Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase Pondasi PAUD/TK: Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, dan Strategi Pembelajaran Mendalam

 

A. Pendahuluan

Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter, kebiasaan, dan kepribadian seseorang. Pada masa ini, anak mulai mengenal dirinya, keluarga, lingkungan sosial, serta nilai-nilai kehidupan melalui pengalaman langsung, bermain, meniru, dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Bagi masyarakat Minangkabau, pendidikan anak sejak usia dini tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai luhur yang terkandung dalam falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Falsafah ini menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang berlandaskan ajaran Islam, akhlak mulia, kesantunan, kebersamaan, dan penghargaan terhadap adat serta budaya Minangkabau.

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melalui Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal telah memberikan landasan bagi pengembangan pembelajaran muatan lokal yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

Dalam Lampiran I dan Lampiran II peraturan tersebut, pembelajaran ABS-SBK dikembangkan berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP), termasuk untuk Fase Pondasi pada jenjang PAUD/TK.

Pada Fase Fondasi, pendidikan ABS-SBK diarahkan untuk memperkenalkan lingkungan budaya Minangkabau, menumbuhkan kebiasaan berperilaku baik, serta memberikan pengalaman awal yang menyenangkan dalam mengenal adat dan tradisi masyarakat.

Pengenalan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, seperti mengenal Rumah Gadang, pakaian adat, perilaku sopan santun, serta seni dan tari tradisional Minangkabau, sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangan anak.

Pembelajaran tidak dilaksanakan melalui hafalan istilah adat yang rumit atau penjelasan filosofis yang abstrak. Sebaliknya, guru memberikan pengalaman konkret melalui cerita bergambar, lagu, permainan, gerak dan tari, pengamatan benda budaya, serta pembiasaan perilaku terpuji.

Sebagai contoh, anak tidak cukup hanya diberi tahu bahwa berbicara dengan sopan merupakan perilaku yang baik. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan ucapan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, mendengarkan orang lain, dan menunjukkan sikap hormat melalui kegiatan sehari-hari.

Demikian pula ketika mengenalkan Rumah Gadang, guru dapat menggunakan gambar, miniatur, cerita, atau kegiatan bermain peran sehingga anak memperoleh pengalaman yang dekat dengan dunia kehidupannya.

Pembelajaran ABS-SBK pada Fase Fondasi juga perlu memperhatikan prinsip pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Anak dibimbing untuk mengenali pengalaman belajarnya, memahami manfaat perilaku baik melalui contoh sederhana, dan menikmati proses belajar tanpa tekanan akademik yang berlebihan.

Dalam pelaksanaannya, guru perlu menghargai keberagaman latar belakang keluarga, kemampuan anak, dan kekhasan adat salingka nagari. Pengenalan budaya dilakukan secara inklusif, ramah anak, dan sesuai dengan perkembangan peserta didik.

Keberhasilan pembelajaran ABS-SBK pada Fase Fondasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan anak mengenali simbol budaya, tetapi terutama oleh tumbuhnya rasa ingin tahu, kebiasaan baik, kemampuan berinteraksi secara santun, serta kecintaan awal terhadap lingkungan dan budaya Minangkabau.

Dengan demikian, pendidikan ABS-SBK pada Fase Fondasi diharapkan menjadi langkah awal dalam menumbuhkan generasi yang berakhlak mulia, mengenal jati diri budayanya, menghargai sesama, dan memiliki dasar karakter yang kuat untuk melanjutkan pendidikan pada fase berikutnya.

B. Empat Elemen Capaian Pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi

Berdasarkan Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, Capaian Pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK Fase Pondasi terdiri atas empat elemen berikut.

1. Elemen Sejarah Minangkabau

Materi: Rumah Gadang.

Capaian Pembelajaran:

“Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau”

2. Elemen Pemahaman Nilai Adat

Materi: Baju adat.

Capaian Pembelajaran:

“Murid mengenal baju adat Minangkabau”

3. Elemen Aturan Masyarakat Minangkabau

Materi: Sopan santun.

Capaian Pembelajaran:

“Murid mengenal sikap rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab dan memiliki rasa malu”

4. Elemen Adat Salingka Nagari

Materi: Tari tradisional.

Capaian Pembelajaran:

“Murid mengenal tari daerah Minangkabau”

Keempat rumusan tersebut merupakan Capaian Pembelajaran resmi Fase Pondasi. Guru dapat mengembangkannya menjadi kegiatan bermain, pembiasaan, dan pengalaman belajar yang sesuai dengan perkembangan anak serta kekhasan adat salingka nagari.

C. Tujuan Pembelajaran (TP) Muatan Lokal ABS-SBK Fase Pondasi

1. Pengertian Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan kompetensi yang menjadi arah bagi guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Pada Fase Pondasi PAUD/TK, Tujuan Pembelajaran ABS-SBK diarahkan untuk mengenalkan lingkungan budaya Minangkabau dan menumbuhkan nilai-nilai karakter melalui pengalaman bermain, pembiasaan, dan kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Berdasarkan Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, Tujuan Pembelajaran Fase Pondasi terdiri atas empat elemen berikut.

2. Rumusan Tujuan Pembelajaran Resmi

a. Elemen Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran:

“Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.”

b. Elemen Pemahaman Nilai Adat

Tujuan Pembelajaran:

“Murid mengenal baju adat Minangkabau.”

c. Elemen Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran:

“Murid mengenal sikap rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab dan memiliki rasa malu.”

d. Elemen Adat Salingka Nagari

Tujuan Pembelajaran:

“Murid mengenal tari tradisional Minangkabau.”

3. Penjelasan Tujuan Pembelajaran bagi Guru PAUD/TK

a. Mengenal Rumah Gadang

Guru memperkenalkan Rumah Gadang melalui gambar, miniatur, cerita, dan pengamatan lingkungan. Anak diberi kesempatan mengenali bentuk atap gonjong serta menceritakan apa yang dilihatnya dengan bahasa sederhana.

b. Mengenal Baju Adat Minangkabau

Guru memperkenalkan pakaian adat melalui gambar, boneka, dan kegiatan bermain peran. Anak diajak mengenali pakaian adat laki-laki dan perempuan serta menghargai keberagaman pakaian adat di lingkungan Minangkabau.

c. Mengenal Sikap Terpuji

Guru menumbuhkan enam sikap yang disebutkan dalam TP melalui pembiasaan sehari-hari.

  • Rendah hati: tidak menyombongkan diri dan menghargai teman.

  • Suka menolong: membantu teman yang membutuhkan.

  • Hemat: menggunakan air, kertas, dan perlengkapan secara bijaksana.

  • Jujur: mengatakan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya.

  • Bertanggung jawab: merapikan kembali alat permainan yang telah digunakan.

  • Memiliki rasa malu: mulai memahami perilaku yang pantas dan tidak pantas, tanpa mempermalukan anak.

d. Mengenal Tari Tradisional Minangkabau

Guru memperkenalkan tari tradisional melalui gambar, video, musik, dan gerakan sederhana. Anak dapat mencoba gerakan sesuai kemampuan motoriknya tanpa dituntut menguasai teknik tari yang rumit.

Pemilihan tari hendaknya memperhatikan tradisi dan kekhasan adat salingka nagari.

