Awal Pembelajaran

Asesmen awal digunakan untuk mengetahui pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik sebelum memulai materi.

Asesmen dapat dilakukan melalui percakapan, pengamatan gambar, pertanyaan sederhana, atau kegiatan singkat.

Contoh asesmen awal kelas III — Ranji Keturunan

Guru menunjukkan gambar keluarga rekaan dan bertanya:

  1. Siapa saja anggota keluarga dalam gambar?

  2. Apa hubungan antara ibu dan anak?

  3. Siapa yang disebut mamak?

  4. Pernahkah kamu melihat bagan hubungan keluarga?

Jawaban peserta didik digunakan untuk menentukan kedalaman penjelasan dan kebutuhan pendampingan.

Contoh asesmen awal kelas IV — Kato Nan Ampek

Guru memperagakan percakapan sederhana dan bertanya:

  1. Bagaimana cara meminta izin kepada guru?

  2. Apakah cara berbicara kepada teman sama dengan cara berbicara kepada orang yang lebih tua?

  3. Apa yang dimaksud dengan berbicara santun?

Guru tidak perlu memberikan nilai angka untuk setiap jawaban. Informasi yang diperoleh digunakan untuk merancang pembelajaran.

4. Asesmen Formatif

Asesmen formatif dilaksanakan selama proses pembelajaran untuk memantau pemahaman peserta didik dan memberikan umpan balik.

Contoh asesmen formatif meliputi:

  • Tanya jawab setelah kegiatan pengamatan.

  • Pengelompokan kartu konsep Adat Nan Ampek.

  • Membaca bagan ranji sederhana.

  • Mempraktikkan percakapan Kato Nan Ampek.

  • Mengidentifikasi contoh perilaku yang berkaitan dengan Sumbang Duo Baleh.

  • Mencoba memainkan alat musik tradisional.

  • Menjelaskan proses pembuatan karya seni rupa.

Contoh asesmen formatif kelas III

Materi: Adat Nan Ampek.

Guru membagikan empat kartu istilah adat dan kartu penjelasan sederhana.

Peserta didik diminta memasangkan istilah dengan penjelasan yang tepat.

Guru mengamati kemampuan peserta didik, kemudian memberikan bantuan kepada anak yang masih mengalami kesulitan.

Contoh asesmen formatif kelas IV

Materi: Kato Nan Ampek.

Peserta didik menerima kartu situasi percakapan.

Anak diminta menentukan cara berbicara yang sesuai dan memperagakannya.

Guru memberikan umpan balik tentang pilihan kata, kesantunan, dan kesesuaian dengan situasi.

5. Asesmen Sumatif

Asesmen sumatif digunakan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar setelah satu atau beberapa Tujuan Pembelajaran diselesaikan.

Bentuk asesmen dapat berupa tes tertulis, tes lisan, unjuk kerja, hasil karya, atau proyek sederhana.

Guru memilih bentuk asesmen sesuai dengan karakteristik materi.

Contoh asesmen sumatif kelas III

MateriBentuk AsesmenBukti Belajar
Ranji keturunanUnjuk kerjaBagan hubungan keluarga sederhana
Asal-usul nama MinangkabauTes lisanPenjelasan berdasarkan cerita yang dipelajari
Adat Nan AmpekTes tertulis sederhanaJawaban pengenalan istilah dan konsep
Panggilan kekerabatanPraktikPenggunaan panggilan yang sesuai
Musik tradisionalUnjuk kerjaPraktik memainkan alat musik

Contoh asesmen sumatif kelas IV

MateriBentuk AsesmenBukti Belajar
Darek dan rantauTes lisan atau tertulisPenjelasan wilayah pada peta
Kato Nan AmpekBermain peranPercakapan sesuai situasi
KelarasanTes tertulis sederhanaPenjelasan konsep yang dipelajari
Sumbang Duo BalehStudi kasusAnalisis perilaku dan perbaikannya
Seni rupa tradisionalProdukKarya seni rupa sederhana
Sastra tradisionalUnjuk kerjaPembacaan atau penjelasan pantun

6. Contoh Instrumen Observasi Sikap

Observasi digunakan untuk mencatat perilaku yang tampak selama proses pembelajaran.

Contoh lembar observasi

Nama peserta didik: ....................................

Kelas: ....................................

Materi: ....................................

Tanggal: ....................................

No.Aspek yang DiamatiSudah TampakPerlu Bimbingan
1Berbicara santun kepada teman☐☐
2Menunjukkan kejujuran dalam kegiatan☐☐
3Melaksanakan tugas kelompok dengan tanggung jawab☐☐
4Menghargai pendapat teman☐☐
5Bersedia membantu teman sesuai kemampuan☐☐

Catatan guru:

....................................................................

....................................................................

Lembar ini merupakan contoh untuk memantau perilaku dalam kegiatan pembelajaran. Guru perlu menghindari pemberian label negatif terhadap peserta didik berdasarkan satu kejadian.

7. Contoh Rubrik Penilaian Kato Nan Ampek Kelas IV

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal Kato Nan Ampek.

Bentuk asesmen: Permainan peran percakapan sederhana.

Kriteria4 — Sangat Baik3 — Baik2 — Mulai Berkembang1 — Perlu Bimbingan
Mengenali jenis katoMengenali semua jenis yang dipelajari dengan tepatMengenali sebagian besar dengan tepatMengenali beberapa jenis dengan bantuanBelum dapat mengenali tanpa bimbingan
Kesesuaian ungkapanUngkapan sesuai dengan situasiSebagian besar sesuaiMasih terdapat beberapa ketidaksesuaianMemerlukan contoh dan bimbingan
Kesantunan berbicaraKonsisten menggunakan sikap santunUmumnya santunPerlu diingatkanMemerlukan pendampingan
Menjelaskan pilihan kataMenjelaskan alasan dengan jelasMenjelaskan alasan sederhanaMenjelaskan dengan bantuanBelum mampu menjelaskan tanpa bimbingan

Cara menggunakan rubrik:

Guru mengamati penampilan peserta didik, kemudian memberikan skor 1 sampai 4 pada setiap kriteria.

Skor maksimal adalah 16.

Hasil rubrik digunakan untuk memberikan umpan balik dan menentukan kegiatan lanjutan. Penetapan nilai akhir mengikuti kebijakan asesmen satuan pendidikan.

8. Contoh Rubrik Penilaian Sumbang Duo Baleh Kelas IV

Tujuan Pembelajaran: Memahami Sumbang Duo Baleh.

Bentuk asesmen: Analisis ilustrasi dan permainan peran.

Kriteria4 — Sangat Baik3 — Baik2 — Mulai Berkembang1 — Perlu Bimbingan
Mengenali perilakuMengidentifikasi perilaku dengan tepat dan lengkapMengidentifikasi sebagian besar dengan tepatMengidentifikasi dengan bantuanBelum mampu mengidentifikasi tanpa bimbingan
Menjelaskan alasanAlasan jelas dan sesuai nilai yang dipelajariAlasan cukup tepatAlasan masih sederhanaMemerlukan bimbingan
Memberikan contoh perbaikanMemberikan contoh yang tepat dan dapat diterapkanMemberikan contoh yang sesuaiContoh masih memerlukan perbaikanBelum mampu memberikan contoh tanpa bantuan
Mempraktikkan perilaku santunPraktik sesuai situasi dan dilakukan mandiriPraktik cukup sesuaiPraktik memerlukan arahanPraktik memerlukan pendampingan

Rubrik ini dapat digunakan untuk menilai pemahaman dan keterampilan peserta didik dalam kegiatan yang dirancang guru.

9. Contoh Rubrik Penilaian Karya Seni Rupa Kelas IV

Tujuan Pembelajaran: Murid membuat karya seni rupa tradisional Minangkabau.

Bentuk asesmen: Penilaian proses dan hasil karya.

Kriteria4 — Sangat Baik3 — Baik2 — Mulai Berkembang1 — Perlu Bimbingan
Pengenalan motifMenjelaskan motif dengan tepatMenjelaskan sebagian besar ciri motifMenjelaskan dengan bantuanBelum dapat menjelaskan
Proses berkaryaMandiri dan mengikuti langkah kerjaMengikuti langkah dengan sedikit bantuanMemerlukan beberapa arahanMemerlukan pendampingan intensif
Kesesuaian karyaKarya menunjukkan ciri motif yang dipelajari dengan jelasSebagian besar ciri terlihatCiri motif masih kurang jelasMemerlukan contoh tambahan
Penjelasan hasil karyaMenjelaskan hasil karya dengan jelasMenjelaskan secara sederhanaMenjelaskan dengan bantuanBelum dapat menjelaskan tanpa bimbingan

Penilaian karya seni hendaknya tidak semata-mata berdasarkan keindahan hasil akhir, tetapi juga memperhatikan pemahaman, usaha, dan proses belajar.

