Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI (Kelas I dan II)
A. Pendahuluan
Pendidikan dasar merupakan masa penting dalam membentuk karakter, kebiasaan, dan jati diri peserta didik. Pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), khususnya kelas I dan II, anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, serta memahami nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat.
Bagi masyarakat Minangkabau, pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur yang bersumber dari falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Falsafah ini menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang berakhlak mulia, beradat, berbudaya, serta berpedoman pada ajaran Islam.
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dikenal ungkapan “Syara' mangato, adat mamakai”, yang menggambarkan hubungan antara ajaran agama dan pelaksanaan adat dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut perlu diperkenalkan kepada peserta didik melalui pengalaman belajar yang sederhana, konkret, dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melalui Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal telah memberikan landasan bagi penyelenggaraan pembelajaran muatan lokal ABS-SBK pada satuan pendidikan.
Pada jenjang SD/MI, pembelajaran ABS-SBK yang diselenggarakan sebagai mata pelajaran tersendiri memiliki alokasi waktu 2 jam pelajaran setiap minggu sesuai ketentuan peraturan tersebut.
1. Karakteristik Peserta Didik Fase A
Fase A mencakup peserta didik kelas I dan II SD/MI. Pada fase ini, anak umumnya lebih mudah memahami materi melalui benda nyata, gambar, cerita, permainan, pengamatan lingkungan, dan pengalaman langsung.
Oleh karena itu, pembelajaran ABS-SBK perlu mengutamakan kegiatan yang dekat dengan kehidupan anak, seperti mengenal keluarga, berinteraksi secara santun, menghargai orang lain, dan mengenali budaya Minangkabau di lingkungan sekitarnya.
Guru hendaknya menghindari pembelajaran yang hanya menuntut peserta didik menghafalkan istilah adat tanpa memahami maknanya.
Sebaliknya, peserta didik perlu diberikan kesempatan untuk mengamati, bertanya, mencoba, menceritakan pengalaman, dan mempraktikkan nilai-nilai yang dipelajari.
2. Pentingnya Pembelajaran ABS-SBK pada Fase A
Pembelajaran ABS-SBK pada Fase A memiliki peranan penting dalam memperkuat dasar pembentukan karakter dan identitas budaya peserta didik.
Melalui pembelajaran yang sesuai dengan Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran, peserta didik diharapkan memperoleh pengalaman awal untuk mengenal adat dan budaya Minangkabau serta membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran ini juga menjadi sarana untuk menghubungkan pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang hidup dalam keluarga dan masyarakat nagari.
Dengan demikian, adat dan budaya Minangkabau tidak hanya diperkenalkan sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran yang bermakna.
3. Pembelajaran Mendalam dalam Muatan Lokal ABS-SBK
Pengembangan pembelajaran ABS-SBK Fase A dapat menerapkan tiga prinsip pembelajaran mendalam.
a. Berkesadaran
Peserta didik memahami tujuan kegiatan sederhana, memperhatikan pengalaman belajarnya, serta mulai menyadari pentingnya sikap dan perilaku yang baik.
b. Bermakna
Materi pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan nyata peserta didik, seperti pengalaman bersama keluarga, kegiatan di sekolah, serta adat dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat.
c. Menggembirakan
Guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui permainan edukatif, cerita bergambar, lagu, kegiatan kelompok, pengamatan, dan karya sederhana.
Ketiga prinsip tersebut diharapkan membantu peserta didik memahami materi ABS-SBK secara lebih mendalam, bukan sekadar mengingat informasi.
4. Menghargai Adat Salingka Nagari
Minangkabau memiliki kekayaan adat dan tradisi yang dapat menunjukkan kekhasan setiap nagari.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru perlu memperhatikan prinsip adat salingka nagari dengan menghargai kebiasaan dan tradisi setempat sepanjang sesuai dengan ketentuan kurikulum yang berlaku.
Lingkungan keluarga, rumah adat, tokoh masyarakat, kegiatan budaya, dan kehidupan sosial nagari dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang dekat dengan pengalaman peserta didik.
5. Tujuan Penulisan Artikel
Artikel ini disusun untuk membantu guru kelas I dan II SD/MI, kepala satuan pendidikan, serta pemerhati pendidikan memahami dan mengembangkan pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK Fase A di Kabupaten Tanah Datar.
Pembahasan akan mencakup Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, strategi pembelajaran mendalam, contoh kegiatan, asesmen, serta pengembangan perangkat ajar.
Dengan panduan ini, diharapkan guru dapat menyelenggarakan pembelajaran ABS-SBK yang sesuai dengan kurikulum, karakteristik peserta didik, dan lingkungan budaya Minangkabau.
Pendidikan adat yang bermakna bukan sekadar mengajarkan anak mengetahui apa yang baik, melainkan membimbing mereka memahami, mencintai, dan membiasakan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Capaian Pembelajaran (CP) Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI
1. Pengertian Capaian Pembelajaran
Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi yang diharapkan dimiliki peserta didik pada akhir suatu fase pembelajaran.
Dalam Kurikulum Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), CP menjadi pedoman bagi guru dalam merancang tujuan, materi, kegiatan, dan asesmen pembelajaran.
Fase A mencakup kelas I dan II SD/MI. Pembelajaran pada fase ini perlu disesuaikan dengan perkembangan anak yang masih membutuhkan pengalaman konkret, contoh perilaku nyata, serta kegiatan yang menarik dan menyenangkan.
2. Empat Elemen Capaian Pembelajaran Fase A
Berdasarkan Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, struktur CP ABS-SBK Fase A terdiri atas empat elemen berikut.
Elemen 1 — Sejarah Minangkabau
Materi: Minangkabau dan Rumah Gadang.
Rumusan CP:
“Murid mengenal Minangkabau dan rumah di Minangkabau.”
Elemen ini menjadi dasar pengenalan identitas Minangkabau dan lingkungan budaya kepada peserta didik.
Guru dapat mengembangkan kegiatan melalui pengamatan gambar, cerita sederhana, pengenalan Rumah Gadang, serta pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak.
Elemen 2 — Pemahaman Nilai Adat
Pada Lampiran I, kolom materi dan Capaian Pembelajaran untuk elemen Pemahaman Nilai Adat Fase A belum memuat rumusan tersendiri.
Oleh karena itu, guru tidak perlu menambahkan rumusan CP seolah-olah merupakan ketentuan resmi.
Meskipun demikian, pengenalan nilai-nilai adat dapat tetap terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran pada elemen lain, khususnya melalui pembiasaan sopan santun, penghormatan kepada sesama, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Elemen 3 — Aturan Masyarakat Minangkabau
Materi: Sopan santun.
Rumusan CP:
“Murid mengenal sopan santun pada saat berbicara dan menjawab pertanyaan, Murid mengenal sopan santun pada saat duduk, Murid mengenal sopan santun pada saat makan, Murid mengenal sopan santun dalam berpakaian, Murid mengenal sopan santun ketika bepergian, Murid mengenal sopan santun saat bertamu dan Murid mengenal saling mencintai dan saling menghormati sesama manusia.”
Elemen ini menekankan pengenalan perilaku santun dalam berbagai situasi kehidupan.
Pembelajaran dapat dikembangkan melalui contoh konkret yang dekat dengan pengalaman peserta didik, seperti berbicara kepada guru, menjawab pertanyaan, duduk dengan sopan, makan bersama, berpakaian pantas, bepergian, dan bertamu.
Guru dapat menghubungkan kegiatan tersebut dengan pengenalan nilai Sumbang Duo Baleh secara sederhana dan sesuai dengan usia peserta didik.
Elemen 4 — Adat Salingka Nagari
Materi: Permainan Anak Nagari dan Pantun.
Rumusan CP:
“Murid mengenal permainan tradisional sederhana anak nagari di Minangkabau dan Murid mengenal pantun adat Minangkabau.”
Elemen ini bertujuan memperkenalkan kekayaan tradisi Minangkabau melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak.
Guru dapat mengembangkan pembelajaran melalui permainan tradisional sederhana, mendengarkan pantun, melengkapi ungkapan berima, dan kegiatan budaya yang sesuai dengan adat salingka nagari.
3. Makna Capaian Pembelajaran bagi Peserta Didik Fase A
Keempat elemen tersebut menjadi kerangka pengembangan pembelajaran ABS-SBK pada kelas I dan II SD/MI.
Pada fase ini, pengenalan adat dan budaya sebaiknya dilakukan secara bertahap melalui kegiatan yang dapat diamati, dialami, dan dipraktikkan peserta didik.
Pengenalan Minangkabau dan Rumah Gadang dapat dilakukan melalui gambar, cerita, dan pengamatan lingkungan.
Pengenalan sopan santun dapat dilaksanakan melalui pembiasaan sehari-hari, permainan peran, dan contoh perilaku guru.
Sementara itu, permainan tradisional dan pantun dapat menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan sosial, komunikasi, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya Minangkabau.
4. Prinsip Pengembangan Pembelajaran Berdasarkan CP
Dalam mengembangkan pembelajaran berdasarkan CP Fase A, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip.
a. Sesuai Tahap Perkembangan
Materi disajikan melalui bahasa sederhana, contoh konkret, dan pengalaman yang mudah dipahami peserta didik.
b. Berpusat pada Peserta Didik
Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya, mengamati, mencoba, bermain, dan menyampaikan pendapat.
c. Mengutamakan Pembiasaan
Pengenalan sopan santun tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diperkuat melalui praktik dalam kehidupan sehari-hari.
d. Menghargai Adat Salingka Nagari
Guru menyesuaikan contoh permainan, pantun, dan kebiasaan budaya dengan kekhasan lingkungan setempat.
e. Menerapkan Pembelajaran Mendalam
Kegiatan dirancang agar peserta didik belajar secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
5. Hubungan CP dengan Tujuan Pembelajaran
Capaian Pembelajaran merupakan arah kompetensi yang diharapkan tercapai pada akhir fase, sedangkan Tujuan Pembelajaran (TP) memberikan arah yang lebih terperinci bagi penyusunan kegiatan belajar.
Dalam Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, TP Fase A dirinci menurut kelas I dan kelas II.
Oleh karena itu, guru perlu membaca CP dan TP secara bersama-sama agar kegiatan yang dikembangkan sesuai dengan ketentuan kurikulum.
Rumusan resmi CP menjadi acuan, sedangkan contoh kegiatan, media, dan strategi pembelajaran merupakan ruang pengembangan profesional guru.
6. Penutup
Capaian Pembelajaran ABS-SBK Fase A memberikan arah bagi pengenalan adat dan budaya Minangkabau kepada peserta didik kelas I dan II SD/MI.
Melalui pembelajaran yang konkret, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik diharapkan mulai mengenal identitas budaya Minangkabau, membiasakan sopan santun, serta menghargai permainan dan pantun tradisional.
Dengan demikian, pembelajaran ABS-SBK tidak hanya memperkenalkan warisan budaya, tetapi juga membantu membangun dasar karakter yang baik sejak pendidikan dasar.
C. Tujuan Pembelajaran (TP) Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI
1. Pengertian Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan kompetensi yang menjadi arah pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Dalam Kurikulum Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), Tujuan Pembelajaran membantu guru menentukan materi, pengalaman belajar, media, dan asesmen yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Fase A mencakup kelas I dan II SD/MI. Pada fase ini, pembelajaran perlu dikembangkan melalui pengalaman konkret, pembiasaan perilaku terpuji, permainan, cerita, dan kegiatan yang dekat dengan kehidupan anak.
Berdasarkan Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, Tujuan Pembelajaran ABS-SBK Fase A dirinci menurut tingkat kelas.
2. Tujuan Pembelajaran Kelas I SD/MI
Rumusan resmi Tujuan Pembelajaran kelas I adalah sebagai berikut.
Murid mengenal Minangkabau.
Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.
Murid mengenal sopan santun ketika menjawab pertanyaan.
Murid mengenal sopan santun pada saat duduk.
Murid mengenal permainan.
Kelima tujuan tersebut menjadi pedoman bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran ABS-SBK kelas I.