4. Prinsip Pelaksanaan Tujuan Pembelajaran

Pelaksanaan Tujuan Pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi hendaknya memperhatikan prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Anak tidak dibebani hafalan atau ujian tertulis. Guru memberikan pengalaman nyata melalui bermain, bercerita, bernyanyi, bergerak, berkarya, dan pembiasaan.

Guru juga perlu memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk berpartisipasi sesuai dengan minat, kemampuan, dan tahap perkembangannya.

Dengan demikian, Tujuan Pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi bukan sekadar mengenalkan pengetahuan budaya, melainkan menjadi dasar untuk menumbuhkan kebiasaan baik, kecintaan terhadap budaya Minangkabau, serta karakter yang berlandaskan nilai-nilai ABS-SBK.

D. Contoh Kegiatan Pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi PAUD/TK

1. Prinsip Pengembangan Kegiatan Pembelajaran

Pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK pada Fase Pondasi dilaksanakan melalui kegiatan bermain yang sesuai dengan usia, kemampuan, minat, dan kebutuhan perkembangan anak.

Guru tidak hanya memperkenalkan pengetahuan tentang adat dan budaya Minangkabau, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati, mencoba, bertanya, berinteraksi, dan membiasakan perilaku baik.

Kegiatan pembelajaran dikembangkan berdasarkan empat elemen CP dan TP yang tercantum dalam Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

Contoh kegiatan berikut merupakan alternatif pengembangan pembelajaran oleh guru, bukan ketentuan kegiatan wajib dalam peraturan.

2. Elemen Sejarah Minangkabau: Mengenal Rumah Gadang

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.

Kegiatan 1 — Mengamati Rumah Gadang

Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang, kemudian mengajak anak mengamati bentuk atap, pintu, jendela, dan bagian rumah yang mudah dikenali.

Guru dapat mengajukan pertanyaan pemantik:

  • "Apa yang kalian lihat pada gambar ini?"

  • "Bagaimana bentuk atap Rumah Gadang?"

  • "Apakah kalian pernah melihat Rumah Gadang?"

Kegiatan 2 — Membuat Rumah Gadang

Anak diajak menyusun bentuk Rumah Gadang menggunakan balok, kardus, kertas, atau bahan sederhana lainnya.

Anak bebas berkreasi sesuai kemampuannya. Guru memberikan bantuan apabila diperlukan.

Kegiatan 3 — Bermain Peran di Rumah Gadang

Anak bermain peran sebagai anggota keluarga yang sedang menerima tamu di Rumah Gadang. Mereka belajar mengucapkan salam, menyambut tamu, dan berbicara dengan santun.

3. Elemen Pemahaman Nilai Adat: Mengenal Baju Adat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal baju adat Minangkabau.

Kegiatan 1 — Mengamati Pakaian Adat

Guru memperlihatkan gambar pakaian adat Minangkabau yang sesuai dengan tradisi setempat.

Anak diajak mengenali bentuk, warna, dan bagian pakaian melalui percakapan sederhana.

Kegiatan 2 — Memasangkan Gambar Pakaian Adat

Anak memasangkan gambar pakaian adat dengan gambar tokoh yang sesuai, misalnya tokoh laki-laki dan perempuan dalam busana tradisional.

Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan alasan pilihannya.

Kegiatan 3 — Bermain Peran Mengenakan Pakaian Adat

Anak mencoba mengenakan perlengkapan pakaian adat yang sederhana, aman, dan nyaman, atau menggunakannya pada boneka.

Guru menanamkan sikap menghargai pakaian adat sebagai bagian dari warisan budaya Minangkabau.

4. Elemen Aturan Masyarakat Minangkabau: Mengenal Sikap Terpuji

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sikap rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab dan memiliki rasa malu.

Keenam sikap tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan berikut.

Kegiatan 1 — Aku Suka Menolong

Guru mengajak anak bermain bersama. Ketika seorang teman membutuhkan bantuan, anak diberi kesempatan untuk menolong, misalnya membantu mengumpulkan balok atau mengambil benda yang terjatuh.

Kegiatan 2 — Aku Berkata Jujur

Guru membacakan cerita sederhana tentang seorang anak yang mengakui kesalahannya. Setelah cerita selesai, anak diajak berbicara tentang pentingnya berkata benar.

Kegiatan 3 — Aku Anak Hemat

Anak diajak menggunakan air secukupnya ketika mencuci tangan serta memanfaatkan kertas dan bahan bermain tanpa membuangnya secara berlebihan.

Kegiatan 4 — Aku Bertanggung Jawab

Setelah bermain, anak diajak mengembalikan alat permainan ke tempat semula.

Kegiatan 5 — Aku Rendah Hati

Melalui permainan kelompok, anak belajar menghargai kemampuan teman, tidak menyombongkan diri, dan menerima hasil permainan dengan baik.

Kegiatan 6 — Aku Tahu Perilaku yang Pantas

Guru menggunakan cerita bergambar untuk membantu anak mengenali perilaku yang pantas dan tidak pantas, seperti menjaga kebersihan diri, menghormati orang lain, serta menjaga privasi tubuh.

Pengenalan rasa malu dilakukan secara positif, tanpa mengejek, menakut-nakuti, atau mempermalukan anak.

5. Elemen Adat Salingka Nagari: Mengenal Tari Tradisional Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal tari tradisional Minangkabau.

Kegiatan 1 — Menonton Tari Tradisional

Guru memperlihatkan gambar atau video singkat tari tradisional Minangkabau yang sesuai dengan lingkungan budaya setempat.

Anak diajak mengamati gerakan tangan, kaki, dan irama musik.

Kegiatan 2 — Menirukan Gerakan Tari

Guru mengajak anak mencoba gerakan sederhana dengan iringan musik tradisional.

Gerakan disesuaikan dengan kemampuan motorik anak dan dilakukan tanpa paksaan.

Kegiatan 3 — Pentas Mini Budaya Minangkabau

Anak mengikuti kegiatan pentas sederhana bersama teman-temannya. Mereka dapat bergerak mengikuti irama, mengenakan atribut budaya yang aman, atau memperlihatkan hasil karya bertema tari tradisional.

Kegiatan ini bertujuan membangun keberanian, kerja sama, kegembiraan, dan kecintaan awal terhadap budaya Minangkabau.

6. Mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam

Keempat elemen tersebut dapat dikembangkan melalui tiga prinsip pembelajaran mendalam.

a. Berkesadaran

Anak dibimbing untuk memperhatikan apa yang sedang dipelajari, mengenali perasaannya, dan memahami aturan sederhana dalam kegiatan bermain.

b. Bermakna

Anak menghubungkan pengalaman belajar dengan kehidupan sehari-hari, seperti melihat Rumah Gadang di lingkungan sekitar, mengenali pakaian adat, membantu teman, dan menyaksikan pertunjukan budaya.

c. Menggembirakan

Guru menciptakan suasana belajar yang aman, menyenangkan, penuh penghargaan, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi.

7. Peran Guru dan Orang Tua

Guru berperan sebagai teladan, pendamping, dan fasilitator pembelajaran. Guru memberikan contoh perilaku yang baik serta menyiapkan lingkungan bermain yang mendukung perkembangan anak.

Orang tua dapat melanjutkan pembiasaan di rumah, seperti mengajak anak berbicara dengan santun, merapikan mainan, menggunakan barang secara hemat, dan mengenalkan budaya Minangkabau melalui cerita keluarga.