10. Contoh Soal Asesmen Tertulis

Berikut contoh soal sederhana yang dapat dikembangkan guru sesuai materi yang telah diajarkan.

A. Pilihan Ganda Kelas III

  1. Bagan yang menggambarkan hubungan keturunan disebut ....

    A. Ranji
    B. Pantun
    C. Talempong
    D. Marawa

  2. Salah satu bagian dari Adat Nan Ampek adalah ....

    A. Kato Mandaki
    B. Adat Nan Sabana Adat
    C. Saluang
    D. Randai

  3. Saudara laki-laki ibu dalam hubungan kekerabatan Minangkabau disebut ....

    A. Kamanakan
    B. Mamak
    C. Anak daro
    D. Marapulai

  4. Contoh perilaku suka menolong di sekolah adalah ....

    A. Membiarkan teman kesulitan
    B. Mengejek teman
    C. Membantu teman yang memerlukan bantuan
    D. Mengambil barang teman

  5. Salah satu alat musik tradisional Minangkabau adalah ....

    A. Talempong
    B. Komputer
    C. Televisi
    D. Sepeda

Kunci Jawaban Kelas III: 1-A, 2-B, 3-B, 4-C, 5-A.

B. Pilihan Ganda Kelas IV

  1. Dalam pembelajaran wilayah alam Minangkabau, dikenal istilah ....

    A. Darek dan rantau
    B. Sawah dan ladang
    C. Sungai dan danau
    D. Rumah dan halaman

  2. Cara berbicara kepada orang yang lebih tua atau dihormati berkaitan dengan ....

    A. Kato Mandata
    B. Kato Mandaki
    C. Kato Manurun
    D. Adat Istiadat

  3. Salah satu kelarasan yang dikenal dalam adat Minangkabau adalah ....

    A. Koto Piliang
    B. Kato Mandata
    C. Sumbang Makan
    D. Turun Mandi

  4. Tujuan mempelajari Sumbang Duo Baleh antara lain agar peserta didik ....

    A. Mengabaikan tata krama
    B. Memahami perilaku yang patut dan tidak patut
    C. Menghindari kegiatan bersama
    D. Tidak perlu menghormati orang lain

  5. Contoh karya sastra tradisional Minangkabau yang dapat dipelajari anak adalah ....

    A. Pantun
    B. Kalkulator
    C. Kompas
    D. Sepeda

Kunci Jawaban Kelas IV: 1-A, 2-B, 3-A, 4-B, 5-A.

11. Contoh Asesmen Proyek Sederhana

Proyek Kelas III: Bagan Kekerabatan

Peserta didik membuat bagan hubungan keluarga menggunakan tokoh rekaan.

Aspek yang dinilai:

  1. Ketepatan hubungan antartokoh.

  2. Kemampuan menjelaskan bagan.

  3. Kerapian penyajian.

  4. Keterlibatan dalam kegiatan.

Proyek Kelas IV: Buku Mini Kato Nan Ampek

Peserta didik membuat buku mini berisi empat jenis Kato Nan Ampek dan contoh situasi penggunaannya.

Aspek yang dinilai:

  1. Ketepatan pemahaman.

  2. Kesesuaian contoh percakapan.

  3. Kejelasan penyajian.

  4. Kemampuan menjelaskan hasil karya.

Kedua proyek tersebut merupakan contoh pengembangan guru dan dapat disesuaikan dengan waktu serta fasilitas sekolah.

12. Mengolah dan Menindaklanjuti Hasil Asesmen

Hasil asesmen perlu digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah pembelajaran berikutnya.

Peserta didik yang telah mencapai tujuan

Dapat diberikan kegiatan pengayaan, seperti membandingkan contoh, menyusun cerita, atau mengembangkan karya.

Peserta didik yang masih memerlukan bantuan

Diberikan penjelasan ulang, contoh tambahan, latihan bertahap, atau pendampingan.

Peserta didik yang menunjukkan kemajuan

Diberikan umpan balik positif agar semakin percaya diri dan termotivasi.

Guru juga perlu mengevaluasi apakah strategi, media, dan waktu pembelajaran telah sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

13. Pelaporan Hasil Belajar

Pelaporan hasil belajar ABS-SBK hendaknya memberikan gambaran tentang kemampuan yang telah dikuasai peserta didik serta hal-hal yang masih perlu dikembangkan.

Contoh deskripsi hasil belajar:

Kelas III

“Peserta didik telah mampu mengenal ranji keturunan sederhana dan beberapa panggilan kekerabatan Minangkabau. Perlu pendampingan lanjutan untuk menjelaskan Adat Nan Ampek.”

Kelas IV

“Peserta didik telah mampu mengenali jenis Kato Nan Ampek dan mempraktikkan percakapan sederhana sesuai situasi. Perlu latihan lanjutan untuk menjelaskan alasan pemilihan ungkapan.”

Deskripsi disusun berdasarkan bukti hasil belajar, bukan perkiraan atau kesan umum.

14. Penutup

Asesmen Muatan Lokal ABS-SBK Fase B perlu dilaksanakan secara terencana, adil, berkelanjutan, dan sesuai dengan Tujuan Pembelajaran.

Melalui asesmen awal, formatif, dan sumatif, guru memperoleh informasi tentang kesiapan, perkembangan, serta pencapaian belajar peserta didik.

Asesmen juga memberikan kesempatan kepada anak untuk menunjukkan pemahamannya melalui berbagai cara, seperti menjawab pertanyaan, menjelaskan konsep, bermain peran, membuat karya, dan mempraktikkan keterampilan.

Dengan demikian, asesmen tidak hanya berfungsi mengukur hasil belajar, tetapi juga membantu memperbaiki proses pembelajaran serta mendukung perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku peserta didik.

“Asesmen yang baik bukan sekadar menentukan nilai seorang anak, tetapi membantu guru memahami perkembangan belajarnya dan membimbingnya menjadi lebih baik.”

G. Contoh Perencanaan Pembelajaran Mingguan Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI

1. Pengertian Perencanaan Pembelajaran Mingguan

Perencanaan pembelajaran mingguan merupakan rancangan kegiatan belajar yang disusun guru untuk membantu peserta didik mencapai Tujuan Pembelajaran dalam waktu tertentu.

Dalam Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), perencanaan mingguan perlu menghubungkan materi adat dan budaya Minangkabau dengan pengalaman nyata peserta didik.

Perencanaan tersebut mencakup tujuan, materi, kegiatan pembelajaran, media, asesmen, dan tindak lanjut.

Berdasarkan Pasal 11 Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, pelaksanaan ABS-SBK sebagai mata pelajaran tersendiri pada jenjang SD/MI dialokasikan sebanyak 2 jam pelajaran setiap minggu.

Dengan alokasi tersebut, guru perlu memilih kegiatan yang sesuai dengan kemampuan peserta didik dan kedalaman materi.

Materi yang memerlukan praktik atau pendalaman dapat dilaksanakan dalam beberapa pertemuan.

2. Prinsip Penyusunan Perencanaan Mingguan

Guru perlu memperhatikan beberapa prinsip dalam menyusun perencanaan pembelajaran.

Pertama, berpedoman pada Tujuan Pembelajaran resmi.

Materi dan kegiatan harus sesuai dengan TP kelas III dan IV sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

Kedua, disusun secara bertahap.

Materi yang sederhana diberikan terlebih dahulu sebelum materi yang lebih kompleks.

Ketiga, kontekstual.

Kegiatan belajar dihubungkan dengan kehidupan keluarga, sekolah, dan lingkungan nagari.

Keempat, menerapkan pembelajaran mendalam.

Kegiatan dirancang agar berlangsung secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Kelima, fleksibel.

Guru dapat menyesuaikan urutan, waktu, media, dan metode berdasarkan kebutuhan peserta didik.

Keenam, dilengkapi asesmen.

Setiap kegiatan perlu menghasilkan informasi tentang perkembangan dan pencapaian belajar.

3. Contoh Perencanaan Mingguan Kelas III SD/MI

Contoh berikut merupakan rancangan untuk 12 minggu pembelajaran. Urutan dan pembagian waktu dapat disesuaikan dengan Alur Tujuan Pembelajaran yang dikembangkan sekolah.