Penjelasan dan Contoh Pengembangan Pembelajaran
TP 1 — Murid mengenal Minangkabau
Peserta didik diperkenalkan dengan Minangkabau sebagai lingkungan budaya yang memiliki adat, bahasa, dan tradisi.
Contoh kegiatan:
Mengamati gambar lingkungan Minangkabau.
Mendengarkan cerita sederhana tentang kehidupan masyarakat Minangkabau.
Menceritakan pengalaman anak di lingkungan keluarga atau nagari.
TP 2 — Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau
Peserta didik mengenali Rumah Gadang sebagai salah satu bangunan tradisional Minangkabau.
Contoh kegiatan:
Mengamati gambar Rumah Gadang.
Mengenali bentuk atap gonjong.
Membuat gambar atau miniatur Rumah Gadang menggunakan bahan sederhana.
TP 3 — Murid mengenal sopan santun ketika menjawab pertanyaan
Peserta didik dibimbing untuk menjawab pertanyaan dengan bahasa dan sikap yang santun.
Contoh kegiatan:
Bermain peran menjawab pertanyaan guru.
Menggunakan ungkapan yang baik ketika berbicara.
Mendengarkan pertanyaan sampai selesai sebelum menjawab.
TP 4 — Murid mengenal sopan santun pada saat duduk
Peserta didik diperkenalkan dengan kebiasaan duduk yang pantas sesuai situasi dan lingkungan budaya.
Contoh kegiatan:
Mengamati gambar berbagai posisi duduk.
Mengenal cara duduk baselo dan basimpuah dalam konteks tradisi Minangkabau.
Mempraktikkan sikap duduk santun sesuai situasi, kemampuan fisik, dan kenyamanan anak.
TP 5 — Murid mengenal permainan
Peserta didik diperkenalkan dengan permainan sederhana yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Contoh kegiatan:
Mengenal permainan tradisional anak nagari.
Mempraktikkan permainan sederhana secara berkelompok.
Membiasakan sikap bekerja sama, jujur, dan sportif selama bermain.
3. Tujuan Pembelajaran Kelas II SD/MI
Rumusan resmi Tujuan Pembelajaran kelas II adalah sebagai berikut.
Murid mengenal kato nan ampek (kato manurun dan kato mandaki) dan kato malereng dan kato mandata di Minangkabau.
Murid mengenal sopan santun saat berbicara dan berpakaian.
Murid mengenal sopan santun ketika bepergian.
Murid mengenal sopan santun saat bertamu.
Murid mengenal sopan santun pada saat makan.
Murid mengenal saling mencintai dan saling menghormati sesama manusia.
Murid mengenal pantun tradisional adat Minangkabau.
Ketujuh tujuan tersebut menjadi pedoman pengembangan pembelajaran ABS-SBK kelas II.
Penjelasan dan Contoh Pengembangan Pembelajaran
TP 1 — Mengenal Kato Nan Ampek
Peserta didik diperkenalkan dengan empat ragam penggunaan bahasa yang dikenal dalam adat Minangkabau, yaitu kato mandaki, kato manurun, kato malereng, dan kato mandata.
Contoh kegiatan:
Mendengarkan percakapan sederhana antara anak dan orang tua.
Mempraktikkan sapaan santun kepada guru dan teman.
Bermain peran menggunakan ungkapan yang sesuai dengan lawan bicara.
TP 2 — Mengenal Sopan Santun Saat Berbicara dan Berpakaian
Peserta didik dibimbing memahami pentingnya berbicara dengan baik dan berpakaian pantas sesuai situasi.
Contoh kegiatan:
Mempraktikkan percakapan yang santun.
Mengamati gambar pakaian untuk berbagai kegiatan.
Memilih contoh pakaian yang sesuai dengan kegiatan sekolah atau acara adat.
TP 3 — Mengenal Sopan Santun Ketika Bepergian
Peserta didik mengenal perilaku yang baik ketika bepergian bersama keluarga atau orang lain.
Contoh kegiatan:
Bermain peran meminta izin sebelum pergi.
Mempraktikkan perilaku tertib di tempat umum.
Mengenal pentingnya menjaga keselamatan dan menghormati orang lain.
TP 4 — Mengenal Sopan Santun Saat Bertamu
Peserta didik dibimbing memahami tata krama ketika berkunjung ke rumah orang lain.
Contoh kegiatan:
Bermain peran mengucapkan salam.
Meminta izin sebelum masuk rumah.
Duduk dan berbicara dengan santun ketika bertamu.
TP 5 — Mengenal Sopan Santun pada Saat Makan
Peserta didik diperkenalkan dengan adab makan yang baik dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Contoh kegiatan:
Mempraktikkan mencuci tangan sebelum makan.
Membiasakan makan dengan tertib.
Mengambil makanan secukupnya dan menghargai makanan yang tersedia.
TP 6 — Mengenal Saling Mencintai dan Menghormati Sesama Manusia
Peserta didik dibimbing mengembangkan sikap peduli, menghargai, dan menyayangi orang lain.
Contoh kegiatan:
Membantu teman yang mengalami kesulitan.
Menghargai perbedaan pendapat.
Bermain bersama tanpa mengejek atau mengucilkan teman.
TP 7 — Mengenal Pantun Tradisional Adat Minangkabau
Peserta didik diperkenalkan dengan pantun sebagai salah satu bentuk sastra tradisional Minangkabau.
Contoh kegiatan:
Mendengarkan pantun sederhana.
Mengamati bunyi akhir atau rima pantun.
Melengkapi pantun sederhana secara berkelompok.
Menyampaikan pantun dengan percaya diri.
4. Perbedaan Fokus Pembelajaran Kelas I dan Kelas II
Pembelajaran kelas I lebih menekankan pengenalan awal terhadap Minangkabau, Rumah Gadang, sopan santun menjawab pertanyaan, sopan santun duduk, dan permainan.
Sementara itu, kelas II memperluas pengalaman belajar melalui pengenalan Kato Nan Ampek, tata krama berbicara dan berpakaian, bepergian, bertamu, makan, saling menghormati, serta pantun tradisional Minangkabau.
Perbedaan ini menunjukkan perkembangan pembelajaran dari pengalaman sederhana menuju pemahaman dan penerapan yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari.
5. Mengembangkan TP melalui Pembelajaran Mendalam
Berkesadaran
Peserta didik dibimbing memahami perilaku yang sedang dipelajari dan alasan sederhana mengapa perilaku tersebut penting.
Contohnya, anak memahami bahwa mendengarkan orang lain ketika berbicara merupakan bentuk penghormatan.
Bermakna
Guru menghubungkan tujuan pembelajaran dengan pengalaman nyata peserta didik.
Contohnya, pembelajaran sopan santun bertamu dikaitkan dengan pengalaman anak mengunjungi rumah keluarga.
Menggembirakan
Guru mengembangkan kegiatan melalui cerita bergambar, permainan peran, lagu, permainan tradisional, pantun, dan kegiatan kelompok.
Peserta didik diberi kesempatan mencoba serta belajar dari pengalaman tanpa takut melakukan kesalahan.
6. Peran Guru dalam Mengembangkan Tujuan Pembelajaran
Guru perlu memahami rumusan TP resmi sebelum menyusun kegiatan pembelajaran.
Setiap tujuan dapat dikembangkan menjadi beberapa kegiatan yang sesuai dengan kemampuan peserta didik dan lingkungan sekolah.
Guru juga perlu memberikan keteladanan dalam berbicara, duduk, berpakaian, menghormati orang lain, serta menerapkan tata krama dalam kehidupan sehari-hari.
Asesmen dilaksanakan melalui pengamatan perilaku, percakapan, hasil karya, dan praktik sederhana.
7. Penutup
Tujuan Pembelajaran ABS-SBK Fase A memberikan arah yang jelas bagi guru dalam mengembangkan pendidikan adat dan budaya Minangkabau pada kelas I dan II SD/MI.
Melalui pengalaman belajar yang konkret, bermakna, dan menggembirakan, peserta didik diharapkan tidak hanya mengenal adat dan budaya Minangkabau, tetapi juga mulai membiasakan perilaku santun dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai adat akan lebih mudah tertanam ketika anak tidak hanya mendengarkan nasihat tentang kebaikan, tetapi juga melihat keteladanan dan memperoleh kesempatan untuk mempraktikkannya.
D. Strategi Pembelajaran Mendalam Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI
1. Pengertian Strategi Pembelajaran Mendalam
Strategi pembelajaran mendalam merupakan cara guru merancang dan melaksanakan pembelajaran agar peserta didik tidak hanya mengetahui materi, tetapi juga memahami makna, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, serta menerapkan pengetahuan dan nilai yang dipelajari.
Dalam pembelajaran Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), pendekatan ini sangat relevan karena pendidikan adat tidak cukup dilaksanakan melalui hafalan istilah dan aturan.
Nilai-nilai adat perlu diperkenalkan melalui keteladanan, pengalaman langsung, pembiasaan, dan refleksi sederhana.
Pada Fase A, yaitu kelas I dan II SD/MI, guru perlu memperhatikan karakteristik peserta didik yang masih senang bermain, bergerak, mengamati gambar, mendengarkan cerita, dan mencoba kegiatan secara langsung.
2. Tiga Prinsip Pembelajaran Mendalam
A. Berkesadaran (Mindful Learning)
Pembelajaran berkesadaran membantu peserta didik memahami apa yang sedang dipelajari, mengapa hal tersebut penting, dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh pada materi Sumbang Duduak:
Guru tidak langsung meminta anak menghafalkan aturan duduk, tetapi memperlihatkan beberapa contoh posisi duduk dalam situasi berbeda.
Guru kemudian bertanya:
Mengapa kita perlu duduk dengan sopan ketika menerima tamu?
Bagaimana cara duduk yang membuat diri sendiri dan orang lain merasa nyaman?
Apa yang perlu kita perhatikan ketika duduk bersama orang yang lebih tua?
Peserta didik diajak menyadari bahwa tata krama duduk berkaitan dengan penghormatan terhadap orang lain, kepantasan, dan kenyamanan bersama.
B. Bermakna (Meaningful Learning)
Pembelajaran bermakna menghubungkan materi dengan pengalaman nyata peserta didik.
Contoh pada materi sopan santun bertamu:
Guru mengajak anak menceritakan pengalaman ketika mengunjungi rumah keluarga atau tetangga.
Anak kemudian mempraktikkan cara mengucapkan salam, meminta izin masuk, duduk dengan sopan, dan berpamitan.
Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
C. Menggembirakan (Joyful Learning)
Pembelajaran menggembirakan menciptakan suasana belajar yang aman, menarik, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif.
Contoh pada materi permainan tradisional:
Guru mengajak peserta didik mengenal dan memainkan permainan anak nagari yang sesuai dengan usia dan kondisi sekolah.
Melalui permainan, anak dapat belajar bekerja sama, mematuhi aturan, menghargai teman, dan menerima hasil permainan dengan sportif.
Pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti selalu ramai atau penuh permainan, melainkan membuat peserta didik merasa nyaman, dihargai, dan bersemangat untuk belajar.
3. Strategi Pembelajaran ABS-SBK untuk Kelas I SD/MI
Berdasarkan Tujuan Pembelajaran resmi, kelas I memiliki lima pokok pengenalan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan berikut.
Strategi 1 — Mengamati dan Bercerita tentang Minangkabau
TP: Murid mengenal Minangkabau.
Langkah kegiatan:
Guru memperlihatkan gambar lingkungan alam dan budaya Minangkabau.
Peserta didik menyebutkan hal-hal yang dikenalnya.
Guru mengajak anak menceritakan pengalaman di lingkungan keluarga atau nagari.
Peserta didik menggambar hal yang paling menarik baginya.
Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan hasil gambarnya.
Penguatan karakter: Percaya diri, menghargai pendapat, dan mencintai lingkungan budaya.
Strategi 2 — Mengenal Rumah Gadang melalui Kegiatan Berkarya
TP: Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.
Langkah kegiatan:
Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang.
Peserta didik mengamati bentuk atap, tiang, pintu, dan bagian rumah lainnya.
Anak membuat gambar atau model Rumah Gadang menggunakan bahan sederhana.