Kerja sama guru dan orang tua akan membantu anak memperoleh pengalaman belajar yang berkesinambungan antara sekolah, rumah, dan lingkungan masyarakat.

E. Asesmen Perkembangan Anak dalam Pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi

1. Pengertian Asesmen

Asesmen merupakan proses mengumpulkan informasi tentang perkembangan dan pengalaman belajar anak untuk membantu guru memahami kemampuan, kebutuhan, serta kemajuan setiap peserta didik.

Dalam pembelajaran Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) Fase Pondasi, asesmen dilaksanakan secara autentik melalui pengamatan terhadap aktivitas dan perilaku anak dalam kegiatan sehari-hari.

Asesmen bukan bertujuan memberikan peringkat atau membandingkan kemampuan antaranak, melainkan membantu guru merancang pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan perkembangan masing-masing anak.

2. Prinsip Asesmen Fase Pondasi

Pelaksanaan asesmen ABS-SBK perlu memperhatikan prinsip berikut.

a. Berpusat pada Anak

Penilaian memperhatikan kemampuan, minat, kebutuhan, dan tahap perkembangan masing-masing anak.

b. Dilaksanakan Secara Alami

Guru mengamati perkembangan anak ketika bermain, bercerita, berkarya, dan berinteraksi dengan orang lain.

c. Berkesinambungan

Asesmen dilakukan secara berkala untuk melihat perkembangan anak dari waktu ke waktu.

d. Menghargai Perbedaan

Guru tidak membandingkan anak yang satu dengan anak lainnya. Setiap anak memiliki kesempatan dan kecepatan perkembangan yang berbeda.

e. Mengutamakan Umpan Balik Positif

Guru memberikan dorongan, penghargaan, dan bantuan yang membangun tanpa mempermalukan anak.

3. Teknik Asesmen

a. Observasi

Guru mengamati perilaku dan keterlibatan anak selama kegiatan pembelajaran.

Contoh: Guru mengamati bagaimana anak mengenali gambar Rumah Gadang atau membantu temannya ketika bermain.

b. Catatan Anekdot

Guru mencatat peristiwa penting yang menunjukkan perkembangan pengetahuan, sikap, atau keterampilan anak.

Contoh:

Ketika bermain balok, seorang anak membantu temannya menyusun kembali bangunan yang roboh tanpa diminta.

Peristiwa tersebut dapat menjadi bukti perkembangan sikap suka menolong.

c. Hasil Karya

Guru mengumpulkan karya anak sebagai dokumentasi perkembangan.

Contoh: Gambar Rumah Gadang, kolase pakaian adat, atau karya seni yang terinspirasi dari tari tradisional Minangkabau.

d. Percakapan

Guru melakukan percakapan sederhana untuk mengetahui pemahaman anak.

Contoh pertanyaan:

  • "Apa nama rumah adat yang kita lihat tadi?"

  • "Apa yang kamu lakukan jika temanmu membutuhkan bantuan?"

  • "Bagaimana perasaanmu ketika bergerak mengikuti musik tari?"

e. Dokumentasi Foto atau Video

Guru dapat mendokumentasikan kegiatan anak, dengan memperhatikan persetujuan orang tua, privasi, dan kebijakan satuan pendidikan.

Dokumentasi digunakan sebagai bukti proses belajar dan bahan refleksi perkembangan anak.

4. Contoh Indikator Pengamatan Berdasarkan Empat Elemen

Elemen 1 — Sejarah Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.

Contoh indikator pengamatan:

  • Anak menunjukkan ketertarikan ketika melihat gambar Rumah Gadang.

  • Anak mengenali Rumah Gadang melalui gambar atau miniatur.

  • Anak mencoba menceritakan ciri sederhana Rumah Gadang sesuai kemampuannya.

Elemen 2 — Pemahaman Nilai Adat

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal baju adat Minangkabau.

Contoh indikator pengamatan:

  • Anak menunjukkan ketertarikan pada gambar pakaian adat.

  • Anak mengenali pakaian adat Minangkabau melalui gambar atau benda.

  • Anak mencoba menyebutkan atau menunjukkan bagian pakaian adat yang dikenalnya.

Elemen 3 — Aturan Masyarakat Minangkabau

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sikap rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab dan memiliki rasa malu.

Contoh indikator pengamatan:

  • Anak menghargai teman dan tidak membanggakan diri secara berlebihan.

  • Anak menunjukkan kemauan membantu teman.

  • Anak menggunakan bahan dan perlengkapan secara hemat.

  • Anak berusaha berkata jujur dalam kegiatan sehari-hari.

  • Anak menunjukkan tanggung jawab terhadap alat permainan.

  • Anak mulai mengenali perilaku yang pantas dan tidak pantas sesuai usia, tanpa merasa dipermalukan.

Elemen 4 — Adat Salingka Nagari

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal tari tradisional Minangkabau.

Contoh indikator pengamatan:

  • Anak menunjukkan ketertarikan ketika melihat pertunjukan tari.

  • Anak mengenali tari tradisional melalui gambar, musik, atau gerakan.

  • Anak mencoba mengikuti gerakan sederhana sesuai kemampuan motoriknya.

Indikator tersebut merupakan contoh pengembangan oleh guru dan bukan rumusan indikator wajib dalam Peraturan Bupati.

5. Contoh Format Lembar Observasi

Identitas Pengamatan

Nama Anak: ............................................

Kelompok/Usia: ........................................

Tanggal: ..............................................

Kegiatan: .............................................

Elemen ABS-SBK: .......................................

Tujuan Pembelajaran: ..................................

Catatan Pengamatan

Perilaku atau aktivitas yang terlihat:

....................................................................

....................................................................

Bukti perkembangan anak:

....................................................................

....................................................................

Tindak Lanjut Guru

....................................................................

....................................................................

Guru dapat melampirkan foto kegiatan atau hasil karya anak apabila diperlukan.

6. Contoh Catatan Anekdot

Nama Anak: Upiak (nama contoh)

Kegiatan: Bermain menyusun Rumah Gadang dari balok

Peristiwa yang Diamati:

Ketika bangunan balok temannya roboh, Upiak menghampiri dan membantu menyusun kembali balok tersebut. Setelah selesai, Upiak mengajak temannya melanjutkan permainan bersama.

Interpretasi Guru:

Anak menunjukkan perilaku suka menolong dan mampu bekerja sama dengan teman dalam kegiatan bermain.

Tindak Lanjut:

Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti kegiatan kelompok lainnya serta membiasakan sikap saling membantu.

7. Pelaporan Hasil Asesmen

Hasil asesmen disampaikan dalam bentuk deskripsi perkembangan anak yang mudah dipahami orang tua.

Contoh:

"Ananda mulai mengenali Rumah Gadang melalui gambar dan kegiatan bermain balok. Ananda juga menunjukkan sikap suka menolong ketika bermain bersama teman. Pada kegiatan berikutnya, guru akan memberikan lebih banyak kesempatan untuk mengenal pakaian adat dan tari tradisional Minangkabau."

Pelaporan hendaknya menggambarkan kemajuan nyata anak, kekuatan yang telah terlihat, serta dukungan yang masih diperlukan.

8. Pemanfaatan Hasil Asesmen

Hasil asesmen digunakan guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran, memberikan pendampingan yang sesuai, serta menjalin kerja sama dengan orang tua.