MingguMateriKegiatan UtamaAsesmen
1Pengenalan ranji keturunanMengamati bagan keluarga rekaanTanya jawab
2Membaca ranji sederhanaMenyusun bagan hubungan keluargaUnjuk kerja
3Asal-usul nama MinangkabauMendengarkan cerita dan berdiskusiTes lisan
4Adat Nan Sabana AdatMengamati kartu konsep dan contohTanya jawab
5Adat Nan DiadatkanMembaca cerita dan mencocokkan kartuLembar kerja
6Adat Nan Taradat dan Adat IstiadatMembandingkan penjelasan sederhanaPeta konsep
7Perilaku jujur dan disiplinBermain peran di lingkungan sekolahObservasi
8Santun, peduli, dan tanggung jawabStudi kasus dan refleksiObservasi
9Panggilan kekerabatanMemasangkan kartu tokoh keluargaUnjuk kerja
10Sikap suka menolongMelaksanakan proyek kebaikan sederhanaRefleksi
11Tradisi kelahiran dan turun mandiMengamati cerita bergambarTes lisan
12Musik tradisional MinangkabauMengenal dan mencoba alat musikUnjuk kerja

Catatan: Materi memainkan alat musik tradisional mungkin memerlukan waktu tambahan. Guru dapat melanjutkannya pada pertemuan berikutnya agar keterampilan yang dituju dapat berkembang.

4. Contoh Rincian Perencanaan Mingguan Kelas III

Minggu ke-1: Mengenal Ranji Keturunan Sederhana

Kelas: III SD/MI

Elemen: Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal ranji keturunan sederhana di Minangkabau.

Alokasi waktu: 2 JP.

Kegiatan pembuka

Guru menunjukkan gambar keluarga rekaan dan mengajukan pertanyaan tentang hubungan antartokoh.

Kegiatan inti

  1. Peserta didik mengamati contoh ranji.

  2. Guru menjelaskan pengertian ranji sederhana.

  3. Peserta didik mengidentifikasi hubungan antartokoh.

  4. Anak menyusun bagan keluarga rekaan.

  5. Kelompok menjelaskan hasil pekerjaannya.

Kegiatan penutup

Peserta didik menyampaikan hal baru yang dipelajari dan manfaat mengenal hubungan keluarga.

Media

Gambar keluarga, kartu tokoh, dan lembar kerja.

Asesmen

Observasi dan penilaian hasil bagan sederhana.

Tindak lanjut

Peserta didik yang memerlukan bantuan diberikan contoh tambahan. Peserta didik yang telah memahami materi dapat mengembangkan bagan dengan hubungan keluarga yang lebih beragam.

5. Contoh Perencanaan Mingguan Kelas IV SD/MI

Contoh berikut juga disusun untuk 12 minggu pembelajaran.

MingguMateriKegiatan UtamaAsesmen
1Asal mula keturunan orang MinangMembaca sumber dan berdiskusiTes lisan
2Wilayah darekMengamati petaLembar kerja
3Wilayah rantauMembandingkan informasi wilayahPresentasi
4Kato Mandaki dan Kato ManurunMengamati dialog dan bermain peranUnjuk kerja
5Kato Mandata dan Kato MalerengMenyusun percakapan sederhanaUnjuk kerja
6Sistem kelarasanMengamati bagan dan berdiskusiPeta konsep
7Pengenalan Sumbang Duo BalehMengamati ilustrasi perilakuTanya jawab
8Penerapan nilai Sumbang Duo BalehStudi kasus dan bermain peranObservasi
9Undang Nan SalapanMembaca kartu konsep dan berdiskusiTes sederhana
10Undang-Undang Nan Duo BalehMengenal istilah dan manfaat aturanTes lisan
11Seni rupa tradisional MinangkabauMengamati motif dan membuat karyaPenilaian produk
12Seni sastra tradisional MinangkabauMembaca pantun dan memahami pesannyaUnjuk kerja

Catatan: Pengenalan Sumbang Duo Baleh dalam dua minggu merupakan contoh pembelajaran awal. Untuk membahas seluruh jenis Sumbang Duo Baleh secara memadai, guru dapat mengalokasikan beberapa pertemuan tambahan.

6. Contoh Rincian Perencanaan Mingguan Kelas IV

Minggu ke-4: Mempraktikkan Kato Mandaki dan Kato Manurun

Kelas: IV SD/MI

Elemen: Pemahaman Nilai Adat

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal Kato Nan Ampek dalam adat Minangkabau.

Fokus pertemuan: Kato Mandaki dan Kato Manurun.

Alokasi waktu: 2 JP.

Kegiatan pembuka

Guru memperagakan dua percakapan sederhana, kemudian mengajak peserta didik mengamati perbedaannya.

Kegiatan inti

  1. Guru menjelaskan Kato Mandaki dan Kato Manurun.

  2. Peserta didik mendengarkan contoh dialog.

  3. Anak mengidentifikasi situasi penggunaan masing-masing jenis kato.

  4. Kelompok menyusun dialog sederhana.

  5. Peserta didik memperagakan dialog.

  6. Guru memberikan umpan balik.

Kegiatan penutup

Peserta didik menyampaikan manfaat menggunakan bahasa yang santun.

Media

Kartu situasi dan contoh percakapan.

Asesmen

Observasi permainan peran dan kemampuan menjelaskan situasi penggunaan kato.

Tindak lanjut

Peserta didik yang masih mengalami kesulitan diberikan contoh dialog tambahan. Peserta didik yang telah memahami materi dapat membuat dialog baru dengan situasi berbeda.

7. Mengintegrasikan Tiga Prinsip Pembelajaran Mendalam

Perencanaan mingguan perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk memahami tujuan, menemukan makna, dan menikmati proses belajar.

PrinsipPenerapan dalam Pembelajaran
BerkesadaranGuru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengajak anak memahami manfaat materi
BermaknaGuru menghubungkan materi dengan kehidupan keluarga, sekolah, dan nagari
MenggembirakanGuru menggunakan cerita, permainan peran, musik, gambar, dan kegiatan kreatif

Sebagai contoh, ketika mempelajari Kato Nan Ampek, peserta didik terlebih dahulu memahami mengapa cara berbicara perlu disesuaikan dengan situasi.

Selanjutnya, mereka menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari dan mempraktikkannya melalui permainan peran.

8. Penyesuaian Perencanaan dengan Kondisi Sekolah

Perencanaan mingguan tidak harus dilaksanakan secara seragam oleh seluruh sekolah.

Guru dapat melakukan penyesuaian berdasarkan:

  1. Kemampuan awal peserta didik.

  2. Ketersediaan bahan ajar.

  3. Sarana dan media pembelajaran.

  4. Kondisi lingkungan sekolah.

  5. Kekhasan adat salingka nagari.

  6. Kalender pendidikan.

  7. Hasil asesmen dan refleksi pembelajaran.

Apabila sekolah memiliki alat musik tradisional, guru dapat mengembangkan kegiatan praktik secara langsung.

Apabila alat musik belum tersedia, guru dapat memulai pembelajaran melalui pengamatan gambar, rekaman bunyi, atau demonstrasi narasumber, kemudian merencanakan kesempatan praktik agar tujuan keterampilan tetap dapat dicapai.

9. Perencanaan Asesmen Mingguan

Asesmen perlu dirancang bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.

Sebagai contoh:

Materi ranji keturunan

Asesmen berupa bagan hubungan keluarga sederhana.

Materi Adat Nan Ampek

Asesmen berupa kartu konsep atau peta konsep.

Materi Kato Nan Ampek

Asesmen berupa permainan peran.

Materi Sumbang Duo Baleh

Asesmen berupa analisis ilustrasi perilaku.

Materi seni musik tradisional

Asesmen berupa praktik memainkan alat musik.

Materi seni rupa tradisional

Asesmen berupa hasil karya dan penjelasannya.

Dengan demikian, asesmen tidak hanya berbentuk tes tertulis, tetapi disesuaikan dengan kemampuan yang dituju.

10. Refleksi dan Perbaikan Perencanaan

Setelah pembelajaran dilaksanakan, guru perlu melakukan refleksi.

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan antara lain:

  1. Apakah tujuan pembelajaran telah tercapai?

  2. Apakah waktu yang tersedia mencukupi?

  3. Apakah peserta didik terlibat aktif?

  4. Apakah materi mudah dipahami?

  5. Apakah kegiatan sudah bermakna?

  6. Apakah asesmen sesuai dengan tujuan?

  7. Apa yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya?

Hasil refleksi digunakan untuk menyempurnakan perencanaan selanjutnya.