Peserta didik menunjukkan hasil karyanya.
Guru mengajak anak menyampaikan hal baru yang dipelajari.
Penguatan karakter: Kreativitas, ketekunan, kerja sama, dan menghargai karya teman.
Strategi 3 — Bermain Peran Menjawab Pertanyaan dengan Sopan
TP: Murid mengenal sopan santun ketika menjawab pertanyaan.
Langkah kegiatan:
Guru memperagakan cara menjawab pertanyaan dengan santun.
Peserta didik mengamati perbedaan antara jawaban yang santun dan yang kurang santun.
Anak bermain peran sebagai guru dan murid.
Peserta didik berlatih mendengarkan pertanyaan dan menjawab dengan baik.
Guru memberikan umpan balik yang membangun.
Penguatan karakter: Santun, percaya diri, sabar, dan menghargai lawan bicara.
Strategi 4 — Mempraktikkan Sumbang Duduak
TP: Murid mengenal sopan santun pada saat duduk.
Langkah kegiatan:
Guru memperlihatkan ilustrasi tata krama duduk dalam budaya Minangkabau.
Guru memperkenalkan istilah baselo dan basimpuah.
Peserta didik mengamati dan mencoba posisi duduk sesuai kemampuan serta kenyamanan fisiknya.
Guru mengajak anak membandingkan tata krama duduk pada kegiatan belajar, menerima tamu, dan acara adat.
Anak menyampaikan pemahamannya tentang pentingnya duduk dengan santun.
Penguatan karakter: Menghormati orang lain, menjaga kepantasan, dan disiplin.
Guru perlu menghargai kondisi fisik peserta didik dan tidak memaksakan posisi duduk tertentu.
Strategi 5 — Belajar melalui Permainan Anak Nagari
TP: Murid mengenal permainan.
Langkah kegiatan:
Guru memperkenalkan salah satu permainan tradisional yang dikenal masyarakat setempat.
Guru menjelaskan aturan permainan secara sederhana.
Peserta didik mencoba permainan secara berkelompok.
Guru mengamati kerja sama dan sikap sportif anak.
Peserta didik menceritakan pengalaman setelah bermain.
Penguatan karakter: Kerja sama, kejujuran, disiplin, dan sportivitas.
4. Strategi Pembelajaran ABS-SBK untuk Kelas II SD/MI
Pada kelas II, pengalaman belajar diperluas melalui tujuh Tujuan Pembelajaran.
Strategi 1 — Bermain Peran Kato Nan Ampek
TP: Murid mengenal Kato Nan Ampek.
Guru menyiapkan kartu situasi percakapan antara anak dengan orang tua, guru, teman sebaya, atau anggota keluarga lainnya.
Peserta didik mengamati dan mempraktikkan pilihan kata yang santun sesuai hubungan dengan lawan bicara.
Kegiatan dilaksanakan secara sederhana tanpa menuntut anak menghafalkan penjelasan kebahasaan yang rumit.
Strategi 2 — Memilih Perilaku Berbicara dan Berpakaian yang Pantas
TP: Murid mengenal sopan santun saat berbicara dan berpakaian.
Guru memperlihatkan gambar berbagai situasi, seperti belajar di sekolah, menghadiri kegiatan adat, dan bermain bersama teman.
Peserta didik mendiskusikan cara berbicara dan berpakaian yang sesuai dengan situasi tersebut.
Guru menghindari komentar yang mempermalukan kondisi tubuh, pakaian, atau keadaan ekonomi keluarga peserta didik.
Strategi 3 — Simulasi Bepergian dengan Santun
TP: Murid mengenal sopan santun ketika bepergian.
Peserta didik bermain peran meminta izin kepada orang tua, berpamitan, menjaga ketertiban, dan menghormati orang lain ketika berada di tempat umum.
Guru menghubungkan kegiatan dengan pengalaman nyata peserta didik.
Strategi 4 — Bermain Peran Menerima dan Mengunjungi Tamu
TP: Murid mengenal sopan santun saat bertamu.
Guru menyiapkan simulasi sederhana dengan pembagian peran sebagai tamu dan tuan rumah.
Peserta didik mempraktikkan salam, meminta izin, menyambut tamu, berbicara santun, dan berpamitan.
Kegiatan dapat dikembangkan dengan menggunakan ungkapan Bahasa Minangkabau yang sesuai dengan kebiasaan setempat.
Strategi 5 — Praktik Adab Makan
TP: Murid mengenal sopan santun pada saat makan.
Guru mengajak peserta didik mengamati dan mempraktikkan kebiasaan makan yang baik.
Kegiatan dapat mencakup mencuci tangan, membaca doa sesuai pembiasaan sekolah, duduk dengan tertib, menggunakan tangan kanan sesuai kemampuan, mengambil makanan secukupnya, dan menjaga kebersihan.
Guru dapat menghubungkannya dengan nilai Sumbang Makan dalam adat Minangkabau.
Strategi 6 — Proyek Kecil Saling Menghormati
TP: Murid mengenal saling mencintai dan saling menghormati sesama manusia.
Guru mengajak peserta didik melaksanakan kegiatan sederhana, seperti membantu teman, berbagi alat belajar, atau bekerja sama menjaga kebersihan kelas.
Peserta didik kemudian menceritakan pengalaman membantu dan menghargai orang lain.
Guru menekankan bahwa menghormati sesama manusia diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya ucapan.
Strategi 7 — Belajar Pantun Tradisional Minangkabau
TP: Murid mengenal pantun tradisional adat Minangkabau.
Guru membacakan pantun sederhana dengan intonasi yang menarik.
Peserta didik mendengarkan, mengenali bunyi akhir, dan mencoba melengkapi atau membacakan pantun secara berkelompok.
Guru dapat memilih pantun yang mengandung pesan tentang sopan santun, budi pekerti, dan penghormatan terhadap orang lain.
5. Strategi Pembelajaran Berbasis Lingkungan dan Adat Salingka Nagari
Lingkungan nagari dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Guru dapat menggunakan gambar Rumah Gadang setempat, mengundang narasumber budaya, memperkenalkan permainan anak nagari, atau memilih pantun yang dikenal dalam masyarakat.
Kegiatan di luar kelas perlu mempertimbangkan keselamatan, izin yang diperlukan, serta kondisi satuan pendidikan.
Guru juga perlu menghargai perbedaan tradisi antarnagari dan tidak menganggap satu bentuk kebiasaan sebagai satu-satunya bentuk adat Minangkabau.
6. Strategi Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam
Asesmen dilakukan untuk mengetahui perkembangan pemahaman, keterampilan, dan perilaku peserta didik.
Guru dapat menggunakan:
Observasi perilaku dalam kegiatan sehari-hari.
Percakapan dan pertanyaan sederhana.
Unjuk kerja atau praktik tata krama.
Hasil karya berupa gambar atau karya kreatif.
Catatan anekdot.
Refleksi sederhana dari peserta didik.
Contohnya, pada materi sopan santun bertamu, guru tidak hanya menanyakan pengertian bertamu, tetapi juga mengamati bagaimana peserta didik mempraktikkan salam, meminta izin, dan berpamitan.
Hasil asesmen digunakan untuk memberikan umpan balik dan merancang tindak lanjut pembelajaran.
7. Refleksi Pembelajaran
Setelah kegiatan selesai, guru dapat mengajak peserta didik menjawab pertanyaan sederhana:
Apa yang kamu pelajari hari ini?
Kegiatan apa yang paling kamu sukai?
Perilaku baik apa yang sudah kamu coba?
Di mana kamu dapat mempraktikkannya?
Apa yang ingin kamu pelajari lagi?
Guru juga perlu melakukan refleksi terhadap keberhasilan kegiatan, keterlibatan peserta didik, dan kesesuaian strategi dengan tujuan pembelajaran.
8. Penutup
Strategi pembelajaran mendalam dalam Muatan Lokal ABS-SBK Fase A membantu guru menghadirkan pendidikan adat dan budaya Minangkabau secara konkret, bermakna, dan menyenangkan.
Melalui kegiatan mengamati, bercerita, bermain peran, berkarya, mempraktikkan tata krama, bermain permainan tradisional, dan mengenal pantun, peserta didik memperoleh kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran yang baik tidak hanya membuat anak mengetahui aturan adat, tetapi juga membantu mereka memahami alasan suatu perilaku dianggap baik serta membiasakannya dengan penuh kesadaran.
“Adat tidak cukup diajarkan melalui kata-kata, tetapi perlu dihidupkan melalui keteladanan, pengalaman, dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.”
E. Contoh Kegiatan Pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI
1. Prinsip Penyusunan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) pada Fase A perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik kelas I dan II SD/MI.
Pada usia ini, anak lebih mudah memahami materi melalui pengamatan, cerita, permainan, pengalaman langsung, serta kegiatan yang melibatkan gerak dan kreativitas.
Oleh karena itu, guru perlu merancang pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk:
Mengamati dan mengenali budaya Minangkabau.
Mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pendapat.
Mempraktikkan tata krama dalam situasi nyata.
Belajar melalui permainan dan kerja sama.
Menghubungkan pengalaman belajar dengan kehidupan keluarga dan masyarakat.
Merefleksikan perilaku baik yang telah dipelajari.
Contoh berikut dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah, kebutuhan peserta didik, dan adat salingka nagari.
2. Contoh Kegiatan Pembelajaran Kelas I
Kegiatan 1 — Aku Mengenal Minangkabau
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal Minangkabau.
Media: Gambar lingkungan alam dan budaya Minangkabau, kartu gambar, dan kertas gambar.
Kegiatan Awal
Guru memperlihatkan beberapa gambar yang menggambarkan lingkungan dan kehidupan masyarakat Minangkabau.
Guru mengajukan pertanyaan pemantik:
“Apa yang kamu lihat pada gambar ini?”
“Apakah kamu pernah melihat tempat atau kegiatan seperti ini?”
Kegiatan Inti
Peserta didik mengamati gambar yang disediakan.
Guru menceritakan secara sederhana tentang Minangkabau.
Peserta didik menyebutkan hal yang dikenalnya dari lingkungan keluarga atau nagari.
Anak menggambar salah satu hal yang menarik perhatiannya.
Beberapa peserta didik menceritakan hasil gambarnya.
Kegiatan Penutup
Guru mengajak peserta didik menyampaikan satu hal baru yang dipelajari.
Asesmen: Pengamatan partisipasi, jawaban lisan, dan hasil gambar.
Nilai karakter: Percaya diri, rasa ingin tahu, dan menghargai budaya.
Kegiatan 2 — Rumah Gadang Kebanggaanku
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.
Media: Gambar Rumah Gadang, kertas, pensil warna, dan bahan prakarya sederhana.
Kegiatan Awal
Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang dan mengajak peserta didik mengamati bentuk bangunannya.
Kegiatan Inti
Peserta didik mengamati bentuk atap gonjong dan bagian-bagian rumah yang tampak.
Guru menjelaskan bahwa Rumah Gadang merupakan salah satu bangunan tradisional Minangkabau.
Peserta didik menggambar atau menyusun bentuk Rumah Gadang dari bahan sederhana.
Anak menunjukkan hasil karyanya.
Guru mengajak peserta didik menghargai karya teman.
Kegiatan Penutup
Peserta didik menyebutkan ciri Rumah Gadang yang diingatnya.
Asesmen: Pengamatan, kemampuan mengenali ciri Rumah Gadang, dan hasil karya.
Nilai karakter: Kreativitas, ketekunan, dan penghargaan terhadap budaya.
Kegiatan 3 — Menjawab Pertanyaan dengan Sopan
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun ketika menjawab pertanyaan.
Media: Kartu pertanyaan dan ilustrasi percakapan.
Kegiatan Awal
Guru memperagakan dua contoh percakapan, yaitu percakapan yang santun dan percakapan yang kurang santun.
Kegiatan Inti
Peserta didik mengamati kedua contoh percakapan.
Guru mengajak anak mendiskusikan perbedaannya.
Peserta didik bermain peran secara berpasangan.
Anak berlatih mendengarkan pertanyaan sampai selesai.