Dengan asesmen yang ramah anak dan berkesinambungan, pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi diharapkan mampu mendukung perkembangan karakter, pengetahuan budaya, keterampilan sosial, dan kecintaan anak terhadap budaya Minangkabau.

F. Peran Guru, Orang Tua, dan Lingkungan Nagari dalam Pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi

1. Pentingnya Kerja Sama dalam Pendidikan ABS-SBK

Pendidikan Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) pada Fase Pondasi tidak cukup dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah. Nilai-nilai adat dan karakter yang diperkenalkan kepada anak perlu diperkuat melalui pembiasaan dalam keluarga dan kehidupan masyarakat.

Anak usia dini belajar terutama melalui pengalaman langsung, pengamatan, peniruan, dan interaksi dengan lingkungan. Oleh karena itu, keteladanan orang dewasa memiliki peranan penting dalam keberhasilan pembelajaran.

Kerja sama antara guru, orang tua, keluarga besar, dan masyarakat nagari diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan baik sekaligus memperkenalkan identitas budaya Minangkabau sejak usia dini.

2. Peran Guru PAUD/TK

Guru berperan sebagai pendidik, teladan, pendamping, dan fasilitator pengalaman belajar anak.

Dalam pembelajaran ABS-SBK, guru dapat melaksanakan beberapa peran berikut.

a. Memberikan Keteladanan

Guru menunjukkan sikap rendah hati, jujur, suka menolong, hemat, bertanggung jawab, serta berperilaku pantas dalam kehidupan sehari-hari.

b. Menciptakan Lingkungan Belajar Bernuansa Minangkabau

Guru dapat menyiapkan sudut budaya yang berisi gambar Rumah Gadang, pakaian adat, alat musik tradisional, dan karya anak.

c. Mengembangkan Pembelajaran melalui Bermain

Guru merancang kegiatan bercerita, bernyanyi, bermain peran, membuat karya, dan bergerak mengikuti irama tari tradisional.

d. Menghargai Perkembangan Setiap Anak

Guru memberikan kesempatan yang sama kepada anak untuk mencoba, bertanya, berkreasi, dan menunjukkan kemampuan sesuai tahap perkembangannya.

e. Menjalin Komunikasi dengan Orang Tua

Guru menyampaikan perkembangan anak dan memberikan saran kegiatan sederhana yang dapat dilakukan di rumah.

3. Peran Orang Tua dan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Nilai-nilai yang dikenalkan di sekolah akan lebih bermakna apabila didukung oleh kebiasaan di rumah.

a. Membiasakan Sikap Terpuji

Orang tua memberikan contoh berkata jujur, membantu sesama, menggunakan barang secara hemat, dan bertanggung jawab terhadap tugas sederhana.

b. Mengenalkan Budaya melalui Kehidupan Sehari-hari

Orang tua dapat memperlihatkan Rumah Gadang, pakaian adat, foto keluarga dalam kegiatan adat, atau menceritakan pengalaman budaya yang pernah diikuti.

c. Menggunakan Bahasa yang Santun

Anak dibiasakan mendengar dan menggunakan ungkapan yang baik ketika berbicara dengan anggota keluarga maupun orang lain.

d. Memberikan Kesempatan Anak Membantu

Anak dapat dilibatkan dalam kegiatan sederhana, seperti merapikan mainan, menyimpan alas kaki, atau membantu menyiapkan perlengkapan makan sesuai kemampuan.

e. Menghargai dan Mendampingi Anak

Orang tua memberikan bimbingan dengan kasih sayang tanpa membandingkan atau mempermalukan anak.

4. Peran Lingkungan Nagari

Nagari merupakan lingkungan sosial dan budaya yang memiliki sumber belajar berharga bagi pengenalan adat Minangkabau.

a. Niniak Mamak dan Pemangku Adat

Dapat menjadi narasumber untuk memperkenalkan Rumah Gadang, pakaian adat, dan tradisi setempat melalui cerita sederhana yang sesuai dengan usia anak.

b. Bundo Kanduang

Dapat membantu mengenalkan pakaian adat, tata krama, serta nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian dalam keluarga.

c. Alim Ulama

Dapat memberikan keteladanan dalam pembiasaan akhlak mulia, seperti kejujuran, rendah hati, dan suka menolong.

d. Seniman dan Pelaku Budaya

Dapat memperkenalkan tari tradisional melalui pertunjukan singkat, demonstrasi gerakan sederhana, atau kegiatan budaya yang aman bagi anak.

e. Pemerintah Nagari dan Masyarakat

Dapat mendukung penyediaan sumber belajar, kegiatan pengenalan budaya, dan lingkungan yang ramah anak.

Keterlibatan masyarakat hendaknya tetap memperhatikan adat salingka nagari serta kesiapan perkembangan peserta didik.

5. Contoh Kegiatan Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Nagari

Kegiatan 1 — Hari Mengenal Rumah Gadang

Guru memperkenalkan Rumah Gadang melalui gambar. Orang tua membantu anak mengamati Rumah Gadang di lingkungan sekitar apabila memungkinkan. Pemangku adat atau anggota masyarakat dapat memberikan penjelasan singkat tentang rumah tersebut.

Kegiatan 2 — Hari Pakaian Adat Minangkabau

Guru mengadakan kegiatan pengenalan pakaian adat menggunakan gambar, boneka, atau pakaian asli yang tersedia. Orang tua dapat membantu menyiapkan perlengkapan sederhana tanpa kewajiban membeli pakaian baru.

Kegiatan 3 — Pekan Anak Berakhlak Mulia

Guru dan orang tua bekerja sama membiasakan enam sikap terpuji, yaitu rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki rasa malu dalam pengertian mengenali kepantasan perilaku.

Guru mengamati perkembangan di sekolah, sedangkan orang tua berbagi pengalaman pembiasaan di rumah.

Kegiatan 4 — Mengenal Tari Tradisional Nagari

Guru mengundang seniman setempat untuk memperkenalkan tari tradisional melalui pertunjukan atau gerakan sederhana. Anak diberi kesempatan mengamati dan mencoba gerakan sesuai minat serta kemampuannya.

6. Prinsip Pelaksanaan Kolaborasi

Kerja sama sekolah, keluarga, dan lingkungan nagari perlu dilaksanakan berdasarkan prinsip berikut:

  • Mengutamakan keselamatan dan kenyamanan anak.

  • Menghargai perbedaan kemampuan serta latar belakang keluarga.

  • Tidak membebani orang tua dengan biaya kegiatan yang tidak diperlukan.

  • Menghormati kekhasan adat salingka nagari.

  • Mengutamakan pengalaman langsung dan kegiatan yang menggembirakan.

  • Menjaga komunikasi yang baik antara guru, orang tua, dan masyarakat.

7. Penutup

Keberhasilan pembelajaran ABS-SBK pada Fase Pondasi memerlukan kerja sama yang berkesinambungan antara guru, orang tua, keluarga, dan masyarakat nagari.

Sekolah memperkenalkan nilai dan budaya melalui kegiatan bermain. Keluarga memperkuatnya melalui keteladanan dan pembiasaan. Sementara itu, lingkungan nagari memberikan pengalaman nyata tentang kehidupan budaya Minangkabau.