11. Catatan tentang Penggunaan Contoh Perencanaan

Perencanaan 12 minggu dalam artikel ini merupakan contoh sebagian rangkaian pembelajaran, bukan program semester lengkap.

Guru tetap perlu menyusun Alur Tujuan Pembelajaran dan perencanaan untuk seluruh waktu belajar yang tersedia.

Pembagian materi harus mempertimbangkan tingkat kesulitan, kebutuhan latihan, serta pencapaian tujuan pembelajaran.

Beberapa tujuan, terutama yang berkaitan dengan keterampilan, pemahaman aturan adat, dan pembiasaan perilaku, memerlukan kegiatan berulang dan pendalaman.

Oleh karena itu, guru tidak perlu memaksakan seluruh materi selesai hanya dalam satu pertemuan.

12. Penutup

Perencanaan pembelajaran mingguan membantu guru melaksanakan Muatan Lokal ABS-SBK Fase B secara terarah, bertahap, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dengan alokasi 2 JP setiap minggu, guru perlu memilih kegiatan yang relevan, menyediakan pengalaman belajar yang bermakna, serta melaksanakan asesmen yang sesuai dengan Tujuan Pembelajaran.

Perencanaan yang baik tidak hanya berisi urutan materi, tetapi juga menggambarkan bagaimana peserta didik memperoleh pengalaman belajar, memahami nilai, mempraktikkan keterampilan, dan melakukan refleksi.

“Perencanaan pembelajaran yang baik bukan sekadar mengatur apa yang diajarkan setiap minggu, tetapi memastikan setiap pertemuan membawa anak semakin dekat kepada pemahaman, keterampilan, dan akhlak yang baik.”

H. Contoh Modul Ajar Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI

1. Pengantar

Modul ajar merupakan salah satu bentuk perencanaan pembelajaran yang membantu guru melaksanakan kegiatan belajar secara terarah dan sistematis.

Dalam pembelajaran Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), modul ajar perlu dirancang berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) yang berlaku.

Modul ajar tidak hanya memuat materi yang akan disampaikan, tetapi juga pengalaman belajar yang akan dilalui peserta didik, media yang digunakan, asesmen, serta kegiatan refleksi.

Pada Fase B, pembelajaran diarahkan agar peserta didik semakin mampu mengenal, memahami, menjelaskan, dan mempraktikkan nilai-nilai adat serta budaya Minangkabau.

Berikut dua contoh modul ajar yang dapat digunakan sebagai referensi dan disesuaikan dengan kondisi sekolah.

MODUL AJAR 1 — KELAS III SD/MI

Mengenal Ranji Keturunan Minangkabau

A. Identitas Modul

KomponenKeterangan
Satuan PendidikanSD/MI
Mata PelajaranMuatan Lokal ABS-SBK
Fase/KelasB / III
ElemenSejarah Minangkabau
MateriRanji Keturunan Sederhana
Alokasi Waktu2 JP
PendekatanPembelajaran Mendalam
MetodePengamatan, tanya jawab, diskusi, dan praktik

B. Capaian Pembelajaran

Berdasarkan Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, salah satu kemampuan yang tercakup dalam CP elemen Sejarah Minangkabau Fase B adalah mengenal ranji keturunan sederhana di Minangkabau.

C. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran resmi:

Murid mengenal ranji keturunan sederhana di Minangkabau.

Indikator ketercapaian yang dikembangkan guru:

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian ranji secara sederhana.

  2. Mengenali hubungan keluarga pada bagan yang ditampilkan.

  3. Mengidentifikasi garis keturunan menurut pihak ibu dalam contoh ranji Minangkabau.

  4. Menyusun bagan ranji sederhana berdasarkan tokoh keluarga rekaan.

  5. Menjelaskan manfaat mengenal hubungan kekerabatan.

D. Pemahaman Bermakna

Ranji keturunan membantu seseorang mengenal hubungan keluarga dan memahami sistem kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau.

Melalui pembelajaran ranji, peserta didik diharapkan semakin menghargai keluarga serta memahami pentingnya menjaga hubungan baik antaranggotanya.

E. Pertanyaan Pemantik

  1. Siapa saja anggota keluarga yang kamu kenal?

  2. Apa hubungan antara seorang ibu dengan anaknya?

  3. Siapa yang disebut mamak dalam keluarga Minangkabau?

  4. Mengapa kita perlu mengetahui hubungan keluarga?

  5. Bagaimana cara menggambarkan hubungan keturunan?

F. Materi Pembelajaran

1. Pengertian Ranji

Ranji adalah bagan atau susunan yang menggambarkan hubungan keturunan.

Dalam masyarakat Minangkabau, ranji adat berkaitan dengan sistem kekerabatan matrilineal, yaitu sistem yang mengikuti garis keturunan ibu.

2. Hubungan Kekerabatan

Melalui ranji sederhana, peserta didik dapat mengenali hubungan antara nenek, ibu, anak, saudara ibu, serta anggota keluarga lainnya.

3. Manfaat Mengenal Ranji

Mengenal ranji membantu seseorang memahami hubungan keluarga, mengenal kerabat, dan menghargai ikatan kekerabatan.

G. Media dan Sumber Belajar

Media yang digunakan:

  • Gambar keluarga rekaan.

  • Contoh bagan ranji sederhana.

  • Kartu tokoh keluarga.

  • Kertas gambar.

  • Pensil dan alat mewarnai.

Sumber belajar:

  • Dokumen CP dan TP ABS-SBK Kabupaten Tanah Datar.

  • Bahan ajar kekerabatan Minangkabau.

  • Lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai sumber contoh yang sesuai.

H. Langkah-Langkah Pembelajaran

1. Kegiatan Pembuka — ±10 menit

Guru mengucapkan salam, mengajak peserta didik berdoa, dan memeriksa kesiapan belajar.

Guru memperlihatkan gambar keluarga rekaan.

Peserta didik diminta mengamati hubungan antartokoh.

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta manfaat mengenal ranji keturunan.

2. Kegiatan Inti — ±45 menit

Tahap Memahami

Guru memperlihatkan contoh ranji sederhana.

Peserta didik mengamati hubungan antara nenek, ibu, anak, dan anggota keluarga lainnya.

Guru menjelaskan pengertian ranji dan garis keturunan menurut pihak ibu dalam adat Minangkabau.

Tahap Mengaplikasi

Peserta didik dibagi ke dalam kelompok kecil.

Setiap kelompok menerima kartu tokoh keluarga rekaan.

Peserta didik menyusun hubungan antartokoh dalam bentuk bagan.

Guru memberikan pendampingan sesuai kebutuhan.

Tahap Merefleksi

Kelompok menjelaskan ranji yang dibuat.

Guru mengajukan pertanyaan:

“Apa yang kamu pahami tentang hubungan keturunan?”

“Mengapa kita perlu mengenal kerabat?”

Peserta didik menyampaikan hasil pemahamannya.

3. Kegiatan Penutup — ±15 menit

Guru bersama peserta didik menyimpulkan pembelajaran.

Peserta didik menyebutkan hal baru yang dipelajari.

Guru memberikan penguatan mengenai pentingnya mengenal keluarga dan menjaga hubungan baik.

Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.

Catatan: Pembagian menit di atas merupakan contoh untuk 2 JP dengan asumsi 35 menit per JP. Sekolah menyesuaikannya dengan ketentuan yang berlaku.

I. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

LKPD — Mengenal Ranji Keturunan

Nama: ....................................

Kelas: ....................................

Tanggal: ....................................

Petunjuk:

Perhatikan gambar keluarga rekaan yang diberikan guru.

Kerjakan tugas berikut.

  1. Sebutkan tokoh yang berperan sebagai nenek.

  2. Tunjukkan tokoh yang merupakan anak dari nenek.

  3. Tunjukkan hubungan antara ibu dan anak.

  4. Susun kartu tokoh menjadi bagan ranji sederhana.

  5. Ceritakan hasil baganmu kepada guru atau teman.

Refleksi:

Hal baru yang saya pelajari hari ini adalah:

..........................................................

J. Asesmen

Asesmen awal

Tanya jawab tentang hubungan keluarga.

Asesmen formatif

Observasi saat peserta didik menyusun ranji.

Asesmen akhir kegiatan

Penilaian bagan ranji sederhana dan penjelasan peserta didik.