Anak menjawab menggunakan bahasa dan sikap yang baik.
Kegiatan Penutup
Guru mengajak peserta didik menyampaikan alasan pentingnya menjawab pertanyaan dengan santun.
Asesmen: Unjuk kerja dan pengamatan perilaku.
Nilai karakter: Santun, sabar, percaya diri, dan menghargai orang lain.
Kegiatan 4 — Duduk Sopan, Sikap Terpuji
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun pada saat duduk.
Media: Ilustrasi posisi duduk, tikar, dan gambar kegiatan adat.
Kegiatan Awal
Guru memperlihatkan beberapa gambar cara duduk dalam berbagai situasi.
Kegiatan Inti
Peserta didik mengamati gambar.
Guru memperkenalkan cara duduk baselo dan basimpuah dalam tradisi Minangkabau.
Guru memperagakan posisi duduk secara sederhana.
Peserta didik mencoba sesuai kemampuan dan kenyamanan fisiknya.
Guru mengajak anak memahami pentingnya menjaga sikap ketika duduk bersama orang lain.
Kegiatan Penutup
Peserta didik menyebutkan contoh situasi yang memerlukan tata krama duduk.
Asesmen: Pengamatan pemahaman dan praktik yang dilakukan secara sukarela sesuai kemampuan anak.
Nilai karakter: Kesantunan, penghormatan, dan kepantasan.
Guru tidak memaksakan posisi duduk tertentu kepada peserta didik yang memiliki keterbatasan atau kondisi fisik khusus.
Kegiatan 5 — Bermain Permainan Anak Nagari
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal permainan.
Media: Alat permainan tradisional yang sesuai dengan permainan pilihan guru.
Kegiatan Awal
Guru memperkenalkan satu permainan tradisional sederhana yang dikenal dalam masyarakat setempat.
Kegiatan Inti
Peserta didik mengenal nama permainan.
Guru menjelaskan aturan dan cara bermain.
Peserta didik mencoba permainan secara berkelompok.
Guru membimbing anak untuk mematuhi aturan dan menghargai teman.
Setelah bermain, anak menceritakan pengalamannya.
Kegiatan Penutup
Guru mengajak peserta didik menyebutkan sikap baik yang diperlukan ketika bermain bersama.
Asesmen: Pengamatan partisipasi, pemahaman aturan, dan sikap kerja sama.
Nilai karakter: Kejujuran, kerja sama, disiplin, dan sportivitas.
3. Contoh Kegiatan Pembelajaran Kelas II
Kegiatan 1 — Belajar Kato Nan Ampek
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal Kato Nan Ampek.
Media: Kartu situasi percakapan dan gambar tokoh keluarga.
Kegiatan Awal
Guru memperagakan percakapan sederhana antara anak dengan orang tua dan antara anak dengan teman sebaya.
Kegiatan Inti
Peserta didik mendengarkan contoh percakapan.
Guru memperkenalkan istilah kato mandaki, kato manurun, kato malereng, dan kato mandata secara sederhana.
Peserta didik mengamati kartu situasi.
Anak bermain peran menggunakan pilihan kata yang santun.
Guru memberikan umpan balik tentang kesesuaian bahasa dengan lawan bicara.
Kegiatan Penutup
Peserta didik menyampaikan satu contoh ungkapan santun yang dapat digunakan di rumah.
Asesmen: Pengamatan dan praktik percakapan.
Nilai karakter: Santun, menghormati orang lain, dan percaya diri.
Kegiatan 2 — Berbicara dan Berpakaian dengan Sopan
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun saat berbicara dan berpakaian.
Media: Gambar berbagai situasi dan kartu pilihan perilaku.
Kegiatan Awal
Guru memperlihatkan gambar anak dalam kegiatan belajar, bermain, dan menghadiri acara keluarga.
Kegiatan Inti
Peserta didik mengamati gambar.
Guru mengajak anak mendiskusikan cara berbicara yang baik.
Anak memilih contoh pakaian yang sesuai dengan situasi kegiatan.
Peserta didik menjelaskan alasan pilihannya dengan bahasa sederhana.
Guru memberikan penguatan tentang kepantasan, kebersihan, dan penghormatan terhadap orang lain.
Kegiatan Penutup
Peserta didik menyampaikan contoh perilaku santun yang akan dibiasakan.
Asesmen: Percakapan, pengamatan, dan penjelasan sederhana.
Nilai karakter: Kesantunan, tanggung jawab, dan menghargai diri sendiri.
Kegiatan 3 — Bepergian dengan Tertib dan Santun
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun ketika bepergian.
Media: Kartu situasi dan gambar kegiatan bepergian.
Kegiatan Awal
Guru bertanya tentang pengalaman anak ketika bepergian bersama keluarga.
Kegiatan Inti
Peserta didik menceritakan pengalaman bepergian.
Guru menjelaskan contoh perilaku santun ketika bepergian.
Anak bermain peran meminta izin dan berpamitan.
Peserta didik mendiskusikan perilaku tertib di tempat umum.
Guru memberikan penguatan tentang keselamatan dan penghormatan terhadap orang lain.
Kegiatan Penutup
Peserta didik menyebutkan dua perilaku baik ketika bepergian.
Asesmen: Pengamatan, percakapan, dan permainan peran.
Nilai karakter: Tertib, bertanggung jawab, dan santun.
Kegiatan 4 — Aku Tamu yang Sopan
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun saat bertamu.
Media: Kursi, meja, kartu peran, dan ilustrasi rumah.
Kegiatan Awal
Guru menceritakan pengalaman seorang anak yang mengunjungi rumah kerabatnya.
Kegiatan Inti
Peserta didik mengidentifikasi perilaku baik dalam cerita.
Guru memperagakan cara mengucapkan salam dan meminta izin.
Anak bermain peran sebagai tamu dan tuan rumah.
Peserta didik berlatih duduk, berbicara, dan berpamitan dengan santun.
Guru mengajak anak memberikan tanggapan terhadap kegiatan.
Kegiatan Penutup
Peserta didik menyebutkan urutan sederhana tata krama bertamu.
Asesmen: Unjuk kerja dan pengamatan.
Nilai karakter: Santun, ramah, dan menghargai orang lain.
Kegiatan 5 — Makan dengan Adab yang Baik
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun pada saat makan.
Media: Gambar kegiatan makan, perlengkapan makan, dan alat peraga.
Kegiatan Awal
Guru mengajak peserta didik menceritakan kebiasaan makan di rumah.
Kegiatan Inti
Peserta didik mengamati gambar perilaku makan.
Guru mengajak anak membedakan contoh perilaku yang santun dan kurang santun.
Peserta didik mempraktikkan mencuci tangan dan menyiapkan tempat makan.
Anak berlatih makan dengan tertib serta mengambil makanan secukupnya.
Guru menghubungkan kegiatan dengan nilai Sumbang Makan dalam adat Minangkabau.
Kegiatan Penutup
Peserta didik menyampaikan kebiasaan makan baik yang akan dipraktikkan di rumah.
Asesmen: Pengamatan dan praktik sederhana.
Nilai karakter: Tertib, bersyukur, bersih, dan menghargai makanan.
Kegiatan 6 — Aku Menghargai Temanku
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal saling mencintai dan saling menghormati sesama manusia.
Media: Cerita bergambar dan kartu perilaku.
Kegiatan Awal
Guru membacakan cerita tentang anak yang membantu temannya.
Kegiatan Inti
Peserta didik mendengarkan cerita.
Anak menyebutkan perilaku baik yang ditemukan.
Guru mengajak peserta didik mendiskusikan pentingnya saling menghargai.
Anak bekerja sama menyelesaikan tugas kelompok sederhana.
Peserta didik menceritakan pengalaman membantu atau menghargai orang lain.
Kegiatan Penutup
Peserta didik memilih satu tindakan baik yang ingin dilaksanakan.
Asesmen: Pengamatan kerja sama dan refleksi lisan.
Nilai karakter: Peduli, kasih sayang, dan saling menghormati.
Kegiatan 7 — Pantun Minangkabau yang Indah
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal pantun tradisional adat Minangkabau.
Media: Kartu pantun, gambar pendukung, dan lembar kegiatan.
Kegiatan Awal
Guru membacakan pantun sederhana dengan intonasi yang menarik.
Kegiatan Inti
Peserta didik mendengarkan pantun.
Guru menjelaskan secara sederhana bahwa pantun merupakan salah satu bentuk sastra tradisional.
Anak mengamati bunyi akhir atau rima pantun.
Peserta didik berlatih membaca pantun secara berkelompok.
Anak mencoba melengkapi pantun sederhana dengan bimbingan guru.
Kegiatan Penutup
Peserta didik menyampaikan pesan baik yang dipahami dari pantun.
Asesmen: Pengamatan partisipasi, kemampuan membaca atau menyampaikan pantun, dan pemahaman pesan.
Nilai karakter: Percaya diri, kreativitas, dan menghargai sastra tradisional.
4. Mengintegrasikan Pembelajaran dengan Kehidupan Sehari-hari
Kegiatan pembelajaran ABS-SBK akan lebih bermakna apabila nilai-nilai yang dipelajari di sekolah juga diperkuat dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Guru dapat mengajak orang tua untuk mendampingi anak mempraktikkan kebiasaan sederhana, seperti menjawab pertanyaan dengan santun, menghormati tamu, makan dengan tertib, dan menghargai anggota keluarga.
Penguatan tersebut hendaknya dilakukan melalui keteladanan dan komunikasi yang baik, bukan dengan memberikan beban tugas yang berlebihan kepada anak atau orang tua.
5. Penyesuaian Kegiatan dengan Kondisi Sekolah
Contoh kegiatan dalam bagian ini bersifat fleksibel.
Guru dapat memilih media yang tersedia, menyesuaikan tingkat kesulitan, serta menggunakan permainan dan pantun yang dikenal dalam lingkungan nagari.
Kegiatan juga perlu dirancang agar semua peserta didik dapat berpartisipasi sesuai kemampuan, kebutuhan belajar, dan kondisi fisiknya.
Apabila kegiatan melibatkan alat, gerakan, atau aktivitas di luar kelas, guru wajib memperhatikan keselamatan peserta didik.
6. Penutup
Contoh kegiatan pembelajaran ABS-SBK Fase A menunjukkan bahwa pendidikan adat dan budaya Minangkabau dapat dilaksanakan melalui pengalaman yang sederhana, konkret, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Guru tidak harus menggunakan media yang mahal atau kegiatan yang rumit. Gambar, cerita, percakapan, permainan peran, pantun, dan lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang bermakna.
Hal yang terpenting adalah setiap kegiatan memiliki tujuan yang jelas, memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, serta membantu peserta didik membiasakan nilai-nilai baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak belajar adat bukan hanya dari apa yang didengarnya, tetapi terutama dari apa yang dilihat, dialami, dan dibiasakannya setiap hari.”
F. Asesmen Pembelajaran Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI
1. Pengertian dan Tujuan Asesmen
Asesmen merupakan proses mengumpulkan dan mengolah informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar, perkembangan, serta ketercapaian tujuan pembelajaran peserta didik.
Dalam Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), asesmen tidak hanya digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta didik menyebutkan istilah atau aturan adat, tetapi juga untuk melihat pemahaman dan penerapan nilai-nilai yang dipelajari.
Pada Fase A, yaitu kelas I dan II SD/MI, asesmen sebaiknya dilaksanakan melalui kegiatan sederhana, konkret, dan sesuai dengan perkembangan anak.
Asesmen bertujuan untuk:
Mengetahui kemampuan awal peserta didik.
Memantau perkembangan pemahaman terhadap materi ABS-SBK.
Mengamati keterampilan mempraktikkan tata krama.
Memberikan umpan balik yang membangun.