Melalui kerja sama tersebut, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, mengenal budaya daerahnya, menghargai orang lain, dan memiliki kecintaan terhadap warisan adat Minangkabau.

G. Contoh Perencanaan Pembelajaran Mingguan ABS-SBK Fase Pondasi PAUD/TK

1. Pengertian Perencanaan Pembelajaran Mingguan

Perencanaan pembelajaran mingguan merupakan rancangan pengalaman belajar yang disusun guru untuk membantu anak mencapai tujuan pembelajaran melalui kegiatan yang terarah, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangannya.

Pada Fase Pondasi, perencanaan pembelajaran ABS-SBK tidak harus dilaksanakan sebagai mata pelajaran terpisah dengan jadwal yang kaku. Guru dapat mengintegrasikannya ke dalam kegiatan bermain, pembiasaan, bercerita, berkarya, dan pengenalan lingkungan budaya.

Perencanaan hendaknya mengacu pada empat elemen Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran dalam Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

2. Identitas Contoh Perencanaan

Satuan Pendidikan: PAUD/TK

Fase: Pondasi

Tema: Aku Cinta Budaya Minangkabau

Alokasi Waktu: Satu minggu, disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan satuan pendidikan.

Pendekatan: Pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Tujuan Umum: Memberikan pengalaman awal kepada anak untuk mengenal Rumah Gadang, baju adat, sikap terpuji, dan tari tradisional Minangkabau.

3. Contoh Rangkaian Kegiatan Mingguan

Hari Senin — Aku Mengenal Rumah Gadang

Elemen: Sejarah Minangkabau.

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.

Kegiatan:

  • Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang dan mengajak anak mengamati bentuknya.

  • Anak menceritakan apa yang dilihat sesuai kemampuan bahasanya.

  • Anak membuat bentuk Rumah Gadang menggunakan balok, kardus, atau bahan sederhana.

  • Guru mengajak anak memperlihatkan dan menceritakan hasil karyanya.

Asesmen: Observasi ketertarikan anak, kemampuan mengenali Rumah Gadang, dan keterlibatan dalam kegiatan bermain.

Hari Selasa — Aku Mengenal Baju Adat Minangkabau

Elemen: Pemahaman Nilai Adat.

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal baju adat Minangkabau.

Kegiatan:

  • Guru memperlihatkan gambar pakaian adat Minangkabau.

  • Anak mengamati warna, bentuk, dan bagian pakaian.

  • Anak bermain memasangkan gambar pakaian adat.

  • Anak membuat kolase atau mewarnai gambar pakaian adat sesuai minatnya.

Asesmen: Observasi kemampuan mengenali pakaian adat dan dokumentasi hasil karya anak.

Hari Rabu — Aku Anak yang Jujur dan Suka Menolong

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau.

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sikap rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki rasa malu.

Fokus kegiatan: Kejujuran dan suka menolong.

Kegiatan:

  • Guru membacakan cerita bergambar tentang anak yang berkata jujur dan membantu temannya.

  • Anak berdiskusi sederhana tentang tokoh dalam cerita.

  • Anak bermain bersama dan saling membantu menyelesaikan kegiatan.

  • Guru memberikan penguatan ketika anak menunjukkan perilaku jujur dan suka menolong.

Asesmen: Catatan anekdot tentang perilaku jujur, suka menolong, dan interaksi anak dengan teman.

Hari Kamis — Aku Anak yang Bertanggung Jawab

Elemen: Aturan Masyarakat Minangkabau.

Fokus kegiatan: Rendah hati, hemat, bertanggung jawab, dan mengenali kepantasan perilaku.

Kegiatan:

  • Anak bermain menggunakan bahan dan alat secara hemat.

  • Anak bekerja sama merapikan perlengkapan setelah bermain.

  • Guru membacakan cerita tentang sikap rendah hati dan menghargai teman.

  • Anak diajak mengenali perilaku yang pantas dan tidak pantas melalui gambar atau permainan peran sederhana.

Guru mengenalkan rasa malu sebagai kesadaran menjaga kepantasan perilaku dan privasi diri, bukan sebagai alasan untuk mempermalukan anak.

Asesmen: Observasi pembiasaan dan percakapan sederhana.

Hari Jumat — Aku Mengenal Tari Tradisional Minangkabau

Elemen: Adat Salingka Nagari.

Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal tari tradisional Minangkabau.

Kegiatan:

  • Guru memperlihatkan video singkat atau gambar tari tradisional Minangkabau.

  • Anak mengamati gerakan dan irama.

  • Anak mencoba gerakan sederhana sesuai kemampuan motoriknya.

  • Anak mengikuti pentas mini budaya bersama teman-temannya.

Asesmen: Observasi ketertarikan anak terhadap tari, keberanian mencoba gerakan, dan keterlibatan dalam kegiatan.

4. Integrasi Pembelajaran Mendalam

Berkesadaran

Pada awal kegiatan, guru mengajak anak memperhatikan gambar, benda, cerita, atau gerakan yang akan dipelajari. Anak diberikan kesempatan bertanya dan menyampaikan pengalaman yang dimilikinya.

Bermakna

Guru menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Contohnya, anak mengenal Rumah Gadang yang terdapat di lingkungan sekitar, pakaian adat yang digunakan dalam kegiatan budaya, serta kebiasaan membantu anggota keluarga di rumah.

Menggembirakan

Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain, bergerak, memilih bahan, berkarya, dan berinteraksi dalam suasana yang aman serta menyenangkan.

5. Media dan Sumber Belajar

Media yang dapat digunakan antara lain:

  • Gambar atau miniatur Rumah Gadang.

  • Gambar dan contoh baju adat Minangkabau.

  • Buku cerita bergambar tentang perilaku terpuji.

  • Balok, kardus, kertas, dan bahan karya lainnya.

  • Musik serta video tari tradisional yang sesuai untuk anak.

  • Lingkungan budaya dan narasumber masyarakat setempat.

Guru dapat memanfaatkan bahan sederhana yang tersedia di sekolah dan lingkungan tanpa membebani orang tua.

6. Refleksi Guru

Setelah melaksanakan kegiatan mingguan, guru dapat melakukan refleksi melalui pertanyaan berikut:

  1. Apakah anak menunjukkan ketertarikan terhadap kegiatan yang diberikan?

  2. Apakah kegiatan sudah sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan perkembangan anak?

  3. Perilaku terpuji apa saja yang mulai terlihat dalam kegiatan sehari-hari?

  4. Apakah anak mendapatkan kesempatan bermain dan bereksplorasi secara menyenangkan?

  5. Kegiatan apa yang perlu diperbaiki atau dikembangkan pada minggu berikutnya?

7. Tindak Lanjut Pembelajaran

Hasil pengamatan dan refleksi digunakan untuk menyusun kegiatan berikutnya.

Apabila anak masih memerlukan pengalaman tambahan untuk mengenal Rumah Gadang, guru dapat mengulang kegiatan melalui media yang berbeda.

Apabila anak menunjukkan ketertarikan terhadap pakaian adat atau tari tradisional, guru dapat mengembangkan kegiatan lanjutan sesuai minat anak.

Pembiasaan enam sikap terpuji hendaknya dilakukan secara berkelanjutan, tidak terbatas pada hari atau minggu tertentu.

Dengan perencanaan yang fleksibel dan berpusat pada anak, pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan dasar karakter dan kecintaan terhadap budaya Minangkabau.