Rubrik penilaian

AspekBaikMulai BerkembangPerlu Bimbingan
Mengenali hubungan keluargaTepat dan mandiriSebagian tepatMemerlukan bantuan
Menyusun ranjiHubungan tokoh sesuaiMasih terdapat kekeliruanMemerlukan contoh dan pendampingan
Menjelaskan ranjiJelas dan sesuaiPenjelasan sederhanaMemerlukan pertanyaan penuntun

K. Diferensiasi Pembelajaran

Peserta didik yang memerlukan bantuan dapat menggunakan bagan dengan sebagian hubungan yang telah dilengkapi.

Peserta didik yang telah memahami materi dapat menyusun ranji dengan hubungan keluarga yang lebih beragam.

Guru tidak mewajibkan peserta didik menggunakan data keluarga pribadi. Keluarga rekaan dapat digunakan agar seluruh anak merasa nyaman dan dihargai.

L. Refleksi Guru

  1. Apakah peserta didik memahami pengertian ranji?

  2. Apakah media membantu mereka mengenali hubungan keluarga?

  3. Apakah semua anak memperoleh kesempatan berpartisipasi?

  4. Apakah asesmen sesuai dengan tujuan pembelajaran?

  5. Apa yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya?

MODUL AJAR 2 — KELAS IV SD/MI

Mempraktikkan Kato Nan Ampek dalam Kehidupan Sehari-hari

A. Identitas Modul

KomponenKeterangan
Satuan PendidikanSD/MI
Mata PelajaranMuatan Lokal ABS-SBK
Fase/KelasB / IV
ElemenPemahaman Nilai Adat
MateriKato Nan Ampek
Alokasi Waktu2 JP
PendekatanPembelajaran Mendalam
MetodePengamatan, diskusi, permainan peran, dan refleksi

B. Capaian Pembelajaran

Berdasarkan Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, elemen Pemahaman Nilai Adat Fase B mencakup pengenalan Kato Nan Ampek dalam adat Minangkabau.

C. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran resmi:

Murid mengenal kato nan ampek dalam adat Minangkabau seperti Kato Mandaki, Kato Malereng, Kato Mandata, dan Kato Manurun.

Indikator ketercapaian yang dikembangkan guru:

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menyebutkan empat jenis Kato Nan Ampek.

  2. Menjelaskan penggunaannya secara sederhana.

  3. Mengenali situasi percakapan yang sesuai.

  4. Mempraktikkan contoh percakapan santun.

  5. Menjelaskan manfaat menjaga kesantunan dalam berbicara.

D. Pemahaman Bermakna

Kato Nan Ampek merupakan pedoman kesantunan berbahasa dalam masyarakat Minangkabau.

Cara berbicara perlu memperhatikan hubungan dengan lawan bicara, situasi, dan maksud yang disampaikan.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik diharapkan memahami bahwa kesantunan berbahasa merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap orang lain.

E. Pertanyaan Pemantik

  1. Bagaimana cara meminta izin kepada guru?

  2. Apakah kita berbicara dengan cara yang sama kepada semua orang?

  3. Mengapa pilihan kata perlu diperhatikan?

  4. Bagaimana cara menasihati adik dengan baik?

  5. Apa akibatnya jika seseorang berbicara tanpa memperhatikan perasaan orang lain?

F. Materi Pembelajaran

1. Kato Mandaki

Kato Mandaki digunakan ketika berbicara kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

Contohnya, seorang anak meminta izin kepada guru atau orang tua dengan bahasa yang santun.

2. Kato Manurun

Kato Manurun digunakan ketika berbicara kepada orang yang lebih muda.

Penggunaannya tetap memperhatikan kesantunan dan tidak merendahkan lawan bicara.

3. Kato Mandata

Kato Mandata digunakan dalam percakapan dengan orang yang sederajat atau sebaya.

4. Kato Malereng

Kato Malereng digunakan untuk menyampaikan maksud secara tidak langsung atau melalui ungkapan tertentu, sesuai hubungan dan situasi percakapan.

Guru perlu memilih contoh yang tepat berdasarkan kebiasaan berbahasa dalam masyarakat Minangkabau.

G. Media dan Sumber Belajar

Media:

  • Kartu jenis Kato Nan Ampek.

  • Kartu situasi percakapan.

  • Contoh dialog.

  • Lembar pengamatan.

  • Papan tulis.

Sumber belajar:

  • Dokumen CP dan TP ABS-SBK Kabupaten Tanah Datar.

  • Bahan ajar Bahasa dan Budaya Minangkabau.

  • Contoh percakapan yang sesuai dengan tata krama masyarakat setempat.

H. Langkah-Langkah Pembelajaran

1. Kegiatan Pembuka — ±10 menit

Guru mengucapkan salam dan mengajak peserta didik berdoa.

Guru memperagakan dua percakapan sederhana.

Percakapan pertama menggunakan pilihan kata yang santun.

Percakapan kedua menggunakan pilihan kata yang kurang sesuai.

Guru bertanya:

“Apa perbedaan kedua percakapan tersebut?”

“Mengapa kita perlu berbicara dengan santun?”

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

2. Kegiatan Inti — ±45 menit

Tahap Memahami

Guru menjelaskan empat jenis Kato Nan Ampek.

Peserta didik mengamati contoh percakapan.

Guru membimbing anak mengenali situasi penggunaan masing-masing jenis kato.

Tahap Mengaplikasi

Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok.

Setiap kelompok menerima kartu situasi.

Contoh situasi:

  • Meminta izin kepada guru.

  • Berbicara dengan teman sebaya.

  • Menasihati adik.

  • Menyampaikan maksud secara halus kepada kerabat dalam situasi yang sesuai.

Peserta didik menyusun dialog pendek dan memperagakannya.

Tahap Merefleksi

Guru bersama peserta didik mendiskusikan pilihan kata dan sikap dalam setiap dialog.

Peserta didik menyampaikan alasan mengapa percakapan tersebut sesuai dengan jenis kato yang dipelajari.

3. Kegiatan Penutup — ±15 menit

Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi.

Peserta didik menyampaikan satu contoh kesantunan berbicara yang akan dibiasakan.

Guru memberikan penguatan bahwa kesantunan perlu diterapkan kepada semua orang.

Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.

Catatan: Pembagian waktu merupakan contoh untuk 2 JP dengan asumsi 35 menit per JP.

I. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

LKPD — Mengenal Kato Nan Ampek

Nama: ....................................

Kelas: ....................................

Tanggal: ....................................

Tugas 1 — Mengenali Jenis Kato

Tuliskan jenis kato yang sesuai dengan situasi berikut.

No.SituasiJenis Kato
1Seorang anak meminta izin kepada guru...............
2Dua teman sebaya sedang berdiskusi...............
3Seorang kakak memberikan arahan kepada adiknya...............
4Seseorang menyampaikan maksud secara halus kepada kerabat dalam situasi yang sesuai...............

Tugas 2 — Membuat Percakapan

Pilih salah satu situasi di atas.

Buatlah dialog pendek yang santun.

Tokoh 1: ....................................

Tokoh 2: ....................................

Percakapan:

..........................................................

..........................................................

Tugas 3 — Refleksi

Mengapa kita perlu berbicara dengan santun?

..........................................................

J. Asesmen

Asesmen awal

Tanya jawab tentang pengalaman berbicara kepada orang tua, guru, dan teman.

Asesmen formatif

Pengamatan saat peserta didik mengelompokkan jenis kato dan menyusun dialog.

Asesmen akhir kegiatan

Permainan peran dan penjelasan peserta didik tentang pilihan kata yang digunakan.

Rubrik penilaian

AspekBaikMulai BerkembangPerlu Bimbingan
Mengenali jenis katoTepat dan mandiriSebagian tepatMemerlukan bantuan
Memilih ungkapanSesuai situasiSebagian sesuaiMemerlukan contoh
Mempraktikkan dialogSantun dan jelasCukup santunMemerlukan pendampingan
Menjelaskan alasanPenjelasan tepatPenjelasan sederhanaMemerlukan pertanyaan penuntun

K. Diferensiasi Pembelajaran

Peserta didik yang memerlukan bantuan diberikan contoh dialog yang dapat dilengkapi.

Peserta didik yang telah memahami materi dapat membuat dialog baru berdasarkan situasi berbeda.

Peserta didik yang belum nyaman tampil di depan kelas dapat berlatih berpasangan terlebih dahulu.