Menentukan tindak lanjut pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
2. Prinsip Asesmen ABS-SBK Fase A
Asesmen perlu dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip berikut.
a. Berorientasi pada Tujuan Pembelajaran
Asesmen harus berkaitan dengan TP yang sedang dipelajari, bukan sekadar menilai perilaku anak secara umum.
b. Sesuai dengan Perkembangan Peserta Didik
Guru menggunakan bahasa sederhana, kegiatan konkret, dan instrumen yang mudah dipahami anak.
c. Adil dan Inklusif
Asesmen memperhatikan perbedaan kemampuan, kondisi fisik, pengalaman budaya, serta kebutuhan belajar peserta didik.
d. Berkelanjutan
Penilaian dilaksanakan selama proses pembelajaran, bukan hanya pada akhir kegiatan.
e. Memberikan Umpan Balik
Hasil asesmen digunakan untuk membantu peserta didik berkembang, bukan untuk mempermalukan atau membandingkan anak.
f. Mengutamakan Bukti Belajar
Guru mengumpulkan bukti melalui pengamatan, percakapan, hasil karya, dan praktik langsung.
3. Jenis Asesmen
A. Asesmen Awal
Asesmen awal digunakan untuk mengetahui pengalaman dan pemahaman peserta didik sebelum mempelajari materi.
Contoh pada materi Rumah Gadang kelas I:
Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang dan bertanya:
Apakah kamu pernah melihat rumah seperti ini?
Apa yang kamu ketahui tentang rumah ini?
Bagian mana yang menarik perhatianmu?
Jawaban peserta didik membantu guru menentukan kegiatan pembelajaran yang sesuai.
B. Asesmen Formatif
Asesmen formatif dilaksanakan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan memberikan umpan balik.
Contoh pada materi sopan santun bertamu kelas II:
Guru mengamati peserta didik ketika bermain peran sebagai tamu dan tuan rumah.
Guru memperhatikan kemampuan anak mengucapkan salam, meminta izin, berbicara santun, dan berpamitan.
C. Asesmen Sumatif
Asesmen sumatif digunakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran setelah satu atau beberapa rangkaian kegiatan selesai.
Contohnya, pada akhir pembelajaran Kato Nan Ampek, peserta didik diminta memilih dan mempraktikkan ungkapan yang sesuai dengan situasi percakapan.
Asesmen sumatif tidak harus selalu berbentuk tes tertulis. Praktik, karya, dan tugas sederhana juga dapat digunakan.
4. Teknik dan Instrumen Asesmen
Guru dapat menggunakan berbagai teknik sesuai karakteristik tujuan pembelajaran.
| Teknik | Contoh Penerapan |
|---|---|
| Observasi | Mengamati sikap santun ketika menjawab pertanyaan |
| Tanya jawab | Menyebutkan ciri Rumah Gadang |
| Unjuk kerja | Mempraktikkan tata krama bertamu |
| Hasil karya | Menggambar Rumah Gadang |
| Permainan | Mempraktikkan aturan permainan anak nagari |
| Refleksi lisan | Menceritakan perilaku baik yang telah dilakukan |
Guru dapat memilih satu atau beberapa teknik yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran.
5. Contoh Instrumen Observasi Kelas I
Materi: Sopan Santun Ketika Menjawab Pertanyaan
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun ketika menjawab pertanyaan.
Nama peserta didik: ....................................
Kelas: ....................................
Tanggal: ....................................
| No. | Indikator yang Diamati | Ya | Belum | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mendengarkan pertanyaan sampai selesai | ☐ | ☐ | |
| 2 | Menjawab dengan kata-kata santun | ☐ | ☐ | |
| 3 | Menunjukkan sikap menghargai penanya | ☐ | ☐ | |
| 4 | Mencoba menjawab dengan percaya diri | ☐ | ☐ |
Petunjuk penggunaan:
Guru memberikan tanda berdasarkan perilaku yang teramati pada kegiatan pembelajaran.
Kolom catatan digunakan untuk menuliskan perkembangan atau kebutuhan pendampingan peserta didik.
Hasil observasi tidak digunakan untuk memberi label negatif kepada anak.
6. Contoh Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Kelas II
Materi: Sopan Santun Saat Bertamu
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun saat bertamu.
| Kriteria | Sangat Baik (4) | Baik (3) | Mulai Berkembang (2) | Perlu Bimbingan (1) |
|---|---|---|---|---|
| Mengucapkan salam | Melakukan mandiri dan sesuai situasi | Melakukan dengan sedikit arahan | Melakukan setelah dicontohkan | Belum dapat menunjukkan meskipun dibimbing |
| Meminta izin | Melakukan mandiri dengan santun | Melakukan dengan sedikit arahan | Melakukan setelah dicontohkan | Belum dapat menunjukkan meskipun dibimbing |
| Berbicara santun | Konsisten menggunakan ungkapan santun | Umumnya menggunakan ungkapan santun | Memerlukan beberapa pengingat | Masih memerlukan pendampingan intensif |
| Berpamitan | Melakukan mandiri dengan santun | Melakukan dengan sedikit arahan | Melakukan setelah dicontohkan | Belum dapat menunjukkan meskipun dibimbing |
Cara penggunaan:
Guru mengamati praktik bermain peran, kemudian memberikan penilaian berdasarkan bukti yang terlihat.
Rubrik ini merupakan contoh. Guru dapat menyederhanakan indikator dan skala sesuai kebutuhan sekolah.
7. Contoh Asesmen Materi Rumah Gadang Kelas I
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.
Bentuk asesmen: Tanya jawab dan hasil karya.
Tugas peserta didik:
Mengamati gambar Rumah Gadang.
Menyebutkan nama bangunan.
Menunjukkan salah satu cirinya.
Menggambar bentuk Rumah Gadang.
Menceritakan hasil gambar secara sederhana.
Indikator ketercapaian:
Peserta didik dapat mengenali Rumah Gadang.
Peserta didik dapat menunjukkan atau menyebutkan ciri yang diamati.
Peserta didik dapat menyampaikan pemahamannya melalui gambar atau penjelasan lisan.
Kemampuan menggambar tidak perlu dinilai berdasarkan keindahan semata. Guru lebih mengutamakan pemahaman anak terhadap materi.
8. Contoh Asesmen Materi Kato Nan Ampek Kelas II
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal Kato Nan Ampek.
Bentuk asesmen: Bermain peran dan percakapan.
Tugas peserta didik:
Guru menyiapkan beberapa situasi:
Anak berbicara kepada guru.
Anak berbicara kepada teman sebaya.
Anak berbicara kepada orang yang lebih tua.
Anak berbicara kepada adik.
Peserta didik memilih ungkapan yang santun sesuai dengan situasi tersebut.
Indikator ketercapaian:
Mengenali perbedaan situasi percakapan.
Memilih ungkapan santun sesuai lawan bicara.
Mempraktikkan percakapan sederhana.
Menunjukkan sikap menghargai orang lain.
Guru memperkenalkan istilah Kato Nan Ampek secara bertahap dan tidak menuntut pemahaman kebahasaan yang terlalu rumit untuk usia kelas II.
9. Contoh Catatan Anekdot
Catatan anekdot digunakan untuk merekam perilaku atau perkembangan peserta didik yang muncul secara alami.
Nama peserta didik: ....................................
Tanggal: ....................................
Kegiatan: Bermain peran bertamu.
Peristiwa yang diamati:
Peserta didik mengucapkan salam sebelum memasuki ruang simulasi dan meminta izin kepada teman yang berperan sebagai tuan rumah.
Interpretasi guru:
Peserta didik mulai menunjukkan pemahaman tentang tata krama bertamu melalui praktik.
Tindak lanjut:
Memberikan kesempatan mempraktikkan kegiatan serupa pada situasi berbeda.
Catatan sebaiknya bersifat objektif dan menjelaskan perilaku yang benar-benar diamati.
10. Tindak Lanjut Hasil Asesmen
Hasil asesmen digunakan untuk menentukan langkah pembelajaran berikutnya.
A. Bagi Peserta Didik yang Memerlukan Pendampingan
Guru dapat:
Memberikan contoh ulang secara sederhana.
Menggunakan gambar atau alat peraga.
Memberikan kesempatan berlatih dalam kelompok kecil.
Memberikan umpan balik yang positif.
Mengulang kegiatan dengan cara yang berbeda.
B. Bagi Peserta Didik yang Telah Mencapai Tujuan
Guru dapat:
Memberikan situasi praktik yang lebih bervariasi.
Mengajak anak membantu kegiatan kelompok tanpa menjadikannya pengganti peran guru.
Mengembangkan karya sederhana.
Memberikan kesempatan menjelaskan pengalaman belajar.
11. Melibatkan Orang Tua dalam Penguatan Pembelajaran
Orang tua dapat membantu memperkuat nilai-nilai ABS-SBK melalui keteladanan dan pembiasaan di rumah.
Contohnya, orang tua membimbing anak mengucapkan salam, berbicara santun, menghormati tamu, dan makan dengan tertib.
Komunikasi antara guru dan orang tua sebaiknya bersifat mendukung perkembangan anak, bukan memberikan tekanan atau mempermalukan peserta didik.
12. Refleksi Guru terhadap Hasil Asesmen
Setelah melaksanakan asesmen, guru dapat merefleksikan beberapa pertanyaan berikut:
Apakah kegiatan asesmen sesuai dengan tujuan pembelajaran?
Apakah semua peserta didik memperoleh kesempatan menunjukkan kemampuannya?
Apakah instrumen yang digunakan mudah dipahami?
Kesulitan apa yang paling sering dialami peserta didik?
Apa yang perlu diperbaiki pada pembelajaran berikutnya?
Refleksi tersebut membantu guru mengembangkan pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
13. Penutup
Asesmen Muatan Lokal ABS-SBK Fase A hendaknya menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membantu peserta didik berkembang.
Penilaian tidak hanya berfokus pada kemampuan menyebutkan istilah adat, tetapi juga pada pemahaman, keterampilan, dan pembiasaan nilai-nilai yang dipelajari.
Melalui observasi, percakapan, praktik, hasil karya, dan refleksi, guru dapat memperoleh gambaran perkembangan belajar peserta didik secara lebih utuh.
“Keberhasilan pendidikan adat tidak hanya terlihat dari banyaknya aturan yang dapat disebutkan anak, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran untuk berperilaku santun dalam kehidupan sehari-hari.”
G. Contoh Perencanaan Pembelajaran Mingguan Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI
1. Pengertian Perencanaan Pembelajaran Mingguan
Perencanaan pembelajaran mingguan merupakan rancangan kegiatan belajar yang disusun guru untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara bertahap.
Dalam Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), perencanaan pembelajaran perlu menghubungkan materi adat dan budaya Minangkabau dengan pengalaman nyata peserta didik.
Pada Fase A, yaitu kelas I dan II SD/MI, kegiatan dirancang secara sederhana, konkret, dan menyenangkan.
Perencanaan pembelajaran hendaknya memperhatikan:
Capaian Pembelajaran (CP) Fase A.
Tujuan Pembelajaran (TP) kelas I atau kelas II.
Karakteristik dan kebutuhan peserta didik.
Materi serta lingkungan budaya setempat.
Kegiatan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Asesmen serta tindak lanjut pembelajaran.
2. Alokasi Waktu Pembelajaran
Berdasarkan Pasal 11 Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, pembelajaran ABS-SBK sebagai mata pelajaran tersendiri pada jenjang SD/MI dialokasikan sebanyak 2 JP setiap minggu.
Guru dapat mengatur kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup sesuai durasi jam pelajaran yang berlaku.
Perencanaan berikut merupakan contoh untuk tujuh minggu pembelajaran, bukan pembagian waktu wajib yang ditetapkan dalam peraturan.
3. Contoh Perencanaan Mingguan Kelas I SD/MI
| Minggu | Tujuan Pembelajaran | Kegiatan Utama | Asesmen |
|---|---|---|---|
| 1 | Murid mengenal Minangkabau | Mengamati gambar, mendengarkan cerita, dan menceritakan pengalaman | Tanya jawab |
| 2 | Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau | Mengamati gambar dan mengenali ciri Rumah Gadang | Observasi |
| 3 | Penguatan pengenalan Rumah Gadang | Menggambar atau membuat model sederhana Rumah Gadang | Hasil karya |
| 4 | Murid mengenal sopan santun ketika menjawab pertanyaan | Bermain peran menjawab pertanyaan dengan santun | Unjuk kerja |
| 5 | Murid mengenal sopan santun pada saat duduk | Mengamati dan mempraktikkan tata krama duduk | Observasi |
| 6 | Murid mengenal permainan | Mengenal dan memainkan permainan tradisional sederhana | Observasi |
| 7 | Penguatan tujuan pembelajaran kelas I | Permainan, cerita, dan praktik sederhana dari materi sebelumnya | Asesmen praktik dan refleksi |
Contoh pengembangan Minggu ke-4: Menjawab Pertanyaan dengan Sopan
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun ketika menjawab pertanyaan.