H. Contoh Modul Ajar ABS-SBK Fase Pondasi PAUD/TK

1. Identitas Modul Ajar

Satuan Pendidikan: PAUD/TK

Muatan Lokal: Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK)

Fase: Pondasi

Elemen: Sejarah Minangkabau

Tema: Aku Cinta Budaya Minangkabau

Topik: Aku Mengenal Rumah Gadang

Alokasi Waktu: Satu kegiatan pembelajaran, disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik anak.

Pendekatan: Pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

2. Capaian Pembelajaran (CP)

“Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.”

Rumusan ini mengacu pada Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

3. Tujuan Pembelajaran (TP)

“Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.”

Rumusan ini mengacu pada Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

4. Tujuan Kegiatan

Melalui kegiatan bermain dan pengamatan, anak diharapkan memperoleh kesempatan untuk:

  1. Mengamati gambar atau miniatur Rumah Gadang.

  2. Mengenali bentuk Rumah Gadang melalui ciri-ciri yang mudah diamati.

  3. Mengungkapkan pengalaman atau pengetahuannya tentang Rumah Gadang sesuai kemampuan bahasa.

  4. Membuat bentuk Rumah Gadang menggunakan bahan sederhana.

  5. Menunjukkan sikap bekerja sama, suka menolong, dan bertanggung jawab selama kegiatan bermain.

Tujuan kegiatan tersebut merupakan pengembangan pedagogis dari CP dan TP resmi.

5. Media dan Sumber Belajar

Media yang dapat digunakan meliputi:

  • Gambar atau miniatur Rumah Gadang.

  • Balok kayu atau balok plastik.

  • Kardus, kertas, dan bahan bekas yang aman.

  • Lem, krayon, dan perlengkapan berkarya yang sesuai usia.

  • Buku cerita bergambar tentang kehidupan keluarga Minangkabau.

  • Lingkungan sekitar yang memiliki Rumah Gadang, apabila memungkinkan.

6. Pertanyaan Pemantik

Guru dapat mengajukan pertanyaan sederhana berikut:

  • “Anak-anak, rumah apakah yang ada pada gambar ini?”

  • “Bagaimana bentuk atapnya?”

  • “Apakah kalian pernah melihat rumah seperti ini?”

  • “Bagaimana cara kita membuat Rumah Gadang menggunakan balok?”

Pertanyaan disampaikan secara santai untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan untuk menguji hafalan anak.

7. Langkah-Langkah Pembelajaran

A. Kegiatan Pembuka

Guru menyambut anak dengan ramah, mengajak berdoa sesuai kebiasaan satuan pendidikan, serta menciptakan suasana belajar yang nyaman.

Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang dan mengajak anak memperhatikan bentuknya.

Anak diberi kesempatan menceritakan pengalaman ketika melihat Rumah Gadang, baik secara langsung maupun melalui gambar.

B. Kegiatan Inti

Kegiatan 1 — Mengamati Rumah Gadang

Guru memperlihatkan gambar atau miniatur Rumah Gadang.

Anak diajak mengamati bagian rumah yang mudah dikenali, seperti atap, pintu, jendela, dan tiang.

Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya atau menyampaikan pendapat.

Kegiatan 2 — Membuat Rumah Gadang dari Balok

Anak memilih balok atau bahan lain yang tersedia.

Anak mencoba menyusun bentuk rumah sesuai imajinasi dan kemampuannya.

Guru mendampingi, memberikan bantuan jika diperlukan, dan menghargai hasil karya setiap anak.

Kegiatan 3 — Bermain Peran di Rumah Gadang

Anak bermain peran sebagai anggota keluarga yang sedang menerima tamu.

Guru memberikan contoh mengucapkan salam, menyambut tamu, dan berbicara dengan santun.

Anak mempraktikkan perilaku tersebut secara alami melalui permainan.

C. Kegiatan Penutup

Guru mengajak anak mengamati kembali hasil karya yang telah dibuat.

Anak diberi kesempatan menceritakan kegiatan yang paling disukainya.

Guru memberikan apresiasi terhadap usaha dan keterlibatan anak.

Kegiatan diakhiri dengan merapikan alat permainan bersama serta melakukan refleksi sederhana.

8. Penerapan Pembelajaran Mendalam

a. Berkesadaran

Anak memperhatikan gambar Rumah Gadang, mengenali pengalaman yang dimiliki, dan belajar mengikuti aturan sederhana ketika menggunakan alat permainan.

b. Bermakna

Anak menghubungkan Rumah Gadang dengan lingkungan budaya Minangkabau serta pengalaman kehidupan keluarga.

c. Menggembirakan

Anak memperoleh kesempatan memilih bahan, menyusun balok, bermain peran, dan menyampaikan gagasan dalam suasana yang aman serta menyenangkan.

9. Asesmen Pembelajaran

Asesmen dilakukan melalui observasi, percakapan, catatan anekdot, dan dokumentasi hasil karya.

Contoh indikator pengamatan:

  • Anak menunjukkan ketertarikan ketika melihat Rumah Gadang.

  • Anak mengenali Rumah Gadang melalui gambar atau miniatur.

  • Anak mencoba menyampaikan ciri sederhana Rumah Gadang.

  • Anak terlibat dalam kegiatan membuat bentuk Rumah Gadang.

  • Anak menunjukkan perilaku bekerja sama dan bertanggung jawab ketika bermain.

Indikator ini digunakan sebagai panduan pengamatan, bukan sebagai daftar kemampuan yang harus dikuasai semua anak pada satu pertemuan.

10. Contoh Catatan Anekdot

Nama Anak: Buyuang (nama contoh)

Kegiatan: Membuat Rumah Gadang dari balok

Peristiwa yang Diamati:

Buyuang mengamati gambar Rumah Gadang, kemudian memilih beberapa balok untuk menyusun bangunan. Ia mencoba membuat bagian atap menggunakan balok yang berbeda. Ketika seorang teman mengalami kesulitan, Buyuang membantu mengambilkan balok yang diperlukan.

Interpretasi Guru:

Anak menunjukkan ketertarikan terhadap bentuk Rumah Gadang, mencoba mengembangkan gagasan melalui kegiatan konstruksi, serta memperlihatkan perilaku suka menolong.

Tindak Lanjut:

Guru menyediakan gambar Rumah Gadang dengan sudut pandang berbeda dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan bangunan melalui kegiatan bermain berikutnya.

11. Refleksi Guru

Setelah kegiatan selesai, guru dapat melakukan refleksi:

  1. Apakah media yang digunakan menarik perhatian anak?

  2. Apakah anak memperoleh kesempatan mengamati dan bereksplorasi?

  3. Apakah kegiatan sesuai dengan tahap perkembangan anak?

  4. Apakah anak merasa aman dan senang selama bermain?

  5. Bagaimana kegiatan berikutnya dapat dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan anak?

12. Kegiatan Lanjutan Bersama Orang Tua

Guru dapat mengajak orang tua memperkenalkan Rumah Gadang melalui foto keluarga, buku cerita, atau pengamatan langsung apabila memungkinkan.

Anak dapat diajak menceritakan pengalamannya kepada guru dan teman-teman di sekolah.

Kegiatan bersama keluarga bersifat sukarela dan tidak perlu membebani orang tua dengan biaya tambahan.