L. Refleksi Guru

  1. Apakah peserta didik mengenali empat jenis Kato Nan Ampek?

  2. Apakah contoh dialog sesuai dengan pengalaman anak?

  3. Apakah kegiatan permainan peran membantu pemahaman?

  4. Apakah peserta didik dapat menjelaskan alasan pemilihan kata?

  5. Apa yang perlu diperbaiki pada pembelajaran berikutnya?

4. Catatan Penggunaan Modul Ajar

Kedua modul ajar tersebut merupakan contoh pengembangan perangkat pembelajaran, bukan format wajib yang ditetapkan dalam lampiran peraturan.

Guru dapat menyesuaikan kegiatan, media, alokasi waktu, serta asesmen dengan kebutuhan peserta didik.

Tujuan Pembelajaran resmi perlu tetap dijadikan acuan utama.

Modul ajar juga perlu disesuaikan dengan Alur Tujuan Pembelajaran yang dikembangkan oleh satuan pendidikan.

Dalam pembelajaran ABS-SBK, guru perlu memperhatikan kekhasan adat salingka nagari agar materi yang disampaikan relevan dengan kehidupan peserta didik.

5. Penutup

Modul ajar ABS-SBK Fase B perlu dirancang agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Melalui kegiatan mengamati, berdiskusi, mencoba, bermain peran, berkarya, dan melakukan refleksi, peserta didik diharapkan semakin memahami nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.

Guru memiliki peran penting dalam memastikan bahwa setiap kegiatan bukan hanya menarik, tetapi juga membantu peserta didik mencapai Tujuan Pembelajaran.

“Modul ajar yang baik bukan sekadar kumpulan langkah mengajar, tetapi rancangan pengalaman yang membantu anak memahami pengetahuan, menemukan nilai, dan membiasakan kebaikan.”

I. Rekomendasi Pengembangan Perangkat Ajar Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI

1. Pentingnya Pengembangan Perangkat Ajar

Keberhasilan pembelajaran Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi guru, tetapi juga oleh kualitas perencanaan dan perangkat pembelajaran yang digunakan.

Perangkat ajar membantu guru menghubungkan Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), kegiatan belajar, media, dan asesmen menjadi satu kesatuan yang terarah.

Pada Fase B, yaitu kelas III dan IV SD/MI, perangkat ajar perlu disusun sesuai perkembangan peserta didik yang mulai mampu mengamati, membandingkan, menjelaskan, mempraktikkan, dan merefleksikan pengalaman belajar.

Perangkat ajar hendaknya tidak hanya mendorong peserta didik menghafal istilah adat, tetapi juga membantu mereka memahami makna dan manfaatnya dalam kehidupan.

Pengembangannya perlu memperhatikan tiga prinsip pembelajaran mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

2. Menjadikan CP dan TP Resmi sebagai Acuan Utama

Pengembangan perangkat ajar harus dimulai dengan memahami CP dan TP Muatan Lokal ABS-SBK yang ditetapkan dalam Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 beserta lampirannya.

Guru perlu membedakan antara rumusan resmi dan pengembangan pembelajaran.

Rumusan resmi merupakan CP dan TP yang tercantum dalam dokumen kurikulum.

Pengembangan guru berupa indikator ketercapaian, materi pendukung, kegiatan belajar, media, dan instrumen asesmen yang dirancang untuk membantu peserta didik mencapai tujuan tersebut.

Sebagai contoh, TP resmi kelas IV pada elemen Pemahaman Nilai Adat adalah mengenal Kato Nan Ampek.

Guru dapat mengembangkan indikator berupa kemampuan mengenali jenis kato, memilih ungkapan sesuai situasi, dan mempraktikkan percakapan santun.

Indikator tersebut merupakan pengembangan untuk kepentingan pembelajaran, bukan pengganti rumusan TP resmi.

3. Mengembangkan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) membantu guru mengatur urutan pembelajaran agar berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan.

Dalam menyusun ATP Fase B, guru perlu memperhatikan pembagian TP kelas III dan IV.

Kelas III mencakup pengenalan ranji keturunan, asal-usul nama Minangkabau, Adat Nan Ampek, perilaku baik, panggilan kekerabatan, sikap suka menolong, tradisi kelahiran, serta seni musik tradisional.

Kelas IV mencakup asal mula keturunan orang Minang, wilayah darek dan rantau, Kato Nan Ampek, sistem kelarasan, Sumbang Duo Baleh, Undang Nan Salapan, Undang-Undang Nan Duo Baleh, seni rupa, dan sastra tradisional Minangkabau.

Urutan pembelajaran dapat disesuaikan dengan tingkat kesulitan materi dan kebutuhan peserta didik.

Guru perlu memastikan bahwa seluruh TP memperoleh kesempatan pembelajaran yang memadai.

4. Mengembangkan Modul Ajar yang Kontekstual

Modul ajar hendaknya disusun berdasarkan pengalaman nyata peserta didik.

Sebagai contoh:

Materi Ranji Keturunan

Guru dapat menggunakan bagan keluarga rekaan untuk membantu peserta didik memahami hubungan kekerabatan.

Materi Adat Nan Ampek

Guru dapat menggunakan kartu konsep, cerita, dan peta pikiran sederhana.

Materi Kato Nan Ampek

Guru dapat mengembangkan permainan peran berdasarkan situasi percakapan di rumah dan sekolah.

Materi Sumbang Duo Baleh

Guru dapat menggunakan ilustrasi perilaku dan studi kasus yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Materi Seni Tradisional

Guru dapat mengembangkan kegiatan pengamatan, demonstrasi, praktik, dan apresiasi karya.

Modul ajar perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan yang diperoleh.

5. Mengembangkan LKPD yang Bermakna

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan salah satu sarana untuk membantu anak terlibat aktif dalam pembelajaran.

LKPD ABS-SBK Fase B sebaiknya tidak hanya berisi pertanyaan hafalan.

Guru dapat mengembangkan LKPD dalam berbagai bentuk, seperti:

  1. Menyusun bagan ranji keturunan.

  2. Memasangkan istilah Adat Nan Ampek dengan penjelasannya.

  3. Mengidentifikasi panggilan kekerabatan.

  4. Mengamati peta wilayah darek dan rantau.

  5. Menentukan jenis Kato Nan Ampek berdasarkan situasi.

  6. Menganalisis contoh perilaku yang berkaitan dengan Sumbang Duo Baleh.

  7. Mengamati motif seni rupa tradisional.

  8. Menjelaskan pesan sederhana dalam pantun Minangkabau.

LKPD perlu menggunakan petunjuk yang jelas, bahasa yang sesuai usia, dan tampilan yang mudah dipahami.

6. Mengembangkan Media Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal

Media pembelajaran membantu peserta didik memahami materi yang bersifat abstrak.

Guru dapat menggunakan gambar, kartu, peta, cerita bergambar, rekaman bunyi, video pendek, serta benda budaya yang tersedia di lingkungan sekolah.

Contoh media kelas III:

  • Kartu hubungan kekerabatan.

  • Bagan ranji sederhana.

  • Peta konsep Adat Nan Ampek.

  • Cerita bergambar tentang perilaku suka menolong.

  • Gambar dan rekaman alat musik tradisional.

Contoh media kelas IV:

  • Peta wilayah darek dan rantau.

  • Kartu situasi Kato Nan Ampek.

  • Bagan pengenalan kelarasan.

  • Ilustrasi Sumbang Duo Baleh.

  • Kartu istilah aturan adat.

  • Gambar motif seni rupa dan contoh pantun.

Media perlu dipilih berdasarkan ketepatan isi dan manfaatnya bagi pencapaian tujuan pembelajaran.

Penggunaan teknologi digital dapat membantu guru, tetapi tidak harus menggantikan pengalaman belajar langsung.

7. Memastikan Ketepatan Materi Adat dan Budaya

Materi ABS-SBK memiliki kekhasan karena berkaitan dengan sejarah, falsafah, norma, bahasa, dan praktik adat Minangkabau.

Oleh sebab itu, ketepatan materi perlu menjadi perhatian utama.