Alokasi waktu: 2 JP.
Kegiatan pendahuluan
Guru menyapa peserta didik dan mengajak mereka mengingat pengalaman ketika menjawab pertanyaan orang tua atau guru.
Pertanyaan pemantik:
“Bagaimana cara kita menjawab pertanyaan guru dengan baik?”
Kegiatan inti
Guru memperagakan dua contoh cara menjawab pertanyaan.
Peserta didik mengamati dan membandingkan kedua contoh.
Guru membimbing diskusi tentang cara menjawab dengan santun.
Peserta didik melakukan permainan peran secara berpasangan.
Guru memberikan umpan balik yang positif.
Kegiatan penutup
Peserta didik menyampaikan satu perilaku santun yang akan dicoba di rumah.
Asesmen
Guru mengamati kemampuan mendengarkan pertanyaan, menggunakan ungkapan santun, dan menghargai lawan bicara.
4. Contoh Perencanaan Mingguan Kelas II SD/MI
| Minggu | Tujuan Pembelajaran | Kegiatan Utama | Asesmen |
|---|---|---|---|
| 1 | Murid mengenal Kato Nan Ampek | Mendengarkan dan mempraktikkan percakapan sederhana | Unjuk kerja |
| 2 | Murid mengenal sopan santun saat berbicara dan berpakaian | Mengamati gambar dan bermain peran | Observasi |
| 3 | Murid mengenal sopan santun ketika bepergian | Simulasi meminta izin dan berpamitan | Unjuk kerja |
| 4 | Murid mengenal sopan santun saat bertamu | Bermain peran sebagai tamu dan tuan rumah | Unjuk kerja |
| 5 | Murid mengenal sopan santun pada saat makan | Mengamati dan mempraktikkan adab makan | Observasi |
| 6 | Murid mengenal saling mencintai dan saling menghormati sesama manusia | Cerita bergambar dan kegiatan kerja sama | Observasi dan refleksi |
| 7 | Murid mengenal pantun tradisional adat Minangkabau | Mendengarkan, membaca, dan melengkapi pantun sederhana | Praktik dan hasil karya |
Contoh pengembangan Minggu ke-4: Aku Tamu yang Sopan
Tujuan Pembelajaran: Murid mengenal sopan santun saat bertamu.
Alokasi waktu: 2 JP.
Kegiatan pendahuluan
Guru mengajak peserta didik menceritakan pengalaman ketika berkunjung ke rumah keluarga atau tetangga.
Pertanyaan pemantik:
“Apa yang kita lakukan sebelum masuk ke rumah orang lain?”
Kegiatan inti
Guru membacakan cerita pendek tentang seorang anak yang bertamu.
Peserta didik mengidentifikasi perilaku santun dalam cerita.
Guru memperagakan cara mengucapkan salam dan meminta izin.
Peserta didik bermain peran sebagai tamu dan tuan rumah.
Guru mengamati praktik peserta didik dan memberikan penguatan.
Kegiatan penutup
Peserta didik menyebutkan tiga contoh perilaku santun ketika bertamu.
Asesmen
Guru menggunakan lembar observasi sederhana untuk mencatat kemampuan mengucapkan salam, meminta izin, berbicara santun, dan berpamitan.
5. Mengembangkan Rencana Mingguan Menjadi Pembelajaran Semester
Contoh tujuh minggu di atas merupakan gambaran awal pengorganisasian pembelajaran.
Dalam pelaksanaan satu semester, guru perlu mengembangkan kegiatan berdasarkan kebutuhan waktu untuk mencapai setiap tujuan pembelajaran.
Satu tujuan pembelajaran dapat dilaksanakan melalui lebih dari satu pertemuan apabila peserta didik membutuhkan waktu tambahan untuk memahami dan mempraktikkannya.
Guru juga dapat menyediakan waktu untuk:
Penguatan dan pengulangan materi.
Praktik tata krama dalam berbagai situasi.
Kegiatan permainan dan karya sederhana.
Asesmen serta tindak lanjut.
Kegiatan berbasis lingkungan dan adat salingka nagari.
Pembagian waktu hendaknya tidak dilakukan secara kaku, tetapi tetap memperhatikan ketercapaian tujuan pembelajaran.
6. Integrasi dengan Mata Pelajaran Lain
Selain diselenggarakan sebagai mata pelajaran tersendiri, muatan lokal dapat dikembangkan melalui bentuk pelaksanaan lain sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku.
Sebagai contoh pengembangan pedagogis, materi ABS-SBK dapat dihubungkan dengan:
Bahasa Indonesia
Melalui kegiatan mendengarkan cerita, berbicara santun, membaca pantun, dan menceritakan pengalaman.
Pendidikan Pancasila
Melalui pembiasaan menghormati orang lain, bekerja sama, menaati aturan, dan menunjukkan tanggung jawab.
Seni dan Budaya
Melalui kegiatan menggambar Rumah Gadang, membuat karya sederhana, dan mengenal permainan serta pantun tradisional.
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Melalui penguatan adab berbicara, bertamu, makan, dan menghormati sesama.
Integrasi dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian tujuan pembelajaran masing-masing mata pelajaran.
7. Peran Orang Tua dan Lingkungan Nagari
Perencanaan pembelajaran mingguan dapat diperkuat melalui kerja sama antara guru, orang tua, dan lingkungan masyarakat.
Sebagai contoh, setelah mempelajari sopan santun bertamu, peserta didik dapat dibimbing untuk menerapkan perilaku tersebut ketika mengunjungi keluarga.
Setelah mengenal permainan tradisional, anak dapat bertanya kepada orang tua tentang permainan yang dikenal pada masa kecil mereka.
Kegiatan tersebut hendaknya bersifat sederhana dan tidak memberikan beban berlebihan kepada keluarga.
Lingkungan nagari juga dapat menjadi sumber belajar melalui cerita, gambar, permainan, pantun, dan pengalaman budaya yang sesuai dengan usia peserta didik.
8. Refleksi dan Perbaikan Perencanaan
Setelah melaksanakan pembelajaran, guru perlu melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dirancang.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan adalah:
Apakah tujuan pembelajaran telah tercapai?
Apakah kegiatan sesuai dengan kemampuan peserta didik?
Apakah peserta didik terlibat aktif?
Apakah pembelajaran memberikan pengalaman yang bermakna?
Apakah asesmen telah memberikan informasi yang diperlukan?
Apa yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya?
Hasil refleksi digunakan untuk menyempurnakan rencana pembelajaran selanjutnya.
9. Penutup
Perencanaan pembelajaran mingguan ABS-SBK Fase A membantu guru menyelenggarakan pembelajaran yang terarah, sistematis, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Dengan perencanaan yang baik, nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau dapat diperkenalkan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak.
Guru memiliki ruang untuk mengembangkan metode, media, dan pengalaman belajar sesuai dengan kondisi sekolah serta kekhasan adat salingka nagari.
“Perencanaan pembelajaran yang baik bukan sekadar mengatur materi dan waktu, tetapi menyiapkan pengalaman yang membantu anak memahami serta membiasakan nilai-nilai kebaikan.”
H. Contoh Modul Ajar Muatan Lokal ABS-SBK Fase A Kelas I SD/MI
1. Identitas Modul Ajar
Satuan Pendidikan: SD/MI
Mata Pelajaran: Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK)
Fase/Kelas: A / I (Satu)
Elemen: Sejarah Minangkabau
Materi: Minangkabau dan Rumah Gadang
Topik: Rumah Gadang Kebanggaanku
Alokasi Waktu: 2 JP (1 pertemuan)
Pendekatan: Pembelajaran Mendalam
Metode: Pengamatan, tanya jawab, bercerita, demonstrasi, dan berkarya.
Media: Gambar Rumah Gadang, kartu gambar, kertas gambar, pensil warna, dan bahan prakarya sederhana.
2. Capaian Pembelajaran
Berdasarkan Lampiran I Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, Capaian Pembelajaran pada elemen Sejarah Minangkabau Fase A adalah:
“Murid mengenal Minangkabau dan rumah di Minangkabau.”
3. Tujuan Pembelajaran
Berdasarkan Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026, Tujuan Pembelajaran kelas I yang digunakan dalam modul ini adalah:
“Murid mengenal rumah gadang di Minangkabau.”
Untuk memudahkan pelaksanaan dan asesmen, tujuan tersebut dijabarkan menjadi indikator kegiatan sebagai berikut:
Peserta didik dapat mengenali Rumah Gadang melalui gambar.
Peserta didik dapat menyebutkan nama Rumah Gadang.
Peserta didik dapat menunjukkan salah satu ciri Rumah Gadang.
Peserta didik dapat membuat gambar sederhana Rumah Gadang.
Peserta didik dapat menceritakan hasil pengamatannya dengan bahasa sederhana.
Indikator tersebut merupakan contoh pengembangan guru, bukan tambahan rumusan TP resmi.
4. Pemahaman Bermakna
Rumah Gadang merupakan salah satu bangunan tradisional Minangkabau yang memiliki bentuk khas dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat.
Melalui pembelajaran ini, peserta didik diajak mengenal Rumah Gadang sebagai bagian dari identitas budaya Minangkabau serta memahami pentingnya menghargai warisan budaya.
5. Pertanyaan Pemantik
Guru dapat mengajukan pertanyaan berikut:
Apakah kamu pernah melihat Rumah Gadang?
Apa yang menarik dari bentuk atap Rumah Gadang?
Apakah Rumah Gadang sama dengan rumah tempat tinggalmu?
Mengapa kita perlu mengenal rumah tradisional Minangkabau?
Pertanyaan disampaikan secara sederhana dan disesuaikan dengan pengalaman peserta didik.
6. Persiapan Pembelajaran
Sebelum kegiatan dimulai, guru menyiapkan:
Gambar Rumah Gadang yang jelas dan mudah diamati.
Kartu gambar beberapa bentuk rumah.
Alat menggambar dan mewarnai.
Lembar observasi sederhana.
Ruang belajar yang memungkinkan peserta didik berdiskusi dan berkarya.
Guru dapat menggunakan gambar Rumah Gadang yang terdapat di lingkungan Kabupaten Tanah Datar atau daerah Minangkabau lainnya.
7. Langkah-Langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Pendahuluan
Contoh alokasi: 10 menit.
Guru menyapa peserta didik dan mengondisikan kelas.
Guru mengajak peserta didik berdoa sesuai pembiasaan sekolah.
Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang.
Peserta didik mengamati gambar.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan bahasa sederhana.
Contoh kalimat guru:
“Hari ini kita akan mengenal Rumah Gadang. Kita akan melihat bentuknya, mengenali cirinya, kemudian mencoba menggambarnya.”
B. Kegiatan Inti
Contoh alokasi: 45 menit.
Tahap 1 — Mengamati dengan Berkesadaran
Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang.
Peserta didik mengamati bentuk atap, tiang, dan bagian rumah yang terlihat.
Guru mengajukan pertanyaan tentang ciri yang diamati.
Peserta didik menyampaikan hasil pengamatannya.
Guru memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk menjawab sesuai kemampuannya.
Tahap 2 — Memahami secara Bermakna
Guru menjelaskan bahwa Rumah Gadang merupakan salah satu rumah tradisional Minangkabau.
Guru mengajak peserta didik membandingkan bentuk Rumah Gadang dengan rumah lain yang mereka kenal.
Peserta didik menceritakan pengalaman melihat Rumah Gadang.
Guru memberikan penguatan tentang pentingnya mengenal dan menghargai budaya Minangkabau.
Tahap 3 — Berkarya dengan Menggembirakan
Guru membagikan kertas dan alat mewarnai.