13. Penutup

Contoh modul ajar ini memperlihatkan bahwa pembelajaran ABS-SBK Fase Pondasi dapat dikembangkan melalui pengalaman bermain yang sederhana, konkret, dan dekat dengan kehidupan anak.

Guru memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan kegiatan dengan kondisi satuan pendidikan, ketersediaan sumber belajar, karakteristik peserta didik, serta kekhasan adat salingka nagari.

Melalui kegiatan yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, anak diharapkan mulai mengenal Rumah Gadang sebagai bagian dari warisan budaya Minangkabau sekaligus mengembangkan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari.

I. Rekomendasi Pengembangan Perangkat Ajar ABS-SBK Fase Pondasi PAUD/TK

1. Pentingnya Pengembangan Perangkat Ajar

Perangkat ajar merupakan sarana yang membantu guru merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran secara sistematis.

Pada Fase Pondasi PAUD/TK, perangkat ajar Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) perlu dirancang secara sederhana, fleksibel, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini.

Perangkat ajar tidak hanya berisi materi yang akan diperkenalkan, tetapi juga pengalaman bermain, media pembelajaran, kegiatan pembiasaan, serta cara mengamati perkembangan anak.

Guru dapat mengembangkan perangkat ajar berdasarkan empat elemen Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) yang tercantum dalam Lampiran I dan Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.

2. Komponen Perangkat Ajar yang Direkomendasikan

a. Identitas Pembelajaran

Memuat nama satuan pendidikan, fase, tema, topik, serta perkiraan waktu pelaksanaan kegiatan.

b. Capaian Pembelajaran

Memuat rumusan CP resmi yang sesuai dengan elemen pembelajaran.

c. Tujuan Pembelajaran

Memuat rumusan TP resmi sebagai arah pengembangan kegiatan.

d. Tujuan Kegiatan

Memuat pengalaman atau kemampuan yang diharapkan muncul selama kegiatan bermain. Tujuan kegiatan dikembangkan guru berdasarkan TP dan kebutuhan perkembangan anak.

e. Media dan Sumber Belajar

Memuat gambar, benda budaya, alat bermain, buku cerita, lingkungan sekitar, dan sumber belajar lain yang aman bagi anak.

f. Langkah-Langkah Pembelajaran

Memuat kegiatan pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup yang memberi kesempatan anak untuk mengamati, bertanya, mencoba, bermain, dan berefleksi.

g. Asesmen

Memuat teknik pengamatan, bukti perkembangan, dan tindak lanjut yang diperlukan.

h. Refleksi Guru

Memuat hasil evaluasi guru terhadap kesesuaian kegiatan, keterlibatan anak, dan kemungkinan perbaikan pembelajaran.

Komponen tersebut merupakan rekomendasi penyusunan perangkat ajar, bukan format baku yang diwajibkan oleh Lampiran CP dan TP.

3. Rekomendasi Pengembangan Perangkat Ajar Berdasarkan Empat Elemen

Elemen 1 — Sejarah Minangkabau

Materi: Rumah Gadang.

Capaian dan Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.

Contoh topik perangkat ajar:

  • Aku Mengenal Rumah Gadang.

  • Atap Gonjong Rumah Gadang.

  • Bermain Membuat Rumah Gadang.

  • Berkunjung Mengenal Rumah Gadang di Lingkungan Sekitar.

Contoh media: Gambar, miniatur, balok, kardus, dan buku cerita.

Elemen 2 — Pemahaman Nilai Adat

Materi: Baju adat.

Capaian dan Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal baju adat Minangkabau.

Contoh topik perangkat ajar:

  • Aku Mengenal Baju Adat Minangkabau.

  • Warna dan Bentuk Pakaian Adat.

  • Bermain Peran dengan Pakaian Adat.

  • Menghias Gambar Pakaian Adat.

Contoh media: Gambar, boneka, pakaian adat, kain, dan bahan kolase.

Elemen 3 — Aturan Masyarakat Minangkabau

Materi: Sikap rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki rasa malu.

Capaian dan Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal keenam sikap tersebut.

Contoh topik perangkat ajar:

  • Aku Anak yang Rendah Hati.

  • Aku Suka Menolong.

  • Aku Anak Hemat.

  • Aku Berkata Jujur.

  • Aku Bertanggung Jawab.

  • Aku Tahu Perilaku yang Pantas.

Contoh media: Cerita bergambar, boneka tangan, kartu situasi, alat bermain, dan benda sehari-hari.

Pengenalan rasa malu diarahkan pada kesadaran menjaga kepantasan perilaku dan privasi diri, bukan menumbuhkan rasa takut atau mempermalukan anak.

Elemen 4 — Adat Salingka Nagari

Materi: Tari tradisional Minangkabau.

Capaian dan Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal tari tradisional Minangkabau.

Contoh topik perangkat ajar:

  • Aku Mengenal Tari Tradisional Minangkabau.

  • Gerakan Tangan dalam Tari.

  • Bergerak Mengikuti Irama Musik Tradisional.

  • Pentas Mini Budaya Nagari.

Contoh media: Gambar tari, musik tradisional, video, dan perlengkapan bermain yang aman.

Jenis tari yang diperkenalkan disesuaikan dengan tradisi dan kekhasan adat salingka nagari.

4. Langkah Pengembangan Perangkat Ajar oleh Guru

Langkah Pertama — Memahami CP dan TP

Guru membaca dan memahami rumusan CP dan TP sesuai elemen yang akan dikembangkan.

Langkah Kedua — Menentukan Topik

Guru memilih topik yang dekat dengan kehidupan anak dan sesuai dengan lingkungan budaya setempat.

Langkah Ketiga — Merancang Pengalaman Bermain

Guru menyiapkan kegiatan yang memungkinkan anak mengamati, mencoba, berinteraksi, bergerak, dan berkarya.

Langkah Keempat — Menyiapkan Media

Guru memilih media yang aman, mudah diperoleh, dan sesuai dengan kemampuan anak.

Langkah Kelima — Menentukan Cara Asesmen

Guru menyiapkan pengamatan sederhana untuk mencatat pengalaman dan perkembangan anak.

Langkah Keenam — Melaksanakan dan Merefleksikan Pembelajaran

Guru melaksanakan kegiatan, mengamati respons anak, dan menggunakan hasil refleksi untuk memperbaiki kegiatan berikutnya.

5. Prinsip Pembelajaran Mendalam dalam Perangkat Ajar

Berkesadaran

Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk memperhatikan, mengenali pengalaman, dan menyadari tindakan sederhana yang dilakukan selama bermain.

Bermakna

Guru menghubungkan kegiatan dengan kehidupan anak, keluarga, dan lingkungan budaya Minangkabau.

Menggembirakan

Guru menyediakan kegiatan yang aman, menyenangkan, menghargai pilihan anak, dan memberikan kesempatan untuk bereksplorasi.

6. Pengembangan Perangkat Ajar Berbasis Adat Salingka Nagari

Setiap nagari memiliki kekhasan tradisi, lingkungan, dan sumber belajar budaya.

Karena itu, guru dapat menyesuaikan contoh kegiatan dengan kondisi setempat, seperti memilih Rumah Gadang yang dikenal masyarakat, memperkenalkan pakaian adat yang digunakan di lingkungan nagari, atau mengenalkan tari tradisional yang hidup dalam masyarakat.