Guru sebaiknya menggunakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, termasuk dokumen kurikulum, bahan ajar yang telah ditelaah, literatur adat, dan narasumber yang memiliki pengetahuan sesuai bidangnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

a. Membedakan tambo dan kajian sejarah

Cerita dalam tambo perlu disampaikan sesuai kedudukannya sebagai bagian dari tradisi penuturan Minangkabau, tanpa secara otomatis menyamakannya dengan fakta sejarah yang telah terverifikasi.

b. Memahami istilah adat secara tepat

Istilah seperti Adat Nan Ampek, Kato Nan Ampek, Sumbang Duo Baleh, dan Undang Nan Salapan perlu dijelaskan menggunakan rujukan yang sesuai.

c. Menghormati adat salingka nagari

Guru perlu memahami bahwa beberapa bentuk pelaksanaan tradisi dapat berbeda antara satu nagari dan nagari lainnya.

d. Menjaga hubungan adat dengan nilai keislaman

Pembelajaran perlu memperhatikan falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah, sehingga nilai adat yang diajarkan selaras dengan prinsip akhlak dan kehidupan yang baik.

8. Mengembangkan Instrumen Asesmen yang Autentik

Instrumen asesmen hendaknya disusun berdasarkan kemampuan yang dituju.

Tidak semua materi tepat dinilai melalui soal pilihan ganda.

Sebagai contoh:

MateriBentuk Asesmen yang Disarankan
Ranji keturunanBagan dan penjelasan lisan
Adat Nan AmpekKartu konsep atau peta pikiran
Panggilan kekerabatanPercakapan dan permainan peran
Musik tradisionalPraktik memainkan alat musik
Wilayah darek dan rantauPengamatan dan penjelasan peta
Kato Nan AmpekPermainan peran
Sumbang Duo BalehAnalisis kasus dan demonstrasi perilaku
Seni rupa tradisionalPenilaian proses dan hasil karya
Sastra tradisionalMembaca serta menjelaskan isi karya

Asesmen yang autentik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan kemampuan melalui kegiatan yang relevan dengan tujuan pembelajaran.

9. Mengembangkan Perangkat Ajar melalui KKG

Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat menjadi wadah penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran ABS-SBK.

Melalui KKG, guru dapat bekerja sama untuk:

  1. Menelaah CP dan TP resmi.

  2. Menyusun ATP kelas III dan IV.

  3. Mengembangkan modul ajar.

  4. Menyusun LKPD.

  5. Membuat media pembelajaran.

  6. Mengembangkan instrumen asesmen.

  7. Mendiskusikan ketepatan materi adat.

  8. Berbagi pengalaman praktik pembelajaran.

  9. Melaksanakan refleksi dan perbaikan perangkat ajar.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat mengurangi kesulitan guru dalam mengembangkan perangkat secara mandiri.

Namun, perangkat yang dihasilkan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

10. Melibatkan Praktisi dan Pemangku Adat

Pengembangan pembelajaran ABS-SBK dapat memperoleh manfaat dari keterlibatan pihak yang memahami adat dan budaya Minangkabau.

Sekolah dapat bekerja sama dengan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, seniman tradisional, serta narasumber lain yang sesuai dengan materi.

Keterlibatan tersebut dapat berupa:

  • Pemberian informasi dan penjelasan materi.

  • Penelaahan bahan ajar.

  • Demonstrasi seni tradisional.

  • Penyampaian cerita dan pengalaman budaya.

  • Pendampingan kegiatan pembelajaran yang relevan.

Guru tetap bertanggung jawab memastikan kegiatan sesuai dengan tujuan pembelajaran, usia peserta didik, dan prinsip pendidikan.

11. Peran Kepala Sekolah dalam Pengembangan Perangkat Ajar

Kepala sekolah memiliki peran penting dalam mendukung mutu pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK.

Dukungan dapat diberikan melalui:

  1. Penyediaan waktu untuk perencanaan bersama.

  2. Fasilitasi kegiatan KKG.

  3. Penyediaan media dan sumber belajar sesuai kemampuan sekolah.

  4. Pendampingan pengembangan perangkat ajar.

  5. Penelaahan kelayakan bahan ajar yang digunakan.

  6. Supervisi pembelajaran yang bersifat membina.

  7. Penguatan kerja sama dengan lingkungan masyarakat.

Sesuai ketentuan Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, penggunaan bahan ajar perlu memperhatikan mekanisme persetujuan kepala satuan pendidikan.

12. Mengembangkan Bank Perangkat Ajar ABS-SBK

Sekolah atau KKG dapat mengembangkan bank perangkat ajar yang berisi kumpulan bahan pembelajaran yang telah ditelaah.

Bank perangkat ajar dapat mencakup:

Dokumen perencanaan

CP, TP, ATP, program pembelajaran, dan modul ajar.

Bahan pembelajaran

Ringkasan materi, cerita, ilustrasi, peta konsep, dan media visual.

LKPD

Lembar kerja untuk kegiatan mandiri maupun kelompok.

Instrumen asesmen

Soal, rubrik, lembar observasi, dan contoh deskripsi hasil belajar.

Dokumentasi praktik baik

Contoh kegiatan yang telah dilaksanakan dan hasil refleksi guru.

Bank perangkat ajar perlu diperbarui secara berkala berdasarkan hasil pelaksanaan pembelajaran dan penelaahan materi.

13. Evaluasi dan Penyempurnaan Perangkat Ajar

Perangkat ajar tidak harus dianggap selesai untuk selamanya setelah digunakan satu kali.

Guru perlu mengevaluasi apakah perangkat tersebut benar-benar membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

Pertanyaan evaluasi dapat mencakup:

  1. Apakah materi sesuai dengan CP dan TP?

  2. Apakah penjelasan adat dan budaya sudah tepat?

  3. Apakah kegiatan sesuai dengan usia peserta didik?

  4. Apakah pembelajaran berlangsung secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?

  5. Apakah media membantu pemahaman?

  6. Apakah asesmen menghasilkan informasi yang berguna?

  7. Apakah seluruh peserta didik memperoleh kesempatan belajar?

  8. Bagian mana yang perlu diperbaiki?

Hasil evaluasi digunakan untuk menyempurnakan perangkat ajar pada pelaksanaan berikutnya.

14. Penutup

Pengembangan perangkat ajar Muatan Lokal ABS-SBK Fase B perlu dilakukan secara terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Guru perlu menjadikan CP dan TP resmi sebagai acuan, kemudian mengembangkannya menjadi ATP, modul ajar, LKPD, media, dan instrumen asesmen yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dukungan kepala sekolah, KKG, serta narasumber adat dan budaya dapat membantu meningkatkan ketepatan materi dan kualitas pelaksanaan pembelajaran.

Melalui perangkat ajar yang baik, pembelajaran ABS-SBK diharapkan semakin mampu menghubungkan pengetahuan adat dengan pengalaman nyata, keterampilan, dan pembiasaan perilaku peserta didik.

“Perangkat ajar yang bermutu bukan hanya memudahkan guru mengajar, tetapi juga membantu anak menemukan makna adat, mencintai budayanya, dan membiasakan akhlak yang baik.”

J. Penutup dan Rekomendasi Implementasi Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase B SD/MI

1. Kesimpulan

Kurikulum Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) Fase B merupakan bagian penting dalam upaya mewariskan nilai-nilai adat, budaya, dan kearifan lokal Minangkabau kepada peserta didik kelas III dan IV SD/MI.

Melalui Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal, satuan pendidikan memiliki landasan untuk menyelenggarakan pembelajaran ABS-SBK secara terarah.

Pembelajaran Fase B mencakup empat elemen utama, yaitu:

  1. Sejarah Minangkabau, yang membantu peserta didik mengenal asal-usul dan perkembangan masyarakat Minangkabau.

  2. Pemahaman Nilai Adat, yang memperkenalkan nilai, ketentuan, dan pedoman kehidupan masyarakat Minangkabau.

  3. Aturan Masyarakat Minangkabau, yang membimbing peserta didik memahami aturan dan perilaku yang patut dalam kehidupan bersama.

  4. Adat Salingka Nagari, yang memperkenalkan tradisi, kesenian, dan kekhasan budaya masyarakat setempat.

Keempat elemen tersebut perlu dipahami sebagai bagian yang saling berkaitan dalam membentuk pengetahuan, keterampilan, sikap, dan penghargaan terhadap budaya Minangkabau.

Pada kelas III, pembelajaran diarahkan pada pengenalan ranji keturunan, asal-usul nama Minangkabau, Adat Nan Ampek, perilaku baik, panggilan kekerabatan, sikap suka menolong, tradisi kelahiran, dan musik tradisional.

Pada kelas IV, pembelajaran dikembangkan melalui materi asal mula keturunan orang Minang, wilayah darek dan rantau, Kato Nan Ampek, sistem kelarasan, Sumbang Duo Baleh, Undang Nan Salapan, Undang-Undang Nan Duo Baleh, seni rupa, dan sastra tradisional Minangkabau.