Peserta didik menggambar Rumah Gadang sesuai hasil pengamatan.
Guru mendampingi anak yang memerlukan bantuan.
Peserta didik mewarnai hasil gambarnya.
Beberapa anak menunjukkan karya dan menceritakannya secara sederhana.
Guru menghargai perbedaan kemampuan menggambar dan tidak membandingkan karya peserta didik.
C. Kegiatan Penutup
Contoh alokasi: 15 menit.
Guru mengajak peserta didik mengingat kembali materi.
Peserta didik menyebutkan nama rumah tradisional yang dipelajari.
Anak menyampaikan satu ciri Rumah Gadang.
Guru memberikan apresiasi atas usaha peserta didik.
Peserta didik melakukan refleksi sederhana.
Contoh pertanyaan refleksi:
“Apa yang paling kamu sukai dari kegiatan hari ini?”
“Apa yang kamu ketahui tentang Rumah Gadang?”
8. Asesmen Pembelajaran
A. Asesmen Awal
Guru memperlihatkan gambar Rumah Gadang dan bertanya apakah peserta didik mengenal bangunan tersebut.
B. Asesmen Formatif
Guru mengamati kemampuan peserta didik ketika:
Mengenali Rumah Gadang.
Menyebutkan ciri yang diamati.
Mengikuti kegiatan pengamatan.
Menyampaikan pendapat.
Membuat gambar sederhana.
C. Asesmen Akhir Kegiatan
Peserta didik diminta menunjukkan gambar Rumah Gadang dan menceritakan salah satu cirinya.
9. Contoh Rubrik Asesmen
| Indikator | Berkembang Sangat Baik | Berkembang Sesuai Harapan | Mulai Berkembang | Memerlukan Bimbingan |
|---|---|---|---|---|
| Mengenali Rumah Gadang | Mengenali secara mandiri dan dapat menjelaskan | Mengenali secara mandiri | Mengenali dengan petunjuk | Belum mengenali meskipun dibimbing |
| Menyebutkan ciri Rumah Gadang | Menyebutkan dua atau lebih ciri | Menyebutkan satu ciri | Menunjukkan ciri dengan bantuan | Belum dapat menunjukkan ciri |
| Menceritakan hasil pengamatan | Menjelaskan dengan runtut | Menjelaskan secara sederhana | Menjelaskan dengan pertanyaan pemandu | Memerlukan pendampingan lanjutan |
Rubrik ini merupakan contoh instrumen yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
10. Diferensiasi Pembelajaran
Guru memberikan kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Peserta didik yang memerlukan pendampingan:
Diberikan gambar dengan ukuran lebih besar, pertanyaan sederhana, atau bantuan untuk menunjukkan ciri Rumah Gadang.
Peserta didik yang telah memahami materi:
Diberikan kesempatan mengenali lebih banyak ciri Rumah Gadang atau menceritakan pengalaman melihat bangunan tersebut.
Peserta didik dengan kebutuhan fisik atau belajar tertentu:
Dapat menunjukkan pemahaman melalui pilihan gambar, jawaban lisan, menunjuk objek, atau cara komunikasi lain yang sesuai.
11. Tindak Lanjut Pembelajaran
Penguatan
Guru mengulang pengenalan Rumah Gadang menggunakan gambar atau media yang berbeda bagi peserta didik yang masih memerlukan pendampingan.
Pengayaan
Peserta didik yang telah memahami materi dapat mengamati gambar Rumah Gadang dari daerah lain dan menemukan persamaan atau perbedaannya.
Kegiatan bersama orang tua
Peserta didik dapat mengamati gambar Rumah Gadang bersama keluarga dan menceritakan hal yang dipelajarinya di sekolah.
Kegiatan tersebut tidak harus dilakukan melalui kunjungan langsung dan tidak boleh membebani keluarga.
12. Refleksi Guru
Setelah pembelajaran, guru dapat menjawab pertanyaan berikut:
Apakah peserta didik telah mengenali Rumah Gadang?
Apakah gambar dan media yang digunakan membantu pemahaman anak?
Apakah semua peserta didik memperoleh kesempatan berpartisipasi?
Apakah kegiatan berkarya sesuai dengan kemampuan anak?
Bagian mana yang perlu diperbaiki pada pembelajaran berikutnya?
Hasil refleksi digunakan untuk menyempurnakan kegiatan pembelajaran.
13. Penutup
Modul ajar “Rumah Gadang Kebanggaanku” merupakan contoh penerapan pembelajaran mendalam dalam Muatan Lokal ABS-SBK Fase A kelas I SD/MI.
Melalui pengamatan, cerita, diskusi, dan kegiatan berkarya, peserta didik memperoleh pengalaman awal untuk mengenal salah satu warisan budaya Minangkabau.
Guru dapat mengembangkan modul ini sesuai kondisi sekolah, kebutuhan peserta didik, dan kekhasan lingkungan nagari.
“Mengenalkan Rumah Gadang kepada anak bukan sekadar memperlihatkan sebuah bangunan, tetapi juga membuka pintu bagi tumbuhnya kecintaan terhadap warisan budaya Minangkabau.”
I. Rekomendasi Pengembangan Perangkat Ajar Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI
1. Pentingnya Pengembangan Perangkat Ajar
Perangkat ajar merupakan seperangkat perencanaan, bahan, media, dan instrumen yang digunakan guru untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK), perangkat ajar memiliki peranan penting karena pembelajaran tidak hanya bertujuan mengenalkan pengetahuan tentang adat Minangkabau, tetapi juga membantu peserta didik memahami dan membiasakan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Fase A, yaitu kelas I dan II SD/MI, perangkat ajar perlu dirancang secara sederhana, konkret, menarik, serta sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Pengembangan perangkat ajar hendaknya berpedoman pada Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) yang tercantum dalam Lampiran I dan Lampiran II Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.
2. Pengembangan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)
Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) merupakan pengorganisasian tujuan pembelajaran secara sistematis agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang berkesinambungan.
Dalam mengembangkan ATP ABS-SBK Fase A, guru perlu memperhatikan urutan dan hubungan antartujuan pembelajaran.
Rekomendasi untuk kelas I
ATP dapat dikembangkan berdasarkan lima TP resmi:
Mengenal Minangkabau.
Mengenal Rumah Gadang.
Mengenal sopan santun ketika menjawab pertanyaan.
Mengenal sopan santun pada saat duduk.
Mengenal permainan.
Rekomendasi untuk kelas II
ATP dapat dikembangkan berdasarkan tujuh TP resmi:
Mengenal Kato Nan Ampek.
Mengenal sopan santun saat berbicara dan berpakaian.
Mengenal sopan santun ketika bepergian.
Mengenal sopan santun saat bertamu.
Mengenal sopan santun pada saat makan.
Mengenal saling mencintai dan menghormati sesama manusia.
Mengenal pantun tradisional adat Minangkabau.
Urutan tersebut dapat menjadi dasar perencanaan. Guru tetap perlu memperhatikan hubungan materi, kesiapan peserta didik, serta pengaturan waktu pembelajaran.
3. Pengembangan Modul Ajar
Modul ajar membantu guru merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran secara terarah.
Modul ajar ABS-SBK Fase A sebaiknya memuat:
Identitas pembelajaran.
Capaian Pembelajaran.
Tujuan Pembelajaran.
Indikator ketercapaian tujuan.
Materi pembelajaran.
Pertanyaan pemantik.
Media dan sumber belajar.
Langkah kegiatan pembelajaran.
Asesmen dan tindak lanjut.
Refleksi guru dan peserta didik.
Dalam penyusunannya, guru perlu memastikan bahwa kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati, memahami, mencoba, dan merefleksikan pengalaman belajar.
Modul ajar tidak harus panjang atau rumit. Hal yang terpenting adalah kesesuaian antara tujuan, kegiatan, dan asesmen.
4. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan salah satu sarana untuk membantu peserta didik belajar secara aktif.
Pada Fase A, LKPD sebaiknya menggunakan gambar yang jelas, petunjuk singkat, dan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan membaca serta menulis anak.
Contoh LKPD kelas I
Materi: Rumah Gadang.
Kegiatan:
Mengamati gambar Rumah Gadang.
Melingkari gambar Rumah Gadang di antara beberapa gambar rumah.
Menebalkan tulisan RUMAH GADANG.
Mewarnai gambar Rumah Gadang.
Menceritakan hasil pekerjaan kepada guru.
Contoh LKPD kelas II
Materi: Sopan Santun Saat Bertamu.
Kegiatan:
Mengamati gambar perilaku bertamu.
Memberi tanda pada perilaku yang santun.
Mengurutkan gambar kegiatan bertamu.
Memasangkan situasi dengan ungkapan yang sesuai.
Mempraktikkan tata krama bertamu bersama teman.
LKPD hendaknya tidak hanya berisi latihan tertulis, tetapi juga dapat mengarahkan peserta didik pada kegiatan pengamatan, praktik, dan refleksi.
5. Pengembangan Media Pembelajaran
Media pembelajaran berfungsi membantu peserta didik memahami materi melalui pengalaman yang lebih konkret.
Guru dapat mengembangkan media sederhana seperti:
a. Kartu gambar
Digunakan untuk mengenalkan Rumah Gadang, permainan tradisional, dan contoh perilaku santun.
b. Kartu percakapan
Digunakan untuk mempraktikkan Kato Nan Ampek dan sopan santun menjawab pertanyaan.
c. Gambar berseri
Digunakan untuk menjelaskan urutan tata krama bertamu, bepergian, dan makan.
d. Video pembelajaran pendek
Digunakan untuk memperlihatkan contoh kegiatan budaya atau praktik tata krama yang sesuai dengan usia peserta didik.
e. Alat permainan tradisional
Digunakan untuk memperkenalkan permainan anak nagari sekaligus membangun kerja sama dan sportivitas.
f. Kartu pantun
Digunakan untuk mengenalkan pantun tradisional Minangkabau melalui kegiatan membaca, mendengarkan, dan melengkapi pantun.
Media yang digunakan tidak harus mahal. Guru dapat memanfaatkan bahan sederhana serta sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekolah dan nagari.
6. Pengembangan Instrumen Asesmen
Instrumen asesmen perlu disusun berdasarkan tujuan pembelajaran dan bukti belajar yang ingin diamati.
Pada Fase A, guru dapat menggunakan:
Lembar observasi.
Daftar cek perkembangan.
Rubrik unjuk kerja.
Catatan anekdot.
Penilaian hasil karya.
Pertanyaan lisan.
Refleksi sederhana.
Sebagai contoh, untuk TP kelas I tentang sopan santun ketika menjawab pertanyaan, guru dapat mengamati kemampuan peserta didik mendengarkan pertanyaan, menggunakan ungkapan santun, dan menghargai lawan bicara.
Sementara itu, untuk TP kelas II tentang sopan santun bertamu, asesmen dapat dilakukan melalui permainan peran.
Instrumen asesmen hendaknya mudah digunakan, memberikan informasi yang bermanfaat, serta tidak menimbulkan tekanan berlebihan kepada peserta didik.
7. Pengembangan Bahan Bacaan dan Cerita Bergambar
Cerita bergambar dapat menjadi media yang efektif untuk mengenalkan nilai-nilai ABS-SBK kepada peserta didik kelas I dan II.
Cerita hendaknya menggunakan bahasa sederhana, tokoh yang dekat dengan kehidupan anak, serta peristiwa yang mudah dipahami.
Contoh tema cerita kelas I
Aku Mengenal Rumah Gadang.
Buyuang Menjawab Pertanyaan Guru.
Upiak Belajar Duduk Sopan.
Bermain Bersama Teman.
Contoh tema cerita kelas II
Buyuang Belajar Kato Nan Ampek.
Upiak Bertamu ke Rumah Nenek.
Makan Bersama Keluarga.
Menghormati Teman.
Pantun untuk Sahabat.
Melalui cerita, guru dapat mengajak peserta didik mengidentifikasi perilaku tokoh, menyampaikan pendapat, dan menghubungkan pesan cerita dengan pengalaman sehari-hari.
8. Pemanfaatan Teknologi Digital
Teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai pendukung pembelajaran ABS-SBK.
Guru dapat menggunakan presentasi bergambar, rekaman suara, video pendek, atau permainan edukatif sederhana.
Namun, penggunaan teknologi harus mempertimbangkan usia peserta didik, ketersediaan sarana, keamanan, dan kesesuaian isi dengan nilai-nilai adat serta ajaran agama.
Teknologi sebaiknya memperkaya pengalaman belajar, bukan menggantikan interaksi langsung, keteladanan guru, dan kegiatan praktik.
9. Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Masyarakat Nagari
Pengembangan perangkat ajar ABS-SBK akan lebih bermakna apabila melibatkan lingkungan keluarga dan masyarakat.
Guru dapat bekerja sama dengan orang tua, tokoh adat, pelaku seni tradisional, dan narasumber budaya setempat.
Contohnya:
Orang tua berbagi cerita tentang permainan masa kecil.
Tokoh masyarakat memperkenalkan Rumah Gadang dan tradisi setempat.
Pelaku seni memperagakan pantun atau permainan tradisional.
Guru mengembangkan bahan ajar berdasarkan lingkungan nagari.
Kolaborasi tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan kondisi satuan pendidikan.
10. Penguatan melalui Kelompok Kerja Guru
Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat menjadi wadah bagi guru untuk mengembangkan perangkat ajar ABS-SBK secara bersama-sama.
Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
Mengkaji CP dan TP resmi.
Menyusun dan menelaah ATP.
Mengembangkan modul ajar.
Membuat LKPD dan media pembelajaran.
Menyusun instrumen asesmen.
Melaksanakan berbagi praktik baik.
Melakukan refleksi dan perbaikan perangkat ajar.
Melalui kerja sama tersebut, guru dapat saling belajar dan menghasilkan perangkat ajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
11. Menjaga Ketepatan Materi dan Nilai Budaya
Dalam mengembangkan perangkat ajar ABS-SBK, guru perlu memperhatikan ketepatan istilah, materi, serta nilai-nilai adat yang disampaikan.
Guru sebaiknya tidak hanya mengandalkan gambar atau informasi dari internet tanpa memeriksa kesesuaiannya dengan budaya Minangkabau.
Apabila terdapat perbedaan praktik adat antarnagari, guru perlu menjelaskan bahwa perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan prinsip adat salingka nagari.
Perangkat ajar juga perlu disusun dengan memperhatikan falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga tepat secara materi dan bermakna secara pendidikan.
12. Rekomendasi untuk Satuan Pendidikan
Agar pengembangan perangkat ajar berjalan dengan baik, satuan pendidikan disarankan untuk:
Memastikan guru memahami CP dan TP resmi.
Memfasilitasi pengembangan perangkat ajar secara kolaboratif.
Menyediakan sumber belajar yang sesuai.
Mendukung penggunaan lingkungan nagari sebagai sumber pembelajaran.
Melaksanakan telaah terhadap kesesuaian bahan ajar.
Mendorong refleksi dan perbaikan pembelajaran secara berkala.
Penggunaan bahan ajar perlu memperhatikan ketentuan persetujuan kepala satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026.
13. Penutup
Pengembangan perangkat ajar ABS-SBK Fase A merupakan langkah penting dalam mewujudkan pembelajaran muatan lokal yang terarah, bermakna, dan sesuai dengan perkembangan peserta didik.
Melalui ATP, modul ajar, LKPD, media pembelajaran, dan instrumen asesmen yang tepat, guru dapat membantu peserta didik mengenal adat dan budaya Minangkabau melalui pengalaman yang menyenangkan.
Perangkat ajar yang baik bukan hanya memudahkan guru mengajar, tetapi juga membantu anak memahami nilai-nilai yang akan menjadi pedoman perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
“Perangkat ajar yang bermutu bukan sekadar kumpulan dokumen pembelajaran, melainkan jembatan yang menghubungkan ilmu, nilai adat, keteladanan, dan pengalaman hidup peserta didik.”
J. Penutup dan Rekomendasi Implementasi Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK Fase A SD/MI
1. Penutup
Pendidikan Muatan Lokal Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) merupakan salah satu upaya penting dalam mewariskan nilai-nilai luhur adat dan budaya Minangkabau kepada generasi penerus.
Pada Fase A, yaitu kelas I dan II SD/MI, pembelajaran ABS-SBK memiliki kedudukan strategis karena dilaksanakan pada masa ketika peserta didik mulai membentuk kebiasaan, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, serta memahami hubungan antara dirinya dengan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Melalui Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar telah memberikan landasan bagi penyelenggaraan pendidikan muatan lokal yang lebih terarah.
Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran yang tercantum dalam lampiran peraturan tersebut menjadi pedoman bagi guru dalam mengembangkan kegiatan belajar sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Pada kelas I, pembelajaran diarahkan pada pengenalan Minangkabau, Rumah Gadang, sopan santun ketika menjawab pertanyaan, sopan santun duduk, dan permainan.
Sementara itu, pada kelas II, pembelajaran dikembangkan melalui pengenalan Kato Nan Ampek, sopan santun berbicara dan berpakaian, bepergian, bertamu, makan, saling mencintai dan menghormati sesama manusia, serta pantun tradisional Minangkabau.
Materi tersebut perlu diajarkan melalui pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan kegiatan yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membangun pemahaman dan kebiasaan berperilaku baik.
Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran ABS-SBK tidak semata-mata diukur dari kemampuan peserta didik menyebutkan istilah adat, tetapi juga dari perkembangan kesadaran, sikap, dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Rekomendasi bagi Guru
Guru merupakan tokoh utama dalam pelaksanaan pembelajaran ABS-SBK di sekolah.
Oleh karena itu, guru diharapkan:
Memahami Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran resmi sebelum menyusun perangkat ajar.
Mengembangkan pembelajaran sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas I dan II.
Mengutamakan keteladanan dan pembiasaan nilai-nilai adat.
Menggunakan cerita, gambar, permainan, praktik, dan pengalaman langsung sebagai sumber belajar.
Menerapkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Menggunakan asesmen untuk membantu perkembangan peserta didik, bukan sekadar memberikan nilai.
Menghargai kekhasan adat salingka nagari dalam pengembangan materi.
Guru hendaknya menjadi teladan dalam berbicara, bersikap, berpakaian, menghormati orang lain, dan melaksanakan tata krama sehari-hari.
Sebab, peserta didik tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan guru, tetapi juga dari perilaku yang diperlihatkan guru.
3. Rekomendasi bagi Kepala Satuan Pendidikan
Kepala SD/MI memiliki peranan penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan kurikulum muatan lokal.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Memfasilitasi guru untuk memahami ketentuan kurikulum ABS-SBK.
Mendukung penyusunan ATP, modul ajar, LKPD, dan instrumen asesmen.
Memastikan tersedianya waktu pembelajaran sesuai bentuk penyelenggaraan yang dipilih.
Mendukung penggunaan lingkungan sekolah dan nagari sebagai sumber belajar.
Memfasilitasi kerja sama dengan orang tua dan tokoh masyarakat.
Melaksanakan pendampingan, pemantauan, dan refleksi pembelajaran secara berkala.
Kepala satuan pendidikan juga perlu memastikan bahwa bahan ajar yang digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4. Rekomendasi bagi Kelompok Kerja Guru
Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat menjadi wadah pengembangan profesional guru dalam melaksanakan Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK.
Melalui kegiatan KKG, guru dapat:
Mengkaji CP dan TP secara bersama-sama.
Mengembangkan Alur Tujuan Pembelajaran.
Menyusun modul ajar dan LKPD.
Membuat media pembelajaran berbasis budaya Minangkabau.
Mengembangkan instrumen asesmen.
Berbagi pengalaman dan praktik baik.
Melakukan telaah terhadap ketepatan materi adat.
Kerja sama antarguru diharapkan menghasilkan perangkat pembelajaran yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
5. Rekomendasi bagi Orang Tua dan Masyarakat Nagari
Pendidikan adat tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mengenal bahasa, tata krama, kebiasaan, dan nilai-nilai kehidupan.
Oleh karena itu, orang tua diharapkan memberikan keteladanan dalam berbicara santun, menghormati orang lain, menerima tamu, makan, serta berinteraksi dalam keluarga.
Masyarakat nagari juga dapat berperan sebagai sumber belajar melalui pengenalan Rumah Gadang, permainan tradisional, pantun, dan kebiasaan adat yang masih hidup.
Kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat akan membantu peserta didik melihat bahwa nilai-nilai yang dipelajarinya di sekolah juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
6. Rekomendasi bagi Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan
Agar pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK berjalan secara berkelanjutan, diperlukan dukungan dari pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan.
Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui:
Penguatan kompetensi guru dalam pembelajaran ABS-SBK.
Penyediaan bahan ajar dan media pembelajaran yang sesuai dengan CP dan TP.
Pendampingan penyusunan perangkat ajar.
Pengembangan sumber belajar berbasis adat salingka nagari.
Pelibatan tokoh adat, ulama, budayawan, dan praktisi pendidikan.
Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara berkala.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu sekolah melaksanakan pembelajaran ABS-SBK secara lebih terarah, konsisten, dan berkelanjutan.
7. Menjadikan ABS-SBK sebagai Budaya Sekolah
Pembelajaran ABS-SBK sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan di ruang kelas.
Nilai-nilai yang dipelajari perlu diperkuat melalui budaya sekolah, seperti:
Membiasakan salam dan sapaan santun.
Menghargai guru, teman, dan warga sekolah.
Menjaga tata krama berbicara.
Membiasakan duduk dan makan dengan tertib.
Menghormati tamu.
Menjaga kebersihan dan ketertiban.
Membiasakan kerja sama dan saling membantu.
Pembiasaan tersebut hendaknya dilaksanakan melalui keteladanan, pendampingan, dan penguatan positif.
Dengan demikian, nilai-nilai ABS-SBK tidak hanya hadir dalam buku pelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sekolah.
8. Harapan untuk Generasi Minangkabau
Generasi Minangkabau masa depan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan menghadapi perkembangan zaman, tetapi juga memiliki jati diri budaya dan akhlak yang mulia.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai kehidupan.
Falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah hendaknya dipahami sebagai landasan nilai yang membimbing manusia untuk menjalani kehidupan dengan berpedoman pada ajaran Islam serta menjunjung tinggi adat dan budaya Minangkabau.
Melalui pendidikan sejak Fase A, diharapkan tumbuh generasi yang mampu menghargai warisan budaya, menghormati sesama, menjaga tata krama, dan menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
9. Pesan Penutup
Pendidikan adat bukan sekadar usaha mengenalkan masa lalu kepada anak-anak, melainkan ikhtiar menyiapkan masa depan yang memiliki akar budaya dan landasan akhlak yang kuat.
Rumah Gadang yang diperkenalkan hari ini dapat menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya.
Kata-kata santun yang dibiasakan hari ini dapat membentuk pribadi yang menghormati sesama.
Permainan tradisional yang dimainkan hari ini dapat menumbuhkan kebersamaan dan sportivitas.
Pantun yang didengarkan hari ini dapat menjadi pintu masuk bagi kecintaan terhadap bahasa dan sastra Minangkabau.
Semua pengalaman sederhana tersebut merupakan bagian dari proses panjang pembentukan karakter peserta didik.
“Jangan sampai anak-anak kita mengenal kemajuan dunia, tetapi kehilangan akar budayanya; jangan sampai mereka menguasai ilmu pengetahuan, tetapi melupakan adab dan akhlak dalam kehidupan.”
Melalui Kurikulum Muatan Lokal ABS-SBK, marilah kita bersama-sama menjaga kesinambungan pewarisan nilai-nilai luhur Minangkabau.
Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah.
Syara' mangato, adat mamakai.
Alam takambang jadi guru.
Semoga ikhtiar pendidikan ini menjadi amal yang bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Referensi Utama
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. (2026). Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 13 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal, beserta Lampiran I tentang Capaian Pembelajaran dan Lampiran II tentang Tujuan Pembelajaran.
Komentar
Posting Komentar