Penyesuaian tersebut hendaknya tetap mengacu pada CP dan TP yang berlaku, menghargai keragaman budaya, serta memperhatikan keselamatan dan kebutuhan perkembangan anak.

7. Kerja Sama dalam Pengembangan Perangkat Ajar

Guru dapat bekerja sama dengan kepala satuan pendidikan, rekan sejawat, orang tua, dan narasumber budaya setempat.

Kelompok kerja guru juga dapat menjadi wadah untuk menyusun, mencoba, mengevaluasi, dan menyempurnakan perangkat ajar ABS-SBK.

Melalui kerja sama tersebut, perangkat ajar diharapkan semakin relevan dengan kebutuhan anak serta lingkungan budaya Kabupaten Tanah Datar.

8. Penutup

Pengembangan perangkat ajar ABS-SBK Fase Pondasi merupakan bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran adat dan budaya Minangkabau yang sesuai dengan dunia anak.

Perangkat ajar yang baik tidak harus rumit atau menggunakan media yang mahal. Hal yang terpenting adalah kesesuaian dengan CP dan TP, kualitas pengalaman bermain, keteladanan guru, serta kebermaknaan kegiatan bagi perkembangan anak.

Dengan perangkat ajar yang sederhana, fleksibel, dan berpusat pada anak, pembelajaran ABS-SBK dapat menjadi fondasi awal pembentukan karakter dan kecintaan terhadap budaya Minangkabau.

J. Penutup dan Rekomendasi Implementasi Kurikulum ABS-SBK Fase Pondasi PAUD/TK

1. Penutup

Pendidikan Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) pada Fase Pondasi merupakan salah satu upaya penting untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur adat dan budaya Minangkabau kepada anak sejak usia dini.

Melalui Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar telah memberikan landasan bagi pengembangan pembelajaran ABS-SBK yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan karakteristik budaya masyarakat setempat.

Pada Fase Pondasi, Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran ABS-SBK mencakup empat elemen, yaitu:

  1. Sejarah Minangkabau, dengan pengenalan Rumah Gadang.

  2. Pemahaman Nilai Adat, dengan pengenalan baju adat Minangkabau.

  3. Aturan Masyarakat Minangkabau, dengan pengenalan sikap rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki rasa malu.

  4. Adat Salingka Nagari, dengan pengenalan tari tradisional Minangkabau.

Keempat elemen tersebut menjadi dasar bagi guru untuk mengembangkan pengalaman belajar yang konkret, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Pembelajaran ABS-SBK pada Fase Pondasi tidak diarahkan untuk membebani anak dengan hafalan istilah adat, penjelasan filosofis yang rumit, atau tuntutan akademik yang berlebihan.

Sebaliknya, pembelajaran dilaksanakan melalui kegiatan bermain, bercerita, bernyanyi, bergerak, berkarya, mengamati lingkungan, serta membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dapat membantu guru menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan anak.

Keberhasilan pendidikan ABS-SBK pada Fase Pondasi bukan semata-mata terlihat dari kemampuan anak mengenali Rumah Gadang, pakaian adat, atau tari tradisional, melainkan juga dari tumbuhnya kebiasaan baik, kepedulian terhadap sesama, rasa ingin tahu, dan kecintaan awal terhadap budaya Minangkabau.

2. Rekomendasi bagi Guru PAUD/TK

Guru diharapkan memahami Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran ABS-SBK sebelum merancang kegiatan.

Pembelajaran hendaknya dikembangkan melalui kegiatan bermain yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati, mencoba, bertanya, berinteraksi, dan berkarya.

Guru juga perlu menjadi teladan dalam menerapkan sikap rendah hati, suka menolong, hemat, jujur, bertanggung jawab, dan menjaga kepantasan perilaku.

Asesmen dilaksanakan secara autentik melalui observasi, percakapan, catatan anekdot, dan dokumentasi perkembangan anak.

3. Rekomendasi bagi Kepala Satuan Pendidikan

Kepala satuan pendidikan diharapkan memberikan dukungan kepada guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran ABS-SBK.

Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan sumber belajar, pendampingan pengembangan perangkat ajar, serta kesempatan bagi guru untuk berdiskusi dan berbagi praktik baik.

Kepala satuan pendidikan juga perlu mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan menghargai budaya Minangkabau.

4. Rekomendasi bagi Orang Tua

Orang tua diharapkan mendukung pembelajaran ABS-SBK melalui keteladanan dan pembiasaan di rumah.

Pengenalan budaya dapat dilakukan melalui cerita keluarga, pengamatan lingkungan, serta kegiatan sederhana yang memperkenalkan Rumah Gadang, pakaian adat, dan seni tradisional Minangkabau.

Pembiasaan perilaku jujur, suka menolong, hemat, rendah hati, dan bertanggung jawab perlu dilakukan dengan kasih sayang dan tanpa mempermalukan anak.

5. Rekomendasi bagi Pemerintah Nagari dan Pemangku Adat

Pemerintah nagari, niniak mamak, bundo kanduang, alim ulama, dan pelaku budaya diharapkan dapat mendukung pengenalan budaya Minangkabau kepada anak usia dini.

Dukungan dapat diwujudkan melalui penyediaan narasumber budaya, pengenalan lingkungan adat, kegiatan seni tradisional, dan pemanfaatan sumber belajar yang tersedia di nagari.

Pelaksanaannya perlu menghargai kekhasan adat salingka nagari serta memperhatikan keselamatan dan perkembangan anak.

6. Rekomendasi bagi Pemangku Kepentingan Pendidikan

Dinas pendidikan, pengawas, penilik, organisasi profesi, dan kelompok kerja guru dapat mendukung peningkatan kompetensi pendidik dalam mengembangkan pembelajaran ABS-SBK.

Kegiatan pendampingan dapat diarahkan pada pemahaman CP dan TP, penyusunan perangkat ajar, pengembangan media pembelajaran berbasis budaya lokal, serta pelaksanaan asesmen autentik.

Praktik baik yang dikembangkan oleh guru dapat didokumentasikan dan dibagikan sebagai sumber inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya.

7. Harapan untuk Masa Depan

Pendidikan ABS-SBK pada Fase Pondasi merupakan langkah awal dalam membangun generasi yang mengenal akar budayanya dan memiliki dasar akhlak yang mulia.

Anak-anak yang sejak dini dibiasakan berperilaku baik, menghargai sesama, dan mencintai budaya daerah diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjaga nilai-nilai luhur Minangkabau di tengah perkembangan zaman.

Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah bukan sekadar ungkapan yang dihafalkan, melainkan nilai kehidupan yang perlu diteladankan, dibiasakan, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

“Mewariskan adat kepada anak bukan dimulai dengan banyaknya nasihat yang mereka dengar, melainkan melalui keteladanan yang mereka lihat, kasih sayang yang mereka rasakan, dan kebiasaan baik yang mereka lakukan setiap hari.”

Semoga pengembangan Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase Pondasi di Kabupaten Tanah Datar menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk melahirkan generasi Minangkabau yang berakhlak mulia, berbudaya, berilmu, serta mampu mengamalkan falsafah ABS-SBK dalam kehidupannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“INYIAK BALIAU” BUYA LUBUAK LANDUA

Cerita Rakyat: SYEKH MAULANA SYOFI

STRATA USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) SMA/SMK/MA