Materi tersebut hendaknya disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

2. Pembelajaran ABS-SBK Harus Melampaui Hafalan

Salah satu tantangan dalam pembelajaran muatan lokal adalah kecenderungan menjadikan adat dan budaya sebagai kumpulan istilah yang harus dihafalkan.

Peserta didik mungkin dapat menyebutkan Kato Nan Ampek, tetapi belum tentu mampu memilih ungkapan yang santun ketika berbicara.

Anak mungkin dapat menyebutkan Sumbang Duo Baleh, tetapi belum tentu memahami alasan suatu perilaku dipandang kurang patut.

Demikian pula, peserta didik dapat mengenal istilah kekerabatan tanpa memahami pentingnya menghormati anggota keluarga.

Oleh karena itu, pembelajaran ABS-SBK perlu diarahkan pada pemahaman dan penerapan nilai.

Guru perlu mengembangkan kegiatan yang memungkinkan peserta didik:

  • Mengenal pengetahuan adat secara benar.

  • Memahami makna dan manfaatnya.

  • Menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari.

  • Mempraktikkan keterampilan yang dipelajari.

  • Merefleksikan perilaku dan hasil belajar.

Dengan demikian, pembelajaran adat tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi pengalaman pendidikan yang bermakna.

3. Rekomendasi bagi Guru

Guru merupakan pelaksana utama pembelajaran ABS-SBK di kelas.

Beberapa langkah yang direkomendasikan adalah:

Pertama, memahami dokumen kurikulum.

Guru perlu mempelajari Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran resmi sebelum menyusun perangkat ajar.

Kedua, menggunakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Materi sejarah, adat, bahasa, dan budaya Minangkabau perlu disampaikan secara tepat dengan memperhatikan sumber rujukan serta kekhasan adat salingka nagari.

Ketiga, menerapkan pembelajaran mendalam.

Kegiatan belajar dirancang berdasarkan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Keempat, mengutamakan pengalaman nyata.

Guru dapat menggunakan cerita, gambar, permainan peran, diskusi, praktik seni, dan kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Kelima, menjadi teladan.

Nilai kesantunan, kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab akan lebih mudah dipahami peserta didik apabila dicontohkan oleh guru.

Keenam, melaksanakan asesmen yang membimbing.

Asesmen digunakan untuk mengetahui perkembangan belajar serta menentukan bantuan yang diperlukan peserta didik.

4. Rekomendasi bagi Kepala Sekolah

Kepala sekolah memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan implementasi kurikulum.

Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui:

  1. Memastikan pembelajaran ABS-SBK masuk dalam perencanaan kurikulum satuan pendidikan.

  2. Mendukung penyusunan ATP, modul ajar, LKPD, media, dan instrumen asesmen.

  3. Memfasilitasi peningkatan kompetensi guru.

  4. Menyediakan sumber belajar sesuai kemampuan sekolah.

  5. Mendorong pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan nagari.

  6. Melaksanakan supervisi dan refleksi pembelajaran secara berkelanjutan.

  7. Memastikan penggunaan bahan ajar mengikuti ketentuan yang berlaku.

Kepala sekolah hendaknya memandang pembelajaran ABS-SBK bukan sekadar pemenuhan administrasi kurikulum, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan pelestarian budaya.

5. Rekomendasi bagi Kelompok Kerja Guru

Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat berperan sebagai wadah kolaborasi dalam mengembangkan kualitas pembelajaran ABS-SBK.

Melalui kegiatan bersama, guru dapat menyusun dan menelaah perangkat ajar, berbagi media pembelajaran, mengembangkan instrumen asesmen, serta mendiskusikan ketepatan materi adat dan budaya.

KKG juga dapat mengembangkan kumpulan praktik baik pembelajaran ABS-SBK yang telah dilaksanakan di sekolah.

Perangkat yang dihasilkan melalui kerja sama hendaknya tetap terbuka untuk penyesuaian sesuai kebutuhan peserta didik dan kondisi masing-masing sekolah.

6. Rekomendasi bagi Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan

Pelaksanaan kurikulum muatan lokal memerlukan dukungan yang berkelanjutan.

Pemerintah daerah dan pihak terkait dapat mendukung pelaksanaan ABS-SBK melalui penguatan kompetensi guru, penyediaan sumber belajar, pendampingan, serta evaluasi implementasi kurikulum.

Kerja sama dengan pemangku adat, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, seniman, dan praktisi budaya dapat membantu memperkaya pengalaman belajar peserta didik.

Namun, keterlibatan narasumber perlu tetap diarahkan pada tujuan pembelajaran dan kesesuaian materi dengan usia anak.

7. Pentingnya Keteladanan dan Budaya Sekolah

Pembelajaran ABS-SBK akan lebih bermakna apabila nilai yang diajarkan di kelas juga tercermin dalam budaya sekolah.

Kesantunan berbicara, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan sikap saling menghormati perlu dibiasakan melalui interaksi sehari-hari.

Guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan perlu menjadi contoh dalam penerapan nilai-nilai tersebut.

Sekolah juga perlu menciptakan lingkungan yang aman dan menghargai setiap peserta didik.

Pendidikan adat hendaknya membimbing anak untuk memahami perilaku yang baik, bukan mempermalukan anak yang melakukan kesalahan.

8. Menguatkan Falsafah ABS-SBK dalam Pendidikan

Falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah merupakan landasan nilai yang penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Falsafah tersebut mengandung pesan bahwa adat dan ajaran Islam memiliki hubungan yang erat dalam membimbing kehidupan masyarakat.

Ungkapan “Syara' mangato, adat mamakai” mengingatkan bahwa pelaksanaan adat perlu memperhatikan tuntunan agama.

Sementara itu, falsafah “Alam takambang jadi guru” mengajarkan pentingnya mengambil pelajaran dari kehidupan dan lingkungan.

Dalam pendidikan, kedua prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan, pengalaman, akhlak, dan tanggung jawab.

Peserta didik tidak hanya diajak mengetahui nilai yang baik, tetapi juga dibimbing untuk memahami alasan dan manfaat menerapkannya.

9. Harapan terhadap Generasi Minangkabau

Pendidikan Muatan Lokal ABS-SBK diharapkan membantu menumbuhkan generasi yang mengenal sejarah dan budaya daerahnya, memahami nilai-nilai adat, serta mampu menempatkan diri secara santun dalam kehidupan bermasyarakat.

Generasi Minangkabau perlu dibekali kemampuan untuk menghargai warisan budaya sekaligus menghadapi perkembangan zaman.

Perubahan sosial dan kemajuan teknologi tidak harus menjauhkan anak dari nilai-nilai luhur adat.

Sebaliknya, pendidikan dapat membantu peserta didik memahami nilai yang perlu dijaga dan cara menerapkannya dalam kehidupan masa kini.

Warisan budaya akan tetap hidup apabila dipahami, dihargai, dan diteruskan melalui keteladanan serta pengalaman nyata.

10. Penutup Akhir

Implementasi Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase B merupakan tanggung jawab bersama antara guru, kepala sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemangku kepentingan pendidikan.

Keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya materi yang disampaikan atau tingginya nilai hasil ujian.

Keberhasilan pendidikan ABS-SBK juga tercermin dari tumbuhnya pemahaman peserta didik terhadap nilai adat, berkembangnya keterampilan budaya, dan munculnya kebiasaan berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, pendidikan ABS-SBK diharapkan menjadi sarana untuk mempertemukan pengetahuan adat dengan pengalaman nyata peserta didik.

Dengan demikian, nilai-nilai luhur Minangkabau tidak hanya tersimpan dalam buku pelajaran, tetapi terus hidup dalam ucapan, sikap, dan perbuatan generasi penerus.

“Adat Minangkabau tidak akan lestari hanya karena namanya dihafalkan. Adat akan tetap hidup apabila nilai-nilainya dipahami, diteladankan, dan diamalkan dalam kehidupan.”

Semoga ikhtiar pengembangan pembelajaran ABS-SBK ini menjadi bagian dari upaya mewariskan ilmu yang bermanfaat, menjaga martabat budaya Minangkabau, dan membentuk generasi yang berilmu, beradat, serta berakhlak mulia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“INYIAK BALIAU” BUYA LUBUAK LANDUA

Cerita Rakyat: SYEKH MAULANA SYOFI

STRATA USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) SMA/SMK/